Bab 2. Kepedulian Liam

1027 Kata
Rasanya sudah lama sekali tidak bersimpuh di depan gundukan tanah. Mungkin orang lain akan lari terbirit-b***t pulang ketika tetesan air hujan jatuh mengenai kepalanya, justru tak berlaku bagi Alisha. Dia menikmati bau tanah kering yang bercampur air hujan. Suasana sunyi terasa jelas ketika angin membawa gerakan dedaunan di atas pohon. "Mama nggak akan marah kalau aku main hujan-hujanan, 'kan? Aku capek banget, ma." Bisikan itu terdengar sangatlah lirih bahkan nyaris tidak terdengar kecuali telinga sendiri. "Lebih baik mama marah-marah karena main hujan-hujan terus besoknya aku demam. Mama khawatir banget sampai nggak kerja, terus nggak lama kemudian mama kerja di kamar, tapi sama orang asing. Dulu aku nggak ngerti pekerjaan mama itu apa, sekarang aku ngikutin jejak mama tanpa izin. Mama nggak akan marah, 'kan? Pesan mama kan yang penting aku berpendidikan biar nggak jadi orang bodoh." Di akhir kalimat ada tawa sumbang, terdengar seperti mengejek untuk diri sendiri. Putus asa dia rasakan saat ini, tapi tak menyerah begitu saja. Dia nggak mau mengecewakan sang ibu untuk kedua kalinya. Sudah cukup dengan pekerjaan hina ini dia selalu merasa bersalah kepada sang ibu. "Aku bukan terpaksa, kok, ma. Aku senang melakukannya karena dengan begini setiap langkah yang aku kerjakan selalu teringat perjuangan mama. Aku jadi semakin sayang sama mama. Setidaknya aku bisa ngerasain menjadi mama, dulu. Boleh, 'kan?" "Alisha capek, ma. Boleh ikut sama mama nggak? Mama mau Alisha hidup gunanya biar apa, sih? Kenapa mama malah perginya nggak izin sama Alisha." Tangisan itu bercampur dengan suara petir yang saling menyambar. Rasanya dia ingin di sini saja akan tetapi, suara dering ponsel di dalam tas terdengar di telingannya. Kenapa tidak dia matikan saja daya ponselnya. Sial padahal kedatangan Alisha ke sini untuk tenang sejenak. "Lihat, bahkan ketika aku mendapatkan uang banyak rasanya nggak berarti apa-apa, ma. Mau diapakan uang ini," gumam Alisha memperlihatkan layar ponselnya menghadap batu nisan sang ibu. Nama Andesy terpampang nyata. Matanya memburam, meremas ponselnya dan setelahnya memasukkan ke dalam tas. "Aku seperti boneka yang harus nurut sama tuannya. Apa dulu mama juga begini dengan si berengsek itu, ma? Kenapa kalian masih menyatu bahkan ketika sudah mati." Kebencian Alisha karena makam sang ibu berisi dua jasad. Dia masih tidak terima padahal kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu. "Tujuh tahun bukan waktu yang lama. Aku sedang menunggu mereka juga akan membunuhku." *** "Kenapa kamu betah sekali tinggal di tempat kumuh seperti ini?" "Apa pemberian dari saya tidak cukup?" "Setidaknya pakai uang dari saya untuk—" "Pak Liam," potong Alisha, dia lelah. Basah kuyup. Sedang malas mendengar ocehan dalam bentuk apa pun. "Boleh beri saya waktu? Saya akan datang ke apartemen Bapak tanpa dijemput. Saat ini saya ingin sendiri dulu." Tatapan datar Liam membuat wajah Alisha makin pucat, tetapi tidak ada pilihan selain mengusir secara halus. Jika bisa ingin sekali Alisha menyeret tubuh kekar dosennya dari kos yang katanya kumuh. Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi badan Alisha melayang. Dia tak punya cukup tenaga untuk memberontak. Entah akan dibawa ke mana, yang jelas saat ini tubuhnya direbahkan. Mengitari mobil lalu tanpa memakaikan sabuk pengaman, Liam menjalankannya. Selama perjalanan tidak ada perbincangan serius. Kepala Alisha yang pusing, badan menggigil serta wajah pucat tentu menarik atensi Liam. Dia nggak pernah khawatir seperti ini, tapi untuk Alisha mengapa rasanya tidak tega. "Kita ke apartemen saya terlebih dahulu. Dokter sudah datang," tutur Liam tanpa diminta oleh Alisha. Alisha? Dia hanya diam dengan mata terpejam rapat. Mungkin karena terlalu lama menangis sampai kantuk datang menghampiri. Begitu terbangun sudah berada di ranjang king size nan empuk ditambah selimut halus yang membungkus badannya. Terasa hangat dan nyaman dalam satu waktu sebelum pada akhirnya dehaman seseorang yang berdiri di dahan pintu mengalihkan atensi Alisha. "Pak Liam," gumam Alisha. "Minum obatnya! Jika perlu sesuatu saya ada di depan." Setelah mengatakannya Liam langsung menghilang di balik tembok tanpa berniat menutup pintu kamar. Tangannya terulur ke atas, memijit keningnya pelan. "Sebenarnya apa maunya pak Liam sama aku. Dia bisa baik bisa juga jahat tergantung situasi dan kondisi. Bahkan sampai detik ini pun aku nggak tahu alasannya. Jika bukan karena ancaman beasiswa mungkin aku nggak akan ngerasain kemewahan ini. Bersyukur?" Tidak mau dibilang nggak tahu diri dia pun bangun, meremas selimut. Dingin masih menyerangnya. Kakinya menapak di lantai dengan sandal bulu halus. Memasuki kamar mandi Alisha dibuat terkejut karena perlengkapan perempuan ada di dalam. Sangat lengkap. Apakah Liam seniat itu untuk dirinya? Kepala Alisha menggeleng pelan. "Mana mungkin pak Liam sepeduli ini. Bisa jadi perlengkapan ini milik wanitanya. Aku bukan wanitanya yang diratukan." Tak mau berpikir terlalu dalam Alisha memutuskan membersihkan diri supaya lebih cepat bisa pulang ke kos miliknya. Walau di sini nyaman dan terjamin akan lebih nyaman di tempat sendiri. Begitulah pikirnya. "Mau ke mana? Saya menyuruh kamu minum obat. Tidak ada yang mengizinkan kamu pergi selangkah pun dari apartemen ini, Alisha!" Tanpa mendongak pun sudah tahu suara tegas milik siapa itu. "Saya tidak terbiasa minum obat. Nanti akan sembuh sendiri, Pak. Saya hanya mau istirahat di kos saja." "Duduk!" "Pak—" "SAYA BILANG DUDUK, ALISHA!" Keras sekali. Bukan cuma bentakan saja karena tubuhnya didorong oleh Liam. Walau tidak keras tetap saja berefek untuknya karena tubuhnya yang masih lemas. Alisha diam saja memperhatikan pintu kamar yang dikunci. Bahkan tidak ada suara selain deru napas berat dari Liam. Pria itu berdiri bersedekap d**a di belakang pintu memperhatikan Alisha yang berusaha untuk duduk. "Saya mau pulang." "Tidak saya izinkan sebelum kamu benar-benar pulih." Kening Alisha berkerut samar. "Atas dasar apa Bapak peduli kepada saya?" "Saya? Peduli dengan kamu? Jangan mimpi terlalu tinggi, Alisha. Kamu hanyalah mahasiswi yang ... diamlah! Jangan membuat kepala saya pusing," katanya tak jadi melanjutkan ucapan yang dirasa akan terdengar menyakitkan. "Saya tidak tersinggung sama sekali, Pak. Ada baiknya kembali ke masa-masa awal pertama kali kita bertemu. Saya adalah pekerja Bapak. Dan Bapak adalah klien saya. Tidak ada yang perlu dibedakan. Oh, iya untuk baju yang saya pakai maaf tidak izin, setelah saya cuci akan saya kembalikan." "Alisha," geram Liam. "Kamu berhasil memancing saya!" Alisha terdiam, badannya otomatis melakukan gerakan mundur. Seringai dengan bibir yang tersungging sangat bahaya untuknya. Jangan sampai dengan keadaan tubuh tak berdaya dia pasrah di bawah kendali Liam. "Seharusnya," bisik pria itu menekuk setengah badannya menimpa Alisha. "Kamu paham dengan peringatan, Alisha."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN