Suara Wanita Lain

1240 Kata
"Aaaaargh!!!" aku terus menjerit seiring pocong yang loncat-loncat terus di depanku. Entah karena pengaruh Mbah Buyut atau apa, aku jadi berani. Aku inget kata Bapak waktu kecil dulu, katanya pocong kalau dipeluk jadi duit. Tapi nggak pernah ada pocong yang mau dipeluk Bapak, wwkwkwk. Akhirnya aku berusaha meluk pocong yang di depan. Eits, ternyata pocongnya juga nggak mau dipeluk. Aku berusaha lagi. Tapi pocong itu loncat-loncat keluar dari kamarku. Aku ngejar pocong. Taraa! Akhirnya tertangkap! Baju putih pocong bagian bawah melorot. Byarr!! Listrik hidup lagi. Baaa, ketahuan! Ternyata itu Mas Baim yang nakut-nakutin aku pakai mukena! Kelihatan pas baju pocong yang bawah melorot pocongnya pakai kolor ijo gambar Spongebob. Uh, dasar, suamiku usil! "Mas Baiiiim! Awas kamuuu!!" Aku ngejar-ngejar Mas Baim yang terus lari karena aku pakai parfum dari Mbah Buyut. Setelah itu, aku tidur lagi. Masih pakai parfum dari Mbah Buyut biar Mas Baim jauh-jauh dariku. Caraku menghindari Mas Baim dengan parfum dari Mbah Buyut itu benar-benar berhasil. Aku aman dari sentuhan Mas Baim, hingga dua minggu pernikahanku berjalan. Pagi itu aku bangun kayak biasa, tapi tiba-tiba Mas Baim marah padaku. "Rara, ngapain kamu datang ke Mbah Buyut??!" "Eh, kok tahu sih? Maksudku ... mmm, siapa yang bilang gitu?" Aku gelagapan. "Pak Udin yang bilang, dia lihat pakai mata kepala sendiri!" "Ya iyalah, Pak Udin lihat pakai mata kepala sendiri, masa' pakai mata kepala orang lain, hehehe." Aku mencoba melucu supaya Mas Baim nggak marah. "Nggak lucu tahu nggak!" "Ya iya lah, kalau lucu pasti Rara udah masuk Bikini Bottom bareng Spongebob." Plak! Gulungan koran mampir ke kepalaku. "Aku serius, Ra! Bilang sama aku, kenapa kamu datengin dukun?! Syirik tahu nggak sih!" "Mas, Rara mau pipis dulu." Aku masih berusaha menghindar. Lalu lari ke kamar mandi meninggalkan Mas Baim yang cemberut. Setelahnya, suamiku itu nggak maksa-maksa aku cerita lagi. Dia udah buru-buru ke kantor, jadi nggak sempet marah-marah. Tapi dia diem terus seribu bahasa. Ya iya sih, tiga bahasa saja nggak dia kuasai dengan baik, gimana mau ngomong seribu bahasa, wkwkwk. Pokoknya, Mas Baim ngambek. Sampai dia keluar rumah mau ke kantor, tetep manyun. Aku berusaha cari perhatian ke dia, tapi katanya nggak lucu terus. Ya udah, aku juga diem aja. Aku pun beres-beres rumah seperti biasa. Waktu selesai nyapu, dari kejauhan kudengar panggilan telefon dari Ibu. Aku tahu karena ringtonenya suara Ibu yang cempreng, "Raraaa! Raraaa!" gitu. Ih, tumben dia kangen sama aku. Aku pun buru-buru nyamperin handphone. Saat kuangkat, kudengar suara aneh yang diloudspeaker. "Haduuhh ... haduuhh ... aah ... aah" Terdengar suara lelaki. "Bapak belum capek?" Terdengar suara Ibu. "Ngapain capek? Bapak sih kayak gini seharian juga nggak capek. Emang Ibu capek?" "Enggak dong. Hmm, lumatan Bapak enak nih." "Punya Ibu juga bentuknya bagus, bulat dan mulus." Astaga! Lagi ngapain orang tuaku itu?! Diloudspeaker lagi, malu-maluin! "Ha-haloo," kataku ragu-ragu. "Eh, Rara! Rara anakku sayang! Gimana kabarnya?" Terdengar suara cempreng Ibu yang tampak riang gembira. "Baik, Bu. Ngomong-ngomong, Bapak Ibu lagi ngapain? Kok ada yang dilumat-lumat?" tanyaku ragu-ragu. "Biasalah, Ra. Lagi bikin bakso, kan adonannya perlu dilumat-lumat," jawab Ibu riang. Ooooh, bikin bakso toh. Pantes, 'punya ibu bulat dan mulus'. Ternyata Bapak lagi ngadon, Ibu yang bulet-buletin. Pikiranku malah jadi kotor sendiri, hehehe. "Rara, gimana kabarmu? Udah hamil belum?" tanya Ibu. Ih, ngapain sih, belum-belum kok udah nanyain hamil apa nggak. "Belum, Bu," jawabku jujur. "Oh, nggak apa-apa. Kurang pinter berarti kamu, Ra. Emang udah pakai jurus apa aja?" Hih, ngapain sih tanya jurus-jurus segala? Kayak kungfu aja. "Macem-macem, Bu. Ada jurus tendangan tanpa bayangan, jurus naga cap kaki tiga, banyak lagi," jawabku bohong. Kan emang aku belum ngapa-ngapain sama Mas Baim. "Oh, bisa jadi karena Baim sibuk, jadi intensitas kalian untuk begituan kurang. Nanti Ibu kirim jamu ramuan dari Madura biar intensitas kalian bertambah ya, biar cepet hamil." Ih, ngapain sih pakai dikirim ramuan kayak gitu segala. Aku kan emang menghindar biar nggak diajak gituan sama Mas Baim, sebab aku takut jadi tumbal. Akhirnya, aku bicara jujur sama Ibu. "Bu, sebenernya ... sebenernya ... Rara belum ngapa-ngapain sama Mas Baim." "Belum ngapa-ngapain gimana?" "Ya ... belum ngapa-ngapain. Belum gituan, sebab Rara takut jadi tumbal kalau gituan sama Mas Baim." "Astaga! Kurang ajar banget kamu, Ra!" Terdengar suara Ibu tegas. "Ada apa, Bu?" Terdengar suara Bapak. "Ini lho, Rara nakal banget, Pak. Masa' udah nikah dua minggu belum mau melayani suaminya." "Astaga! Nakal banget! Mana Bapak yang bicara!" Akhirnya Bapak ngomong sama aku. "Rara, ngapain kamu belum melayani suamimu? Itu dzalim tahu nggak?!" Terdengar suara Bapak marah. Bapak melanjutkan dengan sebuah hadist, "Inget ya, Ra. Abu Hurairoh pernah berkata, 'Rosulullah SAW bersabda, 'Jika seorang suami mengajak istrinya berhubungan, akan tetapi ia (istri) tidak mau mengikuti ajakan suami, hingga malam itu suaminya marah, maka ia (istri) mendapat laknat dari para malaikat hingga subuh.' Denger itu, Ra!" "Eh, busyet, ternyata Bapak hafal hadist juga ya," kataku kagum. "Ya kan gini-gini Bapak pernah mondok," jawabnya. "Di ponpes mana, Pak?" "Bukan mondok di ponpes, tapi mondok di Rumah Sakit." Oh iya ding, aku juga inget. Ibu kembali ambil alih handphone. "Ra, dengerin Ibu ya. Kamu itu beruntung banget dapat suami kaya dan ganteng kayak, Baim. Harusnya kamu bersyukur, pertahankan dia, jangan sampai diambil perempuan lain. Inget, Ra. Ninu ninu itu udah kebutuhan biologis seorang suami. Dua minggu kamu nggak melayani dia, dan suamimu mengerti, itu pertanda suamimu udah terlalu sabar sama kamu, Ra. Jangan kecewakan dia. Jangan sampai cintanya beralih pada wanita lain. Kamu yang rugi nanti," pesan Ibu panjang lebar kali tinggi. "Tapi Bu ...." "Aduuuh ... Aduuh ... Perutku sakit!" Tiba-tiba terdengar suara Bapak. "Buu, tolong! Asam lambung Bapak kumat! Bapak stres mikirin Rara yang durhaka pada suami. Tolong dia disuruh taat pada suaminya, Bu!" "Rara ...." Terdengar suara Ibu. "Iya, iya, Rara tauuu. Rara tau kalau asam lambung Bapak kumat karena mikirin Rara yang nggak mau melayani Mas Baim," kataku gemas. Kalau Bapak udah kumat penyakitnya, itu pertanda permintaan harus dikabulkan. Makanya aku ngomong gitu ke Ibu. Dari jauh terdengar suara Bapak. "Inget, Ra. Kalau sampai kamu cerai sama Baim, Bapak mau gantung diri di selot pintu! Taatlah pada suami! Layani dia sebaik-baiknya!" "Iya, iyaaaaa." Gara-gara Mas Baim ngambek dan telfon dari orang tuaku, aku jadi mikir. Iya juga selama ini aku udah dzalim sama suamiku. Aku belum pernah melayaninya setelah dua minggu pernikahan. Mas Baim sudah cukup sabar menghadapiku. Lagipula ... sebenernya aku juga mulai cinta sama suamiku. Tiba-tiba aku ingat kata-kata Ibu. "Jangan sampai cintanya beralih ke wanita lain, rugi kamu!" Deg! Aku jadi takut. Mas Baim itu ganteng, kaya, playboy, pasti dengan mudah dia bisa mencari wanita selain aku. Hiks, aku jadi takut. Lagipula kalau sampai terjadi apa-apa dengan pernikahanku, Bapak mau gantung diri di selot pintu. Hua hua huaa?? ... Aku nggak mau itu terjadi. Selot pintu di rumahku berkarat, kalau Bapak gantung diri di sana bisa-bisa pintunya rusak. Rumahku jadi nggak punya pintu dong! Berarti, aku harus melayani dan taat pada suamiku. Ye kaaan? Tapii ... gimana dong dengan kata-kata Nana sama Mbah Buyut, aku kan nggak boleh melayani Mas Baim hingga gerhana matahari (yang datang 300 tahun kemudian itu ) tiba. Aku jadi gelisah, tidur tak kenyang makan tak nyenyak. Makan pizza serasa empedu, makan empedu serasa pizza. Semua serba aneh. Karena mikirin masalah itu, aku jadi ketiduran. Sore hari aku dibangunkan oleh suara Mas Baim bersama wanita lain di ruang sebelah. "Aduh, aduh, sakit, Mas!" "Sabar, udah mau masuk, nih! Habis sempit sih lubangnya!" Astaga! Suara apa itu?? Mas Baim lagi ngapain sama perempuan lain?? Siapa perempuan itu?? Huaaaa .....????? *Bersambung*
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN