Part 7

576 Kata
"Tidak! Mungkin maksud kalian hajatan di rumah Airin." Pengkuan Veni membuat semua orang terkejut. "Apa?" Sontak, mereka tertawa, sambil menggelengkan kepala masing-masing, pertanda tidak habis pikir. "Yang benar saja," kata Mbak Kania di sela-sela tawanya. Hal tersebut jelas menambah kebingungan Veni. Wanita itu menatap aku seolah sedang berusaha mencari jawaban. "Apa ada yang lucu?" Veni bertanya. Mungkin ia merasa aneh dengan sikap orang-orang. "Anda lucu sekali." "Apanya yang lucu, toh aku berkata ..." "Majikanku memang sangat baik makanya di berkata begitu, karena selama ini aku lah yang tinggal di rumahnya selama beliau keluar kota." Kupotong perkataan Veni cepat sambil mengedipkan mata. Memberikan isyarat pada wanita itu agar mengiyakan apa yang aku katakan. "Benar kan, Buk Venia Ghutomo?" Wanita itu menganggukkan kepalanya meski merasa ragu. "Owalah Buk, anda sudah melakukan hal yang salah, hati-hati loh, dia bukan wanita baik-baik." Mbak Kania berbisik namun aku masih bisa mendengarkan bisikannya dengan jelas. "Ya, kami tidak ingin, Buk Venia merasakan hal yang sama seperti kami. Orang asing kaya gitu nggak bisa dipercaya. Buktinya dia ga punya keluarga kan? Ha ha ha. Ibu bapaknya saja tidak jelas siapa, pasti anaknya juga ikutan tidak jela ...." Plakk! Semua orang terkejut saat melihat apa yang aku lakukan pada Erina—istri Mas Abas. Suara tamparan itu terdengar keras dan pasti saja sakit. Ibu melonggo, mulutnya terbuka. Mungkin masih tidak percaya bahwa aku bisa seberani ini. "Kenapa? Kalian pikir aku takut?" tanyaku. "Kupastikan kalian akan menyesal." Setelah mengatakan itu aku langsung pergi. Menarik tangan Veni agar wanita itu juga menjauh dari sana. ** "Serius kamu?" Veni terkejut bukan main. Wanita itu menatapku tidak percaya. "Mereka ipar dan mertuamu?" tanya Veni. Aku menganggukkan kepalaku. Sedangkan Veni menggelengkan kepalanya pelan. "Parah-parah." "Yang mereka tau kau masih miskin? Ha ha ha," Beberapa saat kemudian Venia tertawa keras. Mungkin ia sedang menertawai kebodohan keluarga suamiku. "Balas dendam saja, Rin. Buat mereka menyesal," kata Veni. Aku terssenyum. "Aku sudah merencanakan itu bersama Mas Daffa. Mereka tidak tahu bahwa hajatan yang akan mereka hadiri nanti merupakan hajatan yang kami adakan, yang mereka ketahui, hajatan itu milik orang kaya tempat kami bekerja." "Itu doang kejutannya?" tanya Venia. Aku menganggukkan kepalaku pelan. "Kalau itu saja tidak cukup, Airin. Aku punya ide lain, kau mau dengar?" Wanita itu mengatakan sesuatu padaku yang membuat kedua bola mataku melotot. "Ven!" "Kenapa? Kamu kurang setuju?" tanya wanita itu. "Ah, terima kasih Veni. Jelas aku setuju. Terimakasih, sungguh aku tidak sabar." *** 20.15 Aku tiba di rumah, mengucapkan terima kasih pada Veni karena sudah sudi menjemput dan mengantarku. Walau pun sebenarnya kepergian kami tadi merupakan kepentingannya. Namun tetap saja. Saat kakiku memasukki gerbang. Mataku sudah tertuju pada Mas Daffa yang berdiri di teras rumah bersama Aqilla—anak kami. "Mas ada apa?" tanyaku. Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatapku dingin. Menarik tangan ini agar menuju ke arah garasi. Setelah membukakan pintu mobil dan menyuruhku untuk masuk, dia pun akhirnya juga masuk dan duduk di bangku kemudi. "Ada apa sih, Mas!" tanyaku. "Mereka meminta kita untuk hadir di acara makan malam," jelas Mas Daffa. Aku langsung mengerti. Kulirik ponsel yang sejak tadi aku abaikan. Dan benar saja sudah banyak pesan grup. [Ayolah Airin, mari dinner bersama kami. Ibu rindu pada Aqilla,] [Rasanya tidak lengkap jika tidak ada Daffa dan istrinya.] [Jika mereka tidak hadir makan malam bersama kita, yasudah ibu pulang saja sekarang. Anak-anak ibu tidak menghargai ibu.] Aku semakin bingung dengan pesan, ada apa ini? Bersambung .... Jangan lupa komen ya biar part selanjutanya menyusul cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN