"Raraa! Kamu di mana?!" suamiku berteriak.
"Di sini, Mas!" jawabku.
"Di sini mana? Aku buka tutup panci kok kamu ga ada?!"
"Yaelah, emang aku sayur lodeh. Aku di sini, Mas! Di atas!"
"Atas mana? Atas kursi, atas meja, atau atas lemari?!"
Yaelah, kok suamiku anggap aku perabotan sih.
"Aku di atas genting, Mas!"
"Apa??" Terdengar suara kaget suamiku. Tak lama kemudian ia tampak berlari dan melihatku dari bawah.
"Woi, turun, woi! Ngapain di situ?!" teriaknya.
"Ya ampun, Mas. Aku kan di atas genting, ya benerin genting lah! Masak benerin kompor," jawabku.
"Ngapain benerin genting? Turun! Turun! Kalau jatuh gimana?!"
"Ya ampun, Mas. Aku sebagai orang miskin profesional, yang namanya benerin genting tu ketjiiil. Santai aja lah, Mas. Entar beres. Nggak kebocoran kayak tadi malam."
"Yaaa, tapi kan kamu istrikuuu. Masa' benerin genting. Mau ditaruh mana mukakuuu?"
"Taruh mana aja bebas, Mas. Taruh p****t juga nggak apa-apa. Biar pantatnya punya mata, hidung, sama mulut! Hahaha."
"Nggak lucu bener kamu, Ra! Turun! Turun!"
Saat itu tiba-tiba Pak Udin keluar rumah untuk manasin motornya.
"Ada apa, Mas Baim? Kok teriak-teriak?" tanya lelaki umur empat puluh tahunan itu.
"Itu istri saya yang lahir Jumat Kliwon malu-maluin! Masa' benerin genting sendiri!" jawab Mas Baim.
"Ya habis tadi malam bocor, Pak! Dia nggak mau benerin! Jadi saya yang benerin!" Aku membela diri.
Pak Udin tertawa. "Ooo iya, tadi malam hujan deras ya. Mati lampu lagi. Ngomong-ngomong kenapa pas saya ketok pintu nggak dibukain, Mbak? Saya mau pinjam lilin sebenernya. Lilin saya tinggal satu, kecil banget lagi. Untung pas lilin habis pas listrik hidup lagi."
Ooo, jadi tadi malam yang ketok pintu itu Pak Udin. Kirain setan, hehehe. Pantes aja tadi malam Pak Udin nyanyi Lilin-Lilin Kecil, ternyata lilin punya dia emang kecil dan udah mau habis.
"Ooh, tadi malam Pak Udin ketok pintu ya. Saya nggak denger, Pak. Udah tidur." Aku bohong sama dia karena nggak enak.
Tak lama kemudian Pak Udin masuk lagi ke rumah.
"Maas! Gentingnya udah kelar nih! Pegangin tangganya ya, Rara mau turun!" teriakku.
"Ya, ya, buruan turun deh!" Kata Mas Baim sambil memegangi tangga. Aku pun mulai menjajaki anak tangga satu persatu. Anak tangga pertama, kedua, ketiga, keempat, ah tinggal satu anak tangga lagi. Tiba-tiba ....
Gubrak! Aku pun praktek pelajaran Bahasa Indonesia SD tentang peribahasa, 'Sudah jatuh tertimpa tangga'.
Bukannya nolongin, Mas Baim malah ketawa terbahak-bahak. "Hahaha, syukurin!"
"Mas Baim, jahaaat! Sakit tahu!" pekikku yang masih terkapar dengan tangga di atasku.
"Rasain, salah sendiri durhaka sama suami!" Mas Baim masih terbahak-bahak.
Aku pun menggeser tangga yang menimpa tubuhku. Lalu sambil membuka tangan aku merengek manja,"Maaas, gendoooong!'
Tiba-tiba Pak Udin lari tergopoh-gopoh dari dalam rumah.
"Ada apa, Mas?? Apa yang bunyi gubrak tadi??" tanyanya panik.
"Itu Rara jatuh. Minta digendong," jawab Mas Baim.
"Astagfirullah!" Pak Udin kaget. Ia langsung lari memanggil Bu Rita. "Buuu! Buuu! Mbak Rara jatuh dari genting! Minta digendong!"
"Ya ampun Gustiii!" Terdengar teriakan panik Bu Rita. Suami istri itu pun lari ke arahku dan membantu Mas Baim mengangkat tubuhku ke rumah.
