Setelah makan siang, mereka berdua akhirnya memutuskan untuk langsung pergi ke vila dan menikmati pemandangan puncak gunung Rinjani di sore hari. Jalanan menuju vila di lereng gunung Rinjani agak berkelok-kelok karena harus membelah hutan. Bahkan Meisya yang biasanya tidak mudah mabuk kendaraan mulai merasa pusing. "Kamu kenapa Sayang?" Ando merasa agak khawatir melihat istrinya yang sedari tadi tampak agak pucat tampak memejamkan matanya. Pria itu membawa Meisya bersandar pada bahunya. Mengelus dengan pelan rambut istrinya saat menyadari kalau kondisi Meisya tampak tidak baik-baik saja. "Gak tau Mas, pusing aku. Kayaknya aku mabuk kendaraan karena jalannya berkelok-kelok gini." Ando benar-benar merasa tidak tega melihat kondisi Meisya yang lemas dan tidak bersemangat seperti tadi sa

