Mbah Dukun yang Ngeselin

1508 Kata
Aku terkesiap melihat barang gede berbulu itu. "Wiii, barangnya gede banget," pekikku. Mendengar reaksiku, Mas Baim terbangun. Ia mulai meraba-raba dan merogoh agak dalam. "Ih, gede banget, Ra," pekiknya. Ia mulai merem melek. "Ah, ah, aduh ... Sulit keluar niiih, a-aduuuhh .... Bantuin dong, Raa." Aku pun ikut meraba-raba. Tanganku mulai menggerayangi gundukan berbulu yang gede banget. "Aduh , Maaas. Kita keluarin sama-sama ya ... Satu ... dua ... tiga ...." Cuiit cuiit cuuuiiit Akhirnya tikus yang bersembunyi di lubang itu bisa kami tarik dan keluarkan. Wiii, gede amat! Mas Baim pun keluar untuk mengurus tikus itu. Jadi tadi saat Mas Baim tidur dan aku main HP, ada suara berisik di atap. Tiba-tiba seekor tikus gede jatuh. Dia kabur masuk lubang. Untung bisa kami bereskan sama-sama. Aku jadi makin bingung sama suamiku. Horang kaya macam apa dia, masa' di rumahnya ada tikus. Setelah beresin tikus, kami pun kembali tidur dengan lelap. *** Paginya, sebelum Mas Baim berangkat kantor, aku berpamitan. "Mas, nanti Rara mau pergi sama Nana ya, mau nengok bayi." "Oh, ya. Siapa yang punya anak?" "Beti, Mas." "Oh, ya. Temenmu ya? Salam ya buat Beti." "Iya, Mas. Entar aku sampein." Dalam hati aku senyum-senyum sendiri karena sukses bohongin Mas Baim. Sebenernya aku bukan mau nengok bayi tapi mau nemuin dukun kenalan Nana. Lagian Beti bukan temenku, tapi kucing Nana yang 'Belang Tiga', wkwkwk. Siang itu Nana datang dengan mobilnya. "Eh, masuk dulu, Na!" kataku yang masih berdandan. Nana pun masuk ke rumah. "Jadi ini ya rumah si Baim yang katanya kaya itu. Jelas aneh Ra, dia kan horang kaya. Masa' kamu ditaruh di rumah biasa kayak gini," komentarnya saat melihat tempat tinggalku. "Itulah, Na. Aku juga bingung," jawabku. "Tapi nggak usah khawatir, sahabatmu yang bernama Nananina ini akan menolongmu," katanya. Ia kemudian mengambil ponsel dan menggeser-gesernya. "Ini lho Mbah Dukun yang aku ceritain." Nana menunjukkan sebuah akun i********:. "Wah, Mbah Dukunnya canggih amat, punya IG dia ya," komentarku pada Nana. Di i********: itu tampak seonggok, eh seorang kakek-kakek yang sedang beradegan panas. Ia sedang duduk bersila sambil tangannya diletakkan di atas dupa dengan api membara. "Wah, sakti juga ya Si Kakek, tangannya kena api nggak kenapa-kenapa," komentarku lagi. "Iya dong, karena sakti itulah makanya kamu kuajak ke sana," kata Nana. Singkat cerita, aku dan Nana menemui Si Kakek. Nana memanggilnya Mbah Buyut. Saat Nana menepikan mobil, rumah luas yang halamannya penuh patung itu tampak, itu rumah Mbah Buyut. Aku sangat takjub saat melewati halaman rumah itu, terheran-heran dengan patungnya. Ada patung polisi, tentara, dokter, ada juga patung pembaca Innovel, wkwkwk. "Itu patung-patung untuk pemujaan apa gimana, Na?" "Itu tu patung orang-orang yang durhaka sama dia, pokoknya kalau ada yang durhaka sama dia langsung dikutuk jadi patung." "Wiii, busyet! Jadi dia lebih sakti dari ibunya Malin Kundang ya, ibunya Malin Kundang cuma ngutuk satu anak, sementara Mbah Buyut banyak," komentarku. "Kalau nggak sakti, kamu nggak kuajak kesini, Ra," jawab Nana. Tiba-tiba aku dikejutkan patung kucing yang satu tangannya bergoyang-goyang. "Ini kucing yang dikutuk, Na?" "Bukan, itu sih patung kucing keberuntungan, namanya Maneki