Siang ini Mas Baim ngajak aku main basah-basahan, padahal tanganku belum sembuh bener. Katanya udah lama enggak, kalau dibiarkan menumpuk bisa nggak sehat. Terpaksa aku menyanggupinya.
Suamiku itu mulai menyalakan kran air. Lalu ia melempar bajuku satu persatu. Ia mulai menyiram-nyiram dengan gayung.
"Aduhh, Rara jadi basah nih, Mas,"pekikku pelan.
"Belum-belum kok udah basah. Aku mulai gosok ya, Ra," kata suamiku yang tampaknya juga sudah basah itu.
"Iya Mas, gosoknya pelan-pelan aja ya, yang lembut."
"Gini ya?"
"Iya, tapi kurang enak, Mas. Aku tambahin busa ya."
"Kalau busanya banyak enak, Ra."
"Iya, Mas."
Suamiku itu mulai main kasar. Tangannya merogoh makin dalam. Ia mulai menarik-narik bra merahku.
Plak! Segera kutabok tangannya.
"Kalau nyuci bra jangan kasar dong! Nggak usah ditarik-tarik juga, ntar karetnya melar tahu!"
"Yaelah, Ra. Ini gosoknya juga udah pelan kalii."
Begitulah, aku dan Mas Baim nyuci bersama mumpung dia libur. Selama ini karena dia sakit, aku juga sakit, cucian jadi numpuk. Kalau nggak segera dicuci, bisa nggak baik untuk kesehatan.
Aku jadi mikir makin aneh sama dia. Katanya dia horang kaya. Kok nggak punya mesin cuci? Kan jadi basah berdua. Lagian mustinya bisa diloundry juga kan. Aku jadi makin curiga. Jangan-jangan dia orang kaya palsu nih. Tapi kan nggak mungkin, karena dia memang Baim yang dulu, playboy kampus yang songong karena anak orang kaya itu. Sekarang ini aja dia juga kerja di perusahaan Hariwijaya, jadi nggak mungkin dia bukan anak Sang Milyuner Hariwijaya.
"Kenapa ngelihatin aku terus? Naksir?" tanyanya tiba-tiba.
Aku cuma senyum aja.
"Kangen ya, sama Mas? Kalau ntar malem udah siap, kan?"
"Aoooowww, tangan Rara sakit, Mas! Tiba-tiba nyeri banget. Lagian ngapain sih Mas pakai acara nyuci segala. Kan bisa diloundry!" Aku langsung bohong sama dia. Aku takut dia ngajak begituan, jadi mending aku pura-pura sakit tangannya aja.
"Hidup tu harus hemat, Sayang. Kalau bisa nyuci, kenapa harus diloundry. Ya udah, kamu istirahat sana kalau tangannya masih sakit!"
***
Malam yang gelap. Mas Baim udah tertidur lelap. Kalau malam gelap kayak gini biasanya wajahku sering glowing in the dark. Iya, saat malam mau tidur wajahku sering tampak bercahaya karena aku main HP, jadi wajahku kena sinar HP.
[Gimana, Ra? Kamu masih perawan nggak sekarang?] bunyi chat dari Nana.
[Alhamdulillah masih, Na. Kebetulan tanganku sakit habis jatuh, jadi tanganku yang sakit ini sering kujadikan alasan biar nggak dianu-anu sama dia]
[Syukur deh kalau masih perawan. Hati-hati ya, Ra. Jangan sampai kamu jadi tumbal pesugihan. Eh ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa jatuh? Aku takut ini tanda-tanda jin pesugihan dia mulai bekerja]
[Kan rumahnya bocor, dia nggak mau benerin genting. Terus aku yang benerin genting, terus aku jatuh waktu turun pakai tangga]
[Dih, katanya orang kaya, kok rumahnya bocor?]
[Entahlah, Na, aku juga bingung. Trus aku juga diajak nyuci banyak tadi. Nyucinya manual, Na. Nggak pakai mesin cuci atau diloundry gitu, padahal kami sama-sama lagi sakit]
[Wah, nggak beres ini. Aku takut nih kamu bener-bener jadi korban tumbal pesugihan. Soalnya aku pernah baca emang ada pesugihan yang caranya kayak gitu. Nikahin perempuan untuk dijadiin tumbal pesugihannya]
[Aku jadi takut, Na. Aku musti gimana ni? Sumpah, menjaga keperawanan setelah nikah itu sulit banget]
[Maaf, ni ... kamu nggak pengen cerai aja?]
[Gimana ya ... dulu aku mau nolak aja Bapakku langsung ngancam mau bunuh diri menggantung di retsleting tas, kalau beneran cerai bisa-bisa Bapakku beneran bunuh diri]
[Yaelah, kok Bapakmu mau gantung diri di retsleting tas, kayak gantungan kunci dong! Gini aja ....]
[Gimana?]
[Aku punya kenalan dukun, Ra. Gimana kalau kamu kuajak ke dukun itu? Biar ada yang melindungimu dari jin nya Baim itu. Jadi kamu tetep bisa nikah, tapi terlindungi]
[Hmm, boleh-boleh]
[Tapi jangan sampai tahu suamimu ya]
[Iya beres]
[Besok aku pulang ke kota kita, Ra. Lagi cuti. Kamu kuantar ke dukun langgananku, bilang aja ke Baim kita mau nengok bayi]
[Hmm, oke deh. Oke]
[Ya, sip. Sampai besok, Ra!]
[Sampai besok, Na! Have a nice dream ya]
Nana nggak menjawab, mungkin udah tidur.
Syukurlah aku punya sahabat seorang Nana. Dia sahabatku dari kecil dan sekampus, jadi dia juga tahu Baim. Bedanya aku sama Nana, aku orang kismin, dia termasuk keluarga berada. Kedua orang tuanya PNS dan kakek neneknya punya sawah banyak, satu sawah aja luasnya bisa dijadiin lapangan helikopter. Kalau Nana masuk universitas swasta tempat orang-orang kaya itu wajar, walaupun posisi dia di kampus tetap bukan level Baim dan rich people lainnya, tapi kalau aku ... kayaknya Bapak terlalu maksain. Dulu sebenernya aku juga nggak mau dikuliahin di situ, takut Bapak terlilit hutang untuk membiayaiku. Untungnya aku dapat beasiswa, jadi bisa meringankan beban Bapak.
Nana juga orang yang bisa dipercaya. Dia selalu up date informasi. Dia hafal naik turun harga kebutuhan sehari-hari, perbedaan harga di mall A dan mall B. Dia juga selalu tahu gosip lebih dulu dari temen-temen yang lain. Dia juga tahu lebih dulu dari yang lain saat Krisdayanti suntik DNA ikan salmon, sementara aku sama dia mau suntik DNA ikan cupang aja kesulitan. Nana juga cerdas, solutif, jadi aku percaya aja sama dia. Semoga besok hariku akan lancar dengan Nana.
Aku pun bersiap tidur. Kumatikan HP dan kutarik selimut sambil memejamkan mata.
Krek krek krek
Krek krek krek
Ih, suara apa itu?
Kutajamkan telinga. Suara berisik di atas atap makin jelas.
Krek krek krek
Krek krek krek
Gubrak!!!
"Aaaaaaargh!" Aku menjerit saat melihat ada sebuah penampakan. Hitam, berbulu, dan lebih gede dari biasanya.
*Bersambung*