Part 6

554 Kata
[Aduh. Oke kalau ke sana kami datang kok. Sekalian ingin mempermalukanmu ha ha.] pesan terakhir dari Mbak Kania membuat aku hampir tertawa. "Nanti kita lihat, siapa yang mempermalukan siapa." [wah, benar kata Mbak kania, seru sekali jika kita ke acara mewah itu dan mempermalukan Airin.] [Bagus, sih. Biar tau diri sedikit biar nggak ngaku-ngaku lagi.] Aku hanya mengidikkan bahu saat membaca pesan mereka. Tidak peduli sama sekali. Ini H-3 sebelum acara. Tapi rumah kamu sudah ramai saja. Para oendekor sudah mulai melakukan kerjaanya karena memang yang harus di dekor lumayan luas. Dan tidak cukup waktu sehari. Para katering juga sudah hadir membawa meralatan-peralatan mereka, mulai dari piring, sendok, gelas dan banyak benda lainnya yang akan mereka butuhkan nanti, sedangkan menu makanan akan menyusul pada pagi hari H. Aku sudah berjanji dengan Veni untuk menemani dia belanja di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Jadi karena dia yang mengajak, aku hanya perlu menunggu di jemput oleh temanku itu yang tidak lain adalah istri boss di perusahaan tempat Bang Abas bekerja. Sekaligus perusahaan terdapat saham milik suamiku. *** Karena memang malas berdandan. Aku hanya menggunakan baju santai serta tas selempang kecil yang hanya muat dimasukkan ponsel dan dompet. Berbeda dengan Veni. Wanita itu menghunakan pakaian dari brand-brand ternama, sepatu high heels yang menutupi permukaan kakinya dengan sempurna, serta rambut yang diikat. Tidak lupa kaca mata yang menenteng di atas kepalanya. "Rin, tolong pegang bentar, aku mau angkat telpon," Veni menyerahkan begitu banyak belanjaannya padaku. Dan mulai mengankat telpon dari seseorang. Wanita itu sedikit menjauh, jadi aku memilih untuk berdiri bersandar pada dinding. "Demi apa? Ketemu Airin?" Aku terkejut saat ada seseorang yang menyebut namaku. Menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya aku saat melihat semua bernalu itu ada di sini sekarang. "Itu majikan kamu?" tanya ibu sambil menatap Aku dan Veni yang berdiri sedikit jauh bergantian. Aku hanya tersenyum menanggapi mereka semua. "Kalian sedang apa di sini?" tanyaku sedikit penasaran. Pasalnya dari kampung ke pusat kota harus menempuh 4 sampai 5 jam perjalanan. "Kan tiga hari lagi kami dapat undangan dari majikan kamu, jadi kami datang lebih awal dan menginap di hotel. Biasalah pun duit kami banyak jadi tidak malasah sambil liburan ke sini." Aku ingin menertai mereka semua. Begitu berlebihan menurutku. "Ooo," jawabku santai. "Kan benar, sudah jelas-jelas kamu miskin dan bekerja pada wanita kaya itu, tapi masih saja soksoan jadi orang kaya." Ucap ibu. Aku hanya diam saja tidak menganggapi mereka. "Ngomong-ngomong bajumu bagus, pasti bekas majikanmu itu kan? Ha ha ha, lumayan sih. Bisa palek baje orang kaya walau bekas." Mbak Kania berujar sambil tersenyum mengejek. Veni mendekat membuat para benalu-benalu itu berlomba untuk bisa menyalami tangan Veni. "Siapa ini, Rin?" tanya Veni sambil menatapku bingung. "Ini keluar ...." "Mantan majikan Airin." Belum sempat aku menjawab, Mbak Kania sudah memotong dengan jawaban sedemikian rupa membuat Veni terkejut. "Bagaimana sekarang pekerjaannya? Dulu sih nggak becut, mending di pecat saja, bukan apa ya, dulu emas kami sering hilang." Mataku membulat sempurna. Berani sekali mereka memgitnahku dengan hal yang tidak-tidak. Ini sudah keterlaluan menurutku. "Mending cari art lain. Saya bisa bantu carikan jika kamu mau?" Veni berusaha menggelengkan kepalanya. "Ngomong-ngomong kami tamu undangan hajatan mewah anda," ucap ibu. Veni menilikku. "Tidak! Mungkin maksud kalian hajatan di rumah Airin." Pengkuan Veni membuat semua orang terkejut. "Apa?" Bersambung .... Jangan lupa komen biar part selanjutnya menyusul cepat
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN