Bab 3. Mulai Mencurigai Alisha

1046 Kata
Walaupun merasakan kondisi tubuhnya yang sedang tidak sehat Alisha memaksakan dirinya untuk pergi ke kampus. Sudah dari semalam sang sahabat mendatangi kosannya ketika Alisha meminta tolong dibelikan obat. Alisha kabur dari apartemen mewah milik Liam, bodohnya sang dosen meninggalkan access card begitu saja di atas meja makan. Jangan salahkan Alisha saat mau makan justru mendapatkan angin segar untuk kabur. "Lo yakin mau ke kampus dengan kondisi tubuh panas begini, Sha. Izin saja, deh. Ya?" Alisha mengangguk lemah. "Sakit bukan berarti membolos." Jika sudah seperti ini Alona nggak akan bisa melarang Alisha. Temannya ini sungguh keras kepala sekali. "Gue yang bawa motor, ya? Lo cukup duduk diam di belakang." Alisha tak memberikan penolakan karena dia pun tidak memiliki cukup tenaga untuk mendebat. "Jangan ngebut-ngebut," ucapnya karena Alona nggak pernah santai kalau membawa sepeda motor. Dan Alisha lebih suka Alona yang membonceng. Keselamatan nyawanya dikesampingkan dulu karena kepalanya benar-benar sakit. Sedikit mengulas perlakuan Liam terhadapnya kemarin malam cukup membuat Alisha makin sakit hati, sakit fisik, dan terlebih sakit mental malahan. Puas menyiksa Alisha di bawah kendali—bahkan tak memedulikan kondisinya yang tidak sehat—sosok Liam egois. Puas dengan Alisha pria itu pergi ketika menerima telepon. Dari respon wajah yang menegang sepertinya penting, sampai melupakan dirinya yang kapan saja bisa kabur. Dan terbukti karena Alisha bisa kabur saat ini. Ketika sampai di rumah tak ada pesan atau telepon dari Liam, cukup membuat Alisha lega. Namun, sialnya tak sampai di situ saja, tubuhnya mendadak menggigil kedinginan. Mau tak mau meminta tolong ke satu-satunya orang yang berkemungkinan dimintai tolong. Padahal Alisha jarang sekali minta tolong. Tanpa menceritakan kejadian sebenarnya Alisha hanya mengatakan ke makam sang ibu ketika sedang hujan deras. "Seharusnya lo telepon gue dari tadi bukan menunggu sampai demam. Kalau malaikat yang nolongin malah bahaya, Sha." Alisha menahan senyum ketika mengingat omelan temannya dengan nada khawatir. "Tuh, 'kan! Senyum-senyum sendiri kayak gitu. Jangan-jangan hantu makam nempelin lo, Sha," tegur Alona memperhatikan temannya dari kaca spion. "Hush, jahat banget omongannya." "Lo aneh, ditanya baik-baik ngelaknya deres banget. Pergelangan tangan lo memar jangan bilang terkilir. Yang terkilir otomatis kaki, bukan tangan karena lo jalan pakai kaki. Bekas tangan siapa, Sha?" Deg! "Jangan sampai Alona tahu," batinnya dengan tubuh yang menegang, kepala yang bersandar di punggung Alona terangkat perlahan. Karena memakai baju pendek sehingga memar di lengannya terlihat jelas. Saat ini Alisha tak akan ceroboh lagi, sengaja memakai jaket tebal di musim panas. "Bukan hal penting, Al. Tanganku sepertinya nggak kerasa memar, entah karena pas jalan jatuh karena lumpur, kan aku nggak tahu." Alona mendengus, tetapi memilih tidak peduli. Motor yang dikendarai oleh Alona memasuki tempat parkir mahasiswa/i. Selalu ramai kalau kelas pagi membuat Alisha malas sekali. Malas terlihat oleh kakak tingkah yang tidak memiliki attitude. Seperti saat ini, baru saja turun dari motor sudah ada seorang laki-laki dengan hoodie pas badan menghampirinya. Tas tipis yang diyakini Alisha hanya berisi dompet dan ponsel saja. "Hei! Nggak usah deket-deket. Alisha lagi sakit, jangan bawa virus, ya," usir Alona mendorong bahu laki-laki itu, bahkan belum sempat bersuara—setidaknya Alisha ingin tahu tujuan kedatangannya akan tetapi, lebih dari itu dia mengucap syukur karena Alona menolongnya. Saat ini memang rasanya sedang tidak ingin diganggu. Terkecuali oleh Liam. Alisha tak berani menolak karena ancamannya cukup mengerikan. Berhasil lolos, Alisha dan Alona ke kantin terlebih dahulu untuk mengisi perut. Kelas dimulai satu jam lagi, sehingga masih memiliki waktu lebih. "Referensi lo udah sampai mana? Kemarin dapat ringkasan apa di perpus." Alona bertanya begitu keduanya baru saja duduk di meja. Alisha terdiam. Cukup bingung hendak menjawab apa. Karena pada dasarnya tidak mendapatkan apa pun bahkan tidak memasuki perpus. "Sha," panggil Alona. "Ngelamun aja, lo mau pesan apa? Bubur ayam atau nasi goreng?" Alona memang polos, dia awalnya mencurigai sesuatu, tetapi seiring berjalannya waktu akibat perutnya yang sudah keroncongan ... dia pun melupakan pertanyaan awal. "Kalau bubur aja boleh nggak? Aku cuma bawa uang sedikit, takut nggak cukup." "Halah! Halah! Kayak sama siapa saja, sok nggak enak. Padahal semalam malam-malam minta gue datang," cibir Alona tak benar-benar mengungkit. Namun, tetap saja membuat Alisha meringis merasa tidak enak hati. Gadis itu pantang meminta tolong jika tidak kepepet karena memang rasa tidak enaknya yang terlalu berlebihan. "Sorry," cicit Alisha menangkup kedua tangannya di depan d**a. Muka pucatnya membuat Alona tak tega. "Udahlah, khusus hari ini gue kasih gratisan buat lo. Supaya lo cepat sembuh terus bisa kerja lagi. Soalnya dengar-dengar kerja part time suka menekan, sampai kena serangan mental juga. Memangnya benar, ya, Sha?" "Katanya mau pesenin aku, nanti keburu masuk, Al." Upaya Alisha mengalihkan topik pembicaraan. Jangan sampai Alona penasaran dan kembali bertanya-tanya mengenai pekerjaannya. Selain dikenal sebagai joki tugas Alisha mengatakan bekerja part time di salah satu ruko yang tidak dijelaskan secara rinci. Ditengah sarapan keduanya dikejutkan dengan kedatangan sosok dosen muda yang terkenal killer. Salah satunya Alona yang langsung tergagap tidak percaya. Sang dosen berdiri di hadapannya, Alisha yang membelakangi tak begitu mengetahui wajahnya. Namun, dari aroma parfumnya sudah dapat ditebak oleh Alisha. Kepalanya menoleh ke belakang secara perlahan. Wajah datar sang dosen sebagai sapaannya. "Sebelum kelas dimulai datang ke ruangan saya. Ambil materi." "Tidak jadi kuis, Pak?" tanya Alona spontan yang langsung dibekap sendiri. "Mau kuis?" tanya balik Liam dengan nada menjengkelkan dan terdengar seperti mengancam. "He-he, besok saja kalau Pak Liam nggak sibuk." Liam langsung pergi, tapi meninggalkan ancaman dengan kode mata kepada Alisha. Hanya dua orang ini yang mengetahuinya. "Ya ampun bisa-bisanya lo santai disamperin sama dosen killer. Sekeliling meja kita sampai menahan napas, Sha." Alisha diam saja. Dalam otaknya selalu bercabang. Rencana apa lagi yang akan dilakukan oleh Liam. Kenapa pria itu tak pernah puas menyiksanya. "Sha? Muka lo makin pucet, perlu nambah nasi goreng nggak?" tanya Alona khawatir karena temannya seperti tak memiliki aliran darah. Pucat sekali, seperti vampir saja. "Aku nggak pa-pa. Ini udah cukup, kok. Makasih banyak malahan karena dikasih gratis." Alisha terkekeh dengan senyum bibir pucatnya. "Aku duluan, ya. Pak Liam orangnya nggak sabaran. Oh, ya, minta tolong kasih tahu anak-anak kalau pak Liam izin biar mereka nggak perlu belajar. Aku nggak sempat w******p ke grup," kata Alisha sebelum benar-benar pergi. Tanpa menunggu jawaban dari temannya karena saat ini harus cepat-cepat menemui sang dosen. "Jangan membuat kesalahan yang memancing amarahnya, Sha. Atau pak Liam marah karena aku kabur, ya," batin Alisha meremas tas selempangnya dengan erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN