KONON katanya, orang yang sedang menumpuk rindu terlalu besar tidak bisa membedakan mana kenyataan dan mana sebuah halusinasi. Itulah yang dirasakan Jeha ketika matanya terbuka, masih di ranjang yang sama saat terakhir kali dirinya tidur. Perbedaannya yang tadi Jeha sendirian, sedangkan sekarang ia melihat Sergio terbaring miring menghadapnya, sedang menatap teduh dirinya. “Mas Ser!” Jeha menjerit histeris sambil bangun dari tidurnya. Sergio ikut terduduk di sampingnya, merengkuh pundak Jeha dan memberinya kehangatan berupa pelukan. Jeha masih tidak percaya dengan apa yang dilihat dan dirasakannya saat ini, rasanya mustahil tapi jika ini mimpi sekalipun maka Jeha akan menganggapnya sebagai mimpi terindah. “Aku merindukanmu.” Jeha terisak sambil menyerukkan wajahnya ke tubuh Sergio. “Jan