Neko." "Oooo." Aku mengangguk-angguk sambil mengagumi rumah Mbah Buyut. Kini aku dan Nana telah tiba di depan pintu. Terdengar suara kayak di stasiun-stasiun kereta api. "Ting tong ting tong. Selamat datang di Rumah Mbah Buyut. Silahkan ucapkan salam." "Assalamualaikum, Mbaaah." Aku dan Nana mengucap salam. Suara yang tadi menjawab. "Ting tong ting tong. Walaikumsalam. Silahkan masuk dan duduk. Oleh-olehnya taruh aja." Aku menjawab takut, "Ta-tapi saya nggak bawa oleh-oleh." "Lain kali bawa." "Ya, maaf." Aku dan Nana masuk dan duduk di kursi kayu penuh ukiran. Aku masih celingukan melihat sekitar ruangan itu. Di sekelilingnya ada dinding yang penuh ukiran perak. Tiba-tiba sebuah dinding bergeser seperti di film-film futuristik. Seorang kakek-kakek dengan baju dan ikat kepala hitam keluar dan menemui kami. Nana pun bicara. "Perkenalkan, Mbah, saya Nananina, follower Embah di IG. Dan ini temen saya Happy Ceria Sukawati, panggilannya Rara, Mbah. Kami kesini mau ..." Sebelum Nana selesai bicara, Mbah Buyut menunjukku. "Kamu ada masalah ya?" "Kok tahu, Mbah?" "Tahu lah, mukamu kusut kayak cucian nggak disetrika." Duh, Si Mbah ini makjleb banget sih. Tapi pengen marah aku takut dikutuk jadi patung. Mbah Buyut melanjutkan kata-katanya. "Mbah lihat kamu punya lingkaran hitam." "Di sini ya, Mbah?" aku menunjuk mata. "Iya, Mbah saya kurang tidur jadi mata saya kayak panda." "Bukan itu, Dodol! Tapi Mbah melihat auramu dilingkari aura hitam. Hidupmu penuh masalah. Kamu orang kismin kan?" Duh, Si Mbah ini kok belagu sih. "Iya, Mbah," jawabku. "Emang Mbah orang kaya?" "O jangan salah, gini-gini baju hitam yang kupakai ini merk Hermest, ikat kepala merk Gucci, akik ini merk Armani, tu asbak merk Chanel, nih sandal Mbah merk Lily." Waow, ternyata Si Mbah saingan ya sama Syahrini. Atributnya bermerk semua. Kecuali sandalnya, merk Lily, wkwkwk. Si Mbah masih pamer,"Tadi kamu lihat ada tembok bergeser kan? Itu liftnya Si Mbah. Kamu nggak punya kan?" Huh, kok ngeselin banget sih Mbah Buyut ini. Sebenernya dia Mbah nya siapa? Pengen kucubit cucunya sampai nangis "Tapi rumah Mbah kan nggak bertingkat, kok punya lift?" sanggahku. "Mbah kan punya basement besar di bawah. Di bawah itu ada mall, Mbah punya mall sendiri. Yang jual Embah, yang beli juga Embah, wkwkwk." Aku mengangguk-angguk. Kayak nggak waras aja ya Simbah. Untung ini cerita komedi, jadi wajar aja kalau semua tokohnya koplak, wkwkwk. Kemudian Mbah menunjuk Nana. "Kamu Nana anaknya Pak Dadang kan? Nggak jual tanah lagi ya Bapakmu? Mbah lagi butuh tanah, Nduk, buat lapangan helikopter. Mbah udah punya SIM H ini." "SIM H apaan, Mbah?" tanya Nana. "Surat Izin Mengemudi Helikopter." "Ooo, kebetulan nggak, Mbah. Emang Mbah mau beli helikopter ya?" "Yaaa, mau gimana lagi ya, Nduk. Mbah ini sudah kerepotan sama uang milik Mbah, kalau nggak dihambur-hamburka kok rasanya gimana." Aku jadi makin gimana gitu. Ngeselin banget ni Si Embah, pengen tak hiiih. Mbah Buyut menunjukku lagi. "Tak kasih tahu ya, Nduk. Setiap manusia punya masalah. Tapi semua masalah bisa diselesaikan. Rahasianya cuma satu ... DUIT ... Doa Usaha Ikhtiar Takwa." Wiiii, akhirnya Si Mbah ngomong bener juga. "Tapi masalahmu agak berat, Nduk," katanya. "Sebentar ya ...." Simbah masuk, lalu kembali dengan segelas kopi. Ia memberikan kopi itu