Yaelaah, kenapa jadi nggak sesuai ekspektasi gini. Harapanku digendong manjahh sama suamiku kayak princes, eh malah digotong ramai-ramai kayak orang mati. Lagian aku cuma jatuh dari tangga, kok kabarnya jadi jatuh dari genting.
***
"Aduhh ... Aahh ... Aahh .... Pelan-pelan dong, Mas!" aku mendesah sambil sesekali memejamkan mata.
"Iya ini udah pelan, Sayang."
"Tapi Rara sakiit," rengekku manja.
"Sebentar lagi, ya. Nanti enak kok."
"Aduuh, aduh, aaah ... Ngilu banget, Mas. Aaah ... Aaah." Kugigit bibirku menahan rasa sakit.
"Ya udah, Mas pegang yang ini aja ya. Ih, gede banget, Ra."
"Ampuun, Maaas. Rara sakiiit," rintihku.
"Sebentar lagi ...." Jawab Mas Baim sambil terus menggosok dan memijat tanganku yang bengkak dengan minyak But-but.
"Ah, sudah ... Udah enakan kan?" tanyanya kemudian.
Eh bener lho, tanganku yang tadi ngilu karena tertimpa tangga jadi nggak gitu sakit. Bengkak yang tadi besar juga mengecil.
"Wah, hebat, Mas. Kayaknya Mas Baim bakat jadi tukang pijat nih," pujiku.
"Huh, dasar kamu! Bikin ribut aja pagi-pagi. Mas jadi kayaknya mau telat ngantor nih!"
"Lho, emang Mas udah baikan?"
"Iya, Mas udah sehat. Mau ke kantor hari ini. Tapi entar deh, Mas beliin kamu sarapan dulu. Kamu tiduran aja ya, jangan ngapa-ngapain," katanya. Kemudian ia pergi keluar bawa motor.
Ya ampuuun, suamiku baik bangeeet. Aku jadi dag dig dug gimana gitu. Seandainya aku Pak Udin, aku pasti udah nyanyi, "Terpesona ... Akuu terpesonaa ...." Iyaaa, aku mulai terpesona sama suami yang tadinya kusebelin itu.
Tak lama kemudian Mas Baim pulang bawa sarapan. Ia meletakkan kresek berisi makanan itu di sampingku.
"Inget ya Ra, nanti kamu jangan ngapa-ngapain dulu. Nggak usah masak, nggak usah bersih-bersih, tunggu sampai tanganmu bener-bener sembuh," pesan Mas Baim.
"Baik, Mas," aku mengangguk patuh bagaikan istri yang sholihah, padahal selama ini istri bar bar.
Mas Baim pun bersiap ke kantor. Setelah ia mandi dan berdandan rapi, ia tampak makin ganteng dan wangi. Ia duduk di samping tempatku berbaring, mengecup tangan dan keningku.
"Mas berangkat dulu, ya," katanya sambil menatapku dengan pandangan sayang. Ia meninggalkanku yang mulai dag dig dug dengan sikapnya. Ya ampuun, Mas Baim bener-bener memperlakukanku dengan so sweet. Bikin hatiku berbunga-bunga kayak seragam batik guru SD. Kenapa ya, rasanya aku mulai jatuh cinta sama suamiku. Padahal kata Nana, aku nggak boleh jatuh cinta dan menyerahkan keperawananku pada Mas Baim, supaya aku nggak jadi tumbal.
Duh, aku jadi dilema. Bener nggak ya kira-kira Mas Baim mau jadiin aku tumbal pesugihan. Tapi kenapa dia baik dan sayang banget sama aku. Jangan-jangan ini tak tiknya ya. Hmm, bisa jadi. Bisa jadi ini taktik yang selama ini dia pakai untuk menjerat korban ke -play boy-an nya. Dia memperlakukan calon korban dengan so sweet, setelah jatuh cinta ditinggal begitu saja. Wah, jahat bener kalau kayak gitu! Aku harus siap-siap nih, nggak boleh jatuh cinta sama Mas Baim! Takut nanti ditinggal pas sayang-sayangnya, kan jadi repot.
Tiba-tiba ada w*****p dari Mas Baim.
[Udah sarapan, Sayang?]
[Belum, Mas]
[Terus dari tadi ngapain aja kalau nggak sarapan?]
[Mikirin Mas terus] Aduuuh, kenapa aku nulis gitu siiih. Kan Mas Baim bisa GR. Akhirnya kuhapus chat ku yang itu.
[Hehehe, Mas udah baca kok. Nggak apa-apa. Mas juga kangen sama kamu]
Tuuh kan dia GR beneran! Ntar malem pasti jadi minta itu deh. Harusnya aku jangan jawab gituuu.
