Suasana mati listrik tiba-tiba tambah seram saat terdengar suara angin dan hujan datang.
"Maaas!" Aku terus memanggil Mas Baim dengan suara gemetar. Suasana gelap di sekitar membuatku makin takut.
"Ada apa, Ra?" Terdengar suara Mas Baim dari dalam kamar.
Suara itu bagaikan oase di gurun pasir yang menenangkan hatiku (eaa, eaa, eaaaa).
"Maaas! Listrik mati! Rara takuut! Jemput Rara, Maaas!" teriakku. Aku berharap suamiku itu datang lalu menggendong ke kamar kayak di dongeng-dongeng princes. Tapi ternyata dia diam saja. Uh dasar, Mas Baim. Nggak peka amat sih!
Aku pun berusaha jalan sendiri ke kamar. Gubrak! Tiba-tiba aku jatuh menindih tubuh seseorang yang juga terkapar. Sepasang tangan kekar memelukku. Aku gembira, udah pasti ini Mas Baim.
"Mas, ini Mas Baim ya?" tanyaku senang.
Suara berat di bawahku menjawab. "Aku bukan Baim. Aku genderuwo."
"Aaaaargh!" aku langsung menjerit berusaha melepaskan diri.
"Eeh, eeeh, bercanda Rara! Iya aku Baim, hahahaha." Terdengar suara dari orang yang di bawahku.
"Uuh, Mas Baim, bikin Rara takut aja!" seruku.
"Minggir," kata Mas Baim sambil menggeser tubuhku.
Seketika tubuh yang tadi kupeluk hilang.
"Eeeh, eeeh, Mas Baim di mana? Jangan tinggalin Rara, Mas!" teriakku takut sambil menggapai-gapai mencari tubuh Mas Baim.
Akhirnya kutemukan tubuh tinggi besar itu. Aku memeluknya dari belakang dan terus kuikuti. Tanganku tak lepas memeluknya karena takut. Aku tak tahu tubuh itu membawaku ke mana karena suasana gelap gulita.
"Mas, kita mau kemana?" tanyaku.
Mas Baim diam saja.
Aku terus memeluk dan mengikutinya dari belakang.
Tiba-tiba tubuh yang kuikuti berhenti. Tampak nyala terang di depannya.
"Aku bukan Baim." Sosok itu berbalik. Ia menatapku dengan wajah seram.
"Aaaaargh!" aku menjerit lagi.
"Hahaha, Rara ... Rara, penakut amat sih." Terdengar tawa Mas Baim. Ternyata sosok yang kupeluk memang Mas Baim, tapi dia sengaja menakutiku dengan wajah dijelek-jelekin. Dua bola mata disatuin di tengah sambil lidah menjulur, sinar lilin diletakkan di bawah dagu, kan jadi serem banget.
Tiba-tiba Mas Baim meninggalkanku begitu saja.
"Maaas! Jangan tinggalin Rara!" aku menjerit sambil mengejar Mas Baim.
"Hahaha, penakut amat sih!" tawa Mas Baim. "Tu di belakang apa tu?"
"Aaaargh!" Aku menjerit lagi dan mencengkeram kaos yang dipakai Mas Baim erat-erat.
"Hahaha, Rara ... Rara. Takut ya? Sini Mas gendong!"
Eh, beneran tu aku ditawarin untuk digendong? Ternyata Mas Baim berjongkok di depanku.
"Sini." Dia mengisyaratkan supaya aku naik di punggungnya.
Ragu-ragu aku mengikuti instruksinya. Eh, benar, ia sekarang menggendongku. Nggak nyangka deh laki-laki yang kukenal cuek itu ternyata memperlakukanku so sweet. Dalam gendongan di punggung Mas Baim, aku tiba di kamar. Suamiku itu meletakkan lilin dan memindahkanku ke dipan yang kini tak sempit.
Ia berbaring di sisiku dan tersenyum.
"Takut ya?" tanyanya dengan suara lembut.
Aku mengangguk.
"Ngapain takut? Kan ada aku, suamimu."
Deg deg deg! Tiba-tiba jantungku berdegup kencang. Seolah ada banyak katak melompat dari jantungku.
Mas Baim mendekatkan wajah dan sebuah ciuman lembut mendarat di keningku. Ya ampuuun, kok rasanya gini amat sih. Aku jadi lupa janjiku ke Nana. Ciuman lembut pun kembali mendarat di hidungku. Kupejamkan mata untuk menikmati semua itu.
Tiba-tiba lantai bergetar, dinding bergetar, terdengar suara fales membahana dari rumah sebelah ....
Dan kau liiiilin lilin keciil ...
Sanggupkah kau berpijar ...
Sanggupkah kau memberi seberkas cahaya ....
Yaelah ... Tiba-tiba Pak Udin nyanyi keras, mengganggu konsentrasiku sama Mas Baim yang mau so sweet so sweet an. Akhirnya kami nggak jadi ninu-ninu. Sibuk menutup kuping dan menyelamatkan diri dari 'gempa bumi lokal'.
Byar!! Tiba-tiba listrik menyala. Suara Pak Udin berganti suara Mak Lampir di televisi, "Ha haha ha, hahaha."
Seketika aku beranjak ke televisi meninggalkan Mas Baim.
"Mas, kayaknya remotnya macet deh, dari tadi dipencet-pencet nggak bisa," kataku.
"Ya emang baterainya lagi habis, Ra. Harus pakai tombol televisi," jawab Mas Baim sambil mematikan televisi.
"Ayo deh, Ra kita terusin yang tadi!" Kata Mas Baim sambil menggendongku ke kamar.
Tiba-tiba aku ingat janjiku pada Nana. Aku berusaha melepaskan diri. "Mas! Mas! Rara nggak mau!"
Tapi Mas Baim seolah nggak peduli. Tahu-tahu dia sudah memindahkan tubuhku ke dipan sok mesra sama aku. Suara hujan di luar membuat suasana syahdu. Udah deh aku nyerah aja, lupa sama pesan Nana, tapi tiba-tiba ....
Tik! Tik! Tik! Beberapa titik air dari atas jatuh di wajahku. Segera kugeser Mas Baim.
"Duh, Mas! Kayaknya atap bocor deh," kataku.
"Iya, nih," jawab Mas Baim. Kami segera turun dari dipan dan menggesernya supaya tidak basah.
"Kayaknya gentingnya ada yang geser tuh, Mas. Benerin gih!" kataku.
"Males ah, nggak biasa benerin genting," kata Mas Baim.
Dalam hati aku heran. Katanya orang kaya. Kok rumahnya bocor? Dia beneran orang kaya nggak sih? Atau orang kaya jadi-jadian? Atau orang kaya palsu? Dia beneran Baim anak pemilik pabrik rokok terbesar di kotaku itu bukan sih? Aku jadi benar-benar curiga, tapi tak sanggup menanyakanya.
Akhirnya kami sibuk beres-beres karena ada atap yang bocor. Selepas itu aku sama Mas Baim capek banget dan terkapar di dipan. Nggak jadi ninu-ninu. Apa lagi setelah itu gempa bumi lokal terjadi lagi karena Pak Udin nyanyi ....
Yang hujan, turun lagi ....
Di bawah payung hitam kuberlindung ....
Akhirnya aku mulai beradaptasi dengan lingkungan. Telingaku sudah kebal sama suara Pak Udin dan mampu bertahan dengan gempa bumi lokal. Aku sama Mas Baim bisa tidur lelap di tengah alunan lagu Pak Udin.
Paginya saat baru bangun, suamiku berteriak. "Istriku hilaaaang!"
*Bersambung*