Pagi itu Devon ragu-ragu membuka kamar rawat inap Davina. Perasaan bersalah terus menghantuinya. Akibat kebodohannya, istrinya harus tersakiti dan calon bayi mereka menjadi korban. Ini semua salahnya. Apa dia masih punya muka untuk menghadapi Davina dan mertuanya? Pintu di hadapannya tiba-tiba membuka. Devon terkejut dan menemukan ayah mertuanya tengah berdiri di hadapannya. “Oh, kamu sudah sampai. Ayo masuk, Dev. Papa mau cari sarapan untuk Mama. Kamu sudah sarapan?” Melihat sikap biasa yang ditunjukkan ayah mertuanya membuat Devon semakin merasa bersalah. “Hmm... Papa ajak Mama sarapan di luar aja dulu, sekalian istirahat. Biar aku yang sekarang jagain Davina,” kata Devon. Sejujurnya ia sendiri juga belum sarapan. Tapi Devon sama sekali tidak berselera makan. “Devon udah datang ya?”