[Sarapan dulu, Sayang] Chatnya lagi. Lalu ia sambung lagi [Kamu mau minta apa lagi? Ntar aku orderin pakai Grab.]
Eh, dia bilang 'minta apa'? Ya, ampuuun, baik bangeet. Lagian ini bisa dipakai untuk menguji cintanya kelees. Duh aku mau minta apa ya? Mau minta seribu candi dalam satu malam nggak mungkin. Tapi aku harus minta sesuatu yang aneh untuk mengujinya. Aku pun membuka aplikasi belanja Shopo . Tapi makin bingung mau minta apa. Pengennya sih kayak iklan Shopo yang, "HP nge haang," terus langsung dibeliin baru. Bilang, "Gosoong," langsung dibeliin magic com baru. Tapi kayaknya nggak mungkin deh kayak gitu. Jadi aku minta apa ya?
[Aku nggak minta apa-apa deh Mas, yang penting Mas sayang dan setia terus sama aku] Duh, kenapa aku nge chat kayak gini sih? Kan dia bisa makin GR. Langsung kuhapus chatnya.
[Lho, kok dihapus lagi chatnya? Hehehe, Mas udah baca kok. Nggak apa-apa. Nggak usah malu menunjukkan perasaanmu. Mas pasti akan sayang dan setia selama-lamanya sama kamu] Tuh kan dia GR lagi!
Muncul chat lagi dari Mas Baim. [Ya udah, istirahat dulu ya. Ingat jangan ngapa-ngapain. Harus jaga kesehatan biar tanganmu cepet sembuh]
Mas Baim pun mengakhiri chat. Tuuh kan, aku jadi nyesel. Dia kan nawarin minta apa, kok malah aku jawab bucin-bucin sama dia. Uuh, harusnya aku minta sate, siomay, atau apa gitu yang enak-enak.
Akhirnya aku nge-chat dia lagi. [Mas, Rara mau minta yang enak-enak]
[Nanti aku kasih yang enak-enak, Sayang]
Tuuuh kan, dia GR lagi ni. Pasti dia kira aku minta 'itu' lagi. Gimana sih, uuh.
Nggak lama kemudian datang Grab bawa makanan-makanan enak.
[Buat makan siang, Sayang. Kamu nggak usah masak dan nggak usah ngapa-ngapain ya] datang juga WA dari Mas Baim.
Duuuh, baik banget suamiku. Sarapan yang tadi aja belum habis, udah dikirimin makanan lagi.
Aku pun makan dengan bahagia. Hatiku berbunga-bunga. Siapa yang nggak seneng kalau diperlakukan manis kayak gini? Pantesan dulu banyak cewek bucin akut sama Mas-ku, pasti karena dia perlakukan cewek-cewek itu dengan manis. Aku pun mulai jatuh cinta sama dia. Tapi ... itu nggak boleh! Aku nggak boleh terpedaya sama dia. Aku nggak mau dijadiin tumbal pesugihan!
***
"Gimana udah baikan?" tanya Mas Baim sepulang kerja.
"Udah, Mas," jawabku.
"Udah makan? Kok makanannya masih sisa banyak?"
"Ya kan buat Mas juga. Masa' Rara makan sendiri."
Mas Baim tersenyum. "Itu kan beliin kamu, Sayang. Mas juga udah makan di kantor."
Setelah itu Mas Baim mandi. Setelah mandi nyuapin aku makan dan mijetin tanganku yang sakit. Duuh, siapa yang nggak jadi bucin kalau diperlakukan so sweet kayak gini.
Malamnya Mas Baim mulai cium-cium aku. Tapi aku ingat pesan Nana, "Jangan sampai kamu diperawanin! Biasanya pengantin baru yang jadi tumbal akan ditumbalin setelah perawannya hilang."
"Aooow, aooow, sakit Mas! Tangan Rara sakiit!" jeritku tiba-tiba.
Mas Baim langsung melepaskan pelukannya.
"Rara masih sakit, Mas. Maaf ya, gituannya batal dulu," kataku memohon. Kayaknya mataku juga berkaca-kaca juga( aku usahain gitu sih biar aktingnya sukses)
Mas Baim pun iba padaku. "Ya udah, kita terusin kalau kamu udah sembuh aja, Rara. Lagian Mas juga capek tadi seharian di kantor karena udah lama nggak masuk. Kerjaan numpuk."
"Iya, Mas."
Mas Baim bergegas keluar dari kamar dan sibuk dengan laptopnya. Horeee! Malam ini merdeka lagi!
*Bersambung*