Dengan jantung dag dig dug aku mengikuti Satpam. Satpam itu memasuki sebuah ruangan. Jessy?? Aku terkejut melihat gadis itu duduk di depan seorang laki-laki yang sedang menginterogasinya. Muka Jessy tampak kusut dan ruwet kayak keterampilan rajut Ibu yang nggak jadi-jadi. "Ada apa, Kak Jessy?" bisikku. Jessy nggak menjawab, dia hanya menatapku dengan pandangan berkaca-kaca seolah minta tolong. "Anda rekan Saudari Jessy?" tanya lelaki yang menginterogasinya. "Saya Andri, kepala keamanan di supermarket ini. Saya mau memberi tahu anda, rekan anda ini mencuri, kami memerlukan anda sebagai penjamin dan menjadi saksi." "Apa Kak Jess?? Kakak mencuri??" Aku terkejut. Bagaimana mungkin dia mencuri? Dia kan orang kaya. "Tapi Pak, Kak Jessy ini orang berada. Dia punya apa saja, mana mungkin

