Berjalan di lorong sekolah, buat langkahnya lebih pelan dari biasanya. Siang ini Nadira tidak begitu senang, mengingat esok adalah jadwal pelajaran matematika. Lebih lanjut tentang kondisi hati yang sedang tidak baik. Dengan mengungkapkan wajah yang datar, tidak ada senyum yang dikeluarkan di wajahnya. Kondisi ini membuat kesal, berjalan cukup jauh dari kelas menuju gerbang. Jika ada kelas kosong di dekat lobi, kenapa harus menggunakan kelas yag ada di belakang. Harus melewati lorong lebih dulu, melewati kelas-kelas spi tak berpenghuni. Sungguh ia ingin protes tapi apadaya ia bukan siapa-siapa di sini. “Woi! Murung terus lo. " Maura merangkul nya dari belakang, Nadira tidak menangkap Maura di belakangnya. Itu sebabnya dia melonjak kaget saat ada yang melihat merangkulnya. "Ya ampun, Ra.

