Part 5

697 Kata
[Have fun yah kalian, jangan sampai terkena serangan jantung nanti.] balasku dengan disertai emoji tertawa ngakak. Kemudian aku memilih tidur saja. Ah, tidak sabar rasanya menunggu 7 hari lagi. Aku penasaran bagaimana wajah mereka nantinya. Pasti akan sangat menyenangkan. Beberapa saat kemudian aku benar-benar terlelap masuk ke alam bawah sadar dengan senyuman yang masih terukir di kedua sudut bibirku. *** "Semua persiapan sudah selesai, Rin. Bahkan hanya dalam satu hari aku berhasil mengatur segalannya." Suamiku berujar sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa. Aku terdiam, entah kenapa sejak tadi pikiranku terus saja menerawang percakapan ipar-ipar dan mertuaku di grup keluarga. "Mas!" Sebenarnya aku ragu jika harus menyampaikan hal ini, dikarenakan sudah beberapa kali Mas Daffa menyuruh aku agar keluar dari grup berjudul keluarga tapi berwujudkan Bullying itu. Pun, yang Mas Daffa tau aku memang sudah tidak ada lagi di grup itu. Sedangkan suamiku sudah keluar dari sana beberapa tahun yang lalu. Saat saudara-saudaranya dengan tampa ampun membully kami. Namun berbeda denganku, aku malah dengan senang hati menikmati bullyan yang menurutku bergitu menyenangkan. "Kenapa diam saja, ada apa?" tanya pria itu sambil menatap lekat kedua manik mata coklat tua milikku. "Grup keluarga," kataku sambil menyodorkan benda persegi itu pada Mas Daffa. Pria itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun, pelan dan khimat pria itu menggeserkan layar ponselku ke atas dan membacanya. "Mas, aku boleh tanya?" tanyaku dan sontak di balas dengan anggukan cepat. "Kenapa kamu mengundang karyawan-karyawan di perusahaan itu?" tanyaku. Mas Daffa nampak tersenyum. Tidak ini bukan senyuman kesenangan melainkan senyuman devils, senyuman yang menurutku menyimpan misteri. "Biar keluargaku mati kutu dan tekejut saat mengetahi siapa aku." Aku semakin bingung dengan pernyataan yang keluar dari mulutnya. Ku tatap wajahnya sembari menodongkan pertanyaan. "Rencana apa lagi ini, Mas?" "Ini bukan rencana, Sayang, tapi ini Startegi," ucapnya. "Aku yakin, mereka akan sangat sulit menghadiri hajatan kita karena mereka menganggap kita semiskin itu. Tapi mereka tidak akan pernah melewatkan hajatan mewah yang bernotabet diundang langsung oleh pemilik sebagaian saham tempat Bang Abas bekerja." "Itu sebabnya aku mengundang seluruh ahli keluarga." Sahut Mas Daffa lagi. "Tugasmu, tiga hari sebelum acara, bagikan undangan online ke grup. Ini merupakan kejutan pertama." Aku menatap kedua mata suamiku dalam. Ya, hanya ada dendam dan kebencian di sana terpancar untuk keluargannya. Sejak usia 20 tahun ia di bully oleh keluarganya dikarenakan tidak bergelar sarjana. Bullyan itu semakin bertambah dikala Mas Daffa memutuskan untuk menikahi aku, si gadis miskin yang hidup sebatang kara. Itu sebabnya setelah menikah kami memutuskan untuk pergi dari rumah, merantau ke kota dan bekerja pada orang kaya. Saat itu Mas Daffa bekerja sebagai karyawan di salah satu toko bangunan dan aku bekerja sebagai art. Selama merantau, Mas Daffa sering menghubungi ibu dan saudara-saudaranya namun, tidak ada yang melayani Mas Daffa. Aku ingat betul kala itu ia mengirimkan pesan untuk ibu berupa. "Ibu anakmu baik-baik saja di sana." Tapi balasan ibu sungguh-sungguh menyakitkan. "Jika belum kaya berarti kau bukan anakku." Begitu balasannya. Aku penasaran apakah sikap ibu akan berubah saat mengetahui kami sudah hidup berkecukupan? **** [Datang, ya.] pesan yang aku kirimkan pada grup keluarga disertai sebuah undangan yang disertai denah. Di sana terlihat jelas nama jalan, nama kompleks dan nomor rumah. [Ini perumahan orang kaya,] kata Mbak Ghita sambil mention penghuni grup yang lain. Tidak benarapa lama, pesanku benar-benar diserbu oleh mereka semua. [Kamu mimpi atau bagaimana, ngidam jadi orang kaya ya?] [Bahkan di kompleks itu kagak ada rumah satu lantai, apalagi rumah kontrakan ha ha ha.] Erina terlihat senang mengejek. [Airini ... Airini. Padahal kami sudah mengatakan bahwa tidak bisa hadir di acara orang miskin sepertimu. Malah soksoan bikin undangan palsu seolah-olah kamu kaya. Kau tidak perlu membujuk kami sampai segitunya.] Ibu membalas. Wanita itu baru saja muncul. [Eh, tunggu, sepertinya ini alamat yang sama dengan undangan yang diberikan oleh atasan Mas Abas.] Erina menyadari hal itu. Tidak berapa lama, semua penghuni grup mengirimkan stiker tertawa. Tidak terkecuali. Bahkan mereka seperti merencankan hal itu. [Kebetulan sekali. Tenyata kau Art di rumah itu.] [Airin seharunya kau perjelas dari awal bahwa yang syukuran itu majikanmu.] [Aduh. Oke kalau ke sana kami datang kok. Sekalian ingin mempermalukanmu ha ha.] pesan terakhir dari Mbak Kania membuat aku hampir tertawa. "Nanti kita lihat, siapa yang mempermalukan siapa." Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN