"Buka dong, Ra," kata Mas Baim.
"Enggak ah, Rara malu," jawabku.
"Ayo deh!"
"Mmm ... Bentar ya," aku berubah pikiran.
"Buruan deh!"
"Iya, bentar."
Akhirnya aku membuka yang diminta Mas Baim. Suamiku itu pun memasukkan barangnya. Wii, gede banget. Kayaknya bakal nggak muat nih.
"Oooohh ... Oooohhh ...." Suamiku mendorong sekuat tenaga.
"Aduh, Mas. Kayak nggak muat nih," kataku.
"Bantuin dong, Ra! Jangan Mas yang masukin sendiri!" kata suamiku dengan terengah-engah, sampai keluar keringat di dahinya.
"Oooohh ... Ooohh...," sambil menggigit bibir aku ikut berusaha memasukkan barang Mas Baim. Akhirnya aku terengah-engah sendiri. "Dorong dong maas ... Biar bisa masuk!"
"Mas coba sekuat tenaga yah," kata suamiku. Lalu dia berusaha mendorong barangnya sekuat tenaga, "Ooohhh ... Ooohhhh .... "
Legaaa ... Akhirnya barang itu masuk juga ... Aku dan Mas Baim sama-sama terkapar karena kelelahan. Kami pun basah kuyup oleh keringat.
"Mas, emang ini barang apa sih kok gede banget? Sampai pintu aja nggak muat," tanyaku.
"Lho, katanya kamu pengen mesin cuci. Ya udah Mas belikan," jawab Mas Baim.
"Bener Mas, Rara dibeliin mesin cuci? Asyiiik! Terimakasih, Mas! Buruan taruh tempat cuci deh, biar kita nggak basah-basahan lagi!" kataku.
Jadi tadi aku lagi pakai celana pendek sama tanktop aja di rumah waktu Mas Baim minta dibukain pintu, kan aku malu kalau kelihatan dari luar. Tapi Mas Baim terus minta dibukain, jadi aku segera ganti baju dan buka pintu. Ternyata dia bawa barang yang gede banget, didorong mau masuk pintu aja nggak muat. Ternyata itu isinya mesin cuci buatku! Waaah, Mas Baim baik bangeet.
Mas Baim ngangkat dan ngatur mesin cuci itu di tempat cuci. Aku males bantu. Bilang aja tanganku yang terkilir jadi sakit kalau angkat-angkat barang berat. Setelah membereskan mesin cuci, dia istirahat. Kubuatkan teh untuk menemani dia istirahat dan aku mencoba mesin cuci baru itu.
"Maaaas, gimana makainya?" teriakku pada suami yang lagi leyeh-leyeh di ruang tengah.
"Tinggal puter aja, Ra!" Terdengar jawaban Mas Baim.
"Oh, baiklah." Aku pun memutar mesin cucinya. "Kok diem aja, Mas?!" tanyaku lagi.
"Tunggu aja .... Ntar bunyi 'wuuuuus uduk uduk uduk'!"
Aku pun menunggu. "Mas, masih diem! Nggak bunyi 'wus uduk uduk'!"
Mas Baim pun datang dan terkejut. "Ya ampun, Ra! Bukan kayak giniii."
"Lho, salah Rara di mana? Kan udah diputer. Tadi menghadap barat, sekarang menghadap timur."
"Maksudnya nggak kayak gini, Dodooool. Maksudnya yang diputer itu tombolnyaaa." Mas Baim pun ngajarin aku pakai mesin cuci.
Oooo, jadi begitu. Ya ... Ya ... Paham. Maklumlah, aku kan orang kismin, baru pertama kali punya mesin cuci. Setelah punya mesin cuci, aku pun jadi senang, semua-semuanya kucuci. Mas Baim pun senang karena aku jadi rajin mencuci.
Setelah mencuci, tiba-tiba dia memeluk pinggangku dari belakang.
"Ra, setelah dibeliin mesin cuci, kok tanganmu langsung sembuh. Berarti ntar malem udah bisa begituan dong?" Dia langsung merayu.
Duarr!! Hatiku langsung seakan meledak bagai kena petasan. Aku jadi inget pesan Mbah Buyut, "Jangan berhubungan dengan suamimu sebelum tiba gerhana matahari (yang 300 tahun kemudian itu)."
Aku pun langsung menolak. "Enggak ah, Rara masih malu."
"Kenapa malu? Kan kita udah suami istri," kata suamiku.
Aku cuma diam dan menunduk. Tak sanggup melihat mata Mas Baim yang tampak sangat kecewa.
"Apa sih salahku ke kamu, Ra? Aku udah berusaha jadi suami yang baik. Aku sakit kubelain nyetir sendiri buat kamu, kamu sakit aku rawat, aku nyuciin baju kamu, apa yang kamu minta aku berikan. Tapi sejak menikah belum pernah kamu sekalipun melayaniku. Aku juga mau hakku sebagai suami, Ra!" Kali ini Mas Baim marah dengan serius.
Aku jadi takut. Segera aku berlari dan menangis di kamar. Sejak menikah, ini juga baru pertama kali aku menangis. Aku bingung, kayak merasa ada dilema. Kuakui Mas Baim memperlakukanku dengan baik dan manis, bahkan mulai tumbuh benih-benih cinta di hatiku untuk suamiku itu. Tapi aku takut dengan kutukan yang kudengar dari Nana dan Mbah Buyut. Katanya aku akan jadi tumbal pesugihan kalau udah memberikan keperawananku.
Tiba-tiba aku ingat parfum dari Mbah Buyut yang belum kucoba. Aku pun menghapus air mata dan mengeluarkan parfum itu dari tempat penyimpanannya. Hmm, ternyata parfum ini keren, ada petunjuk pemakaian di belakangnya. Demikian bunyinya:
"Apakah anda takut diguna-guna? Apakah anda takut jadi tumbal pesugihan suami anda? Aha! Parfum ini solusinya! Cukup oleskan parfum ini ke pakaian anda, dan cobalah reaksinya! Suami anda akan wes ewes ewes ... Bablas anunya!"
Ooo, ternyata begitu tooo. Ya deh ya deh, aku coba. Kubuka parfum itu dan kuhirup aromanya. Hmmm ... Wangiii ... Bagaikan wangi kembang 7 rupaa ... Lalu kuoles parfum itu ke baju yang kupakai. Aku keluar kamar mendekati Mas Baim.
"Wueeek ... Bau apa kamu? Hooek hooek," tiba-tiba Mas Baim mau muntah-muntah.
"Ini wangi kok mas, coba deh, wangii ...." Aku makin mendekat padanya dan kupaksa dia mencium bajuku.
"Hoooek ... Hooooek ... Baunya kayak kentut setan, Ra."
Aku mencium parfum di bajuku. "Apa sih? Wangi gini kok."
Mas Baim yang tadi duduk di sofa pindah tiduran di karpet sambil nonton TV. Aku berlari mendekat dan tiduran di sampingnya. Dengan manja kupeluk badannya, "Maaas, Rara pengeen."
"Hoooek ...." Mas Baim makin mual.
Hihihi, aku senang. Kayaknya parfumnya berhasil nih. Aku makin senang menggoda Mas Baim.
"Ayolah, Maas. Rara kangeen. Kan sejak nikah kita belum pernah gituaaan." Dengan manja kutarik-tarik bajunya.
"Hooek ... Hooeek." Mas Baim mual lagi. Dia berlari menghindariku.
Aku makin semangat menggodanya. "Mas Baim ... Mas Baim ...." Aku mengejar-ngejar suamiku itu. Tapi dia terus berlari di sekitar ruangan menghindariku.
"Ayo dong Maas, kan Rara kangen." Aku masih mengejar-ngejar Mas Baim.
"Enggak ah, Ra. Baumu kayak kentut setan. Hoeek." Mas Baim terus menghindar ketakutan.
Aku makin senang menggoda dan mengejar-ngejarnya.
"Udah ah Ra. Hush! Hush! Minggir!" Mas Baim melempariku pakai bantal kursi.
Aku sebenernya senang berhasil menakut-nakutinya. Tapi aku pura-pura sedih.
"Ya sudah, Mas Baim udah nggak sayang lagi sama Rara." Aku pura-pura menangis dan berlari ke kamar.
Setelah masuk kamar aku cekikikan sendiri. Berhasil! Sekarang coba kalau aku pakai baju yang nggak kuberi parfum. Gimana coba reaksi dia. Setelah ganti baju, aku keluar. Cuek ngelewatin Mas Baim yang lagi nonton TV.
"Eh, Rara .... Mau kemana, Yang? Sini temenin Mas Baim!" Tuuh kan dia menggoda lagi, berarti yang tadi emang efek dari parfumnya.
"Nggak mau ah, habis tadi Mas jahat sama Rara." Aku pura-pura ngambek. Lalu jalan ambil air minum di dispenser.
"Jangan gitu, Sayang. Habis kamu tadi bau banget kayak bau hantu. Mas kan jadi mual." Tiba-tiba tangan kekar itu sudah memelukku dari belakang. Mas Baim membisikkan sesuatu di telingaku, "Mau ya Sayang, ntar malem temani Mas."
Aku membalikkan badan dan mengusap wajahnya. "Jangan nanti malam Mas, sekarang aja," kataku.
"Bener?" tanya Mas Baim.
"Tapi Rara ganti baju dulu ya, mau pakai yang seksi."
"Ya udah. Mas tunggu ya," katanya.
Aku pun berlari ke kamar. Pakai baju yang lumayan seksi tapi kuoles parfum dari Mbah Buyut.
"Mas Baiiim ...," godaku.
"Hoeeek." Mas Baim mulai mual lagi.
Aku makin senang menggodanya.
"Mas Baim ... Mas Baiim ...." Aku terus mengejar suamiku yang mual-mual. Hingga tiba waktunya dia mengusir dengan melempariku menggunakan bantal kursi.
Aku pun berlari ke kamar. Di dalam kamar cekikikan lagi. Yess, berhasil! Berhasil! Ternyata parfum dari Mbah Buyut ampuh. Aku pun menggunakan parfum itu untuk senjata. Seharian aku menggunakan parfum itu supaya terhindar dari Mas Baim.
Hingga akhirnya malam datang. Mas Baim tak berniat menyentuhku sama sekali. Aku pun senang. Dengan gembira aku bernyanyi-nyanyi di kamar. Tiba-tiba ....
Pet! Listriknya padam. Suasana jadi gelap gulita, bahkan kalau ada setan pun jadi nggak kelihatan.
"Maaas, Rara takuut," rengekku.
Tak ada sebuah jawaban apa pun dari Mas Baim.
"Maaaas!!" Aku berteriak lebih keras.
Mas Baim masih diem.
"MAAAAAAAAAAAAAASSS!" suaraku makin kencang, mungkin 100 oktaf.
"MAAAAAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSS!!!" Aku mulai mengeluarkan suara ultrasonik.
Tapi Mas Baim masih diem.
"Tok tok tok." Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamar.
Deg! Aku takut. Jantungku berdegup kencang. Mas Baim bukan ya? Ragu-ragu aku membuka kamar.
"Aaaaaaaaaaarghhhhhh!!!!" Aku menjerit sekuat tenaga saat sosok putih menyerupai pocong itu melompat di depanku.
*Bersambung*