padaku. "Minum, Nduk! Ini kopi impor dari Negeri Tirai Bambu." "Wih, Cina Mbah?" "Bukaaan, itu di belakang ada kebun bambu, di baliknya Mbah tanam kopi, nah itu hasilnya." "Ooo." Aku pun langsung minum kopi pemberian Mbah Buyut. "Bbbuaaahhhh!" Langsung kusemburkan kopi itu. "Hahaha, gimana rasanya? Enak to?" tanya Mbah. "Uasin, Mbah." "Hahaha, iya lah. Udah Mbah kasih garam. Biar jadi oralit," kata Si Mbah. "Kalau kopi Starbucks mau?" "Mau, Mbah." "Ya udah beli sendiri, hahahaha," kata Simbah ngeselin. Kok ada ya orang kayak gini. Sebenernya dia lahir dari rahim manusia atau Kinderjoy yang dibelah sih .... "Tapi jangan khawatir, itu kopi sakti, udah Mbah kasih hewes-hewes." Si Mbah melanjutkan kata-katanya. "Tapi hewes-hewes nya aman kan, Mbah? Nggak mengandung corona kan?" "Amaaan ... Amaaan ... Mbah ini orang istimewa, Nduk. Si Mbah batuk lalu meludah aja, batu yang diludahin Si Mbah langsung jadi mutiara kok." Waow, sakti banget ya! Mbah melanjutkan kata-katanya lagi. "Mbah tahu kamu lagi ada masalah dengan suamimu. Hati-hati ya, Nduk. Mbah emang lihat ada lingkaran hitam di sekitarmu. Akan ada seseorang yang dijadikan tumbal pesugihan. Kamu hati-hati aja, jangan sampai berhubungan dengan suamimu, sebelum datang gerhana matahari." "Lha gerhana matahari datangnya kapan, Mbah?" "Lhoo, nggak pernah lihat berita kamu. Gerhana matahari kan datangnya 300 tahun lagi." Aku kaget. Wah, lha 300 tahun lagi aku kan udah mati. Bilang aja aku nggak boleh berhubungan sama Mas Baim. Lalu Mbah masuk lagi. Dia keluar bawa sebotol parfum dan memberikan padaku. "Praktekkan pada suamimu," kata Mbah Buyut. "Gimana makainya, Mbah?" "Di belakang ada cara pakainya," jawab Si Mbah. "Itu impor dari Negara Paman Sam." "Amerika, Mbah?" "Bukan, tapi warungnya Pak Samsul." "Ooo," aku mengangguk-angguk. "Ya sudah. Udah beres tu masalahmu. Sana pulang, segera praktekkan pada suamimu," kata Mbah Buyut. "Ya sudah, kami pamit dulu ya, Mbah," kataku sambil berdiri, tapi Nana memberi isyarat dengan mata yang tak kumengerti. Si Mbah pun menepuk pundakku. "Jangan lupa, Doa Usaha Ikhtiar Tawakal." "Iya, Mbah. Saya akan berdoa, berusaha, ikhtiar, dan bertawakal." Nana memberi isyarat dengan mata. Jempol dan jari tangannya pun membentuk tanda tanda "love" ala Korea, tapi digesek-gesekkan. Si Mbah menepuk pundakku lagi. "Jangan lupa, Doa Usaha Ikhtiar Tawakal," ulangnya. Aku pun mengulang jawaban, "Ya Mbah, doakan saya sukses dalam berdoa, berusaha, berikhtiar, dan bertawakal." Nana menggelengkan kepala. Akhirnya dia berbisik padaku. "Doa ... Usaha ... Ikhtiar ... Tawakal ... D-U-I-T ... DUIT. Jadi kamu tu disuruh kasih duit ke dia." Oalah, aku kok nggak peka ya, hahaha. Lagian Mbah ini serakah amat, udah kaya begini masih minta duit sama aku yang dia katain missqueen. Akhirnya aku mengeluarkan amplop. Sambil menyalami Mbah Buyut kuberikan amplop itu. "Ini Mbah ... Doa Usaha Ikhtiar dan Tawakal dari saya," kataku. "Ya ... ya, terimakasih ya. Jangan lupa segera praktekkan petunjuk di kemasan parfum itu pada suamimu. Semoga sukses ya, Nduk." "Ya, Mbah. Terimakasih," jawabku. Di mobil aku memandangi parfum itu, siap untuk ngerjain Mas Baim dengan parfum ini. Apa yang kira-kira akan kulakukan? Tunggu saja part berikutnya!? *Bersambung*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN