Part 4 Sekamar

2087 Kata
Rane membuka pintu jati berwarna coklat yang ia yakini sebagai kamar cowok sok yang kini menjadi suaminya, suami? Rane masih tak menyangaka ia menikah diusia muda, menikah dengan orang yang tak dicintainya, cowok gila yang memanggilnya bunda diawal pertemuan. Rane menatap kamar yang begitu luas, kamar yang berdominasi berwarna abu itu terlihat sangat rapi dan bersih. Rane menyalakan lampu dan AC, matanya melihat isi kamar tersebut, ia duduk diranjang lalu membuka gamis milik Alma temannya. Ia tidak betah memakai baju panjang seperti itu. Rane melempar gamis itu kelantai kemudian ia berbaring di ranjang, Rane yang masih menggunakan tengtop dan celana pendek yang tentu saja milik Alma itu, karena baju yang dikenakannya basah semua terpaksa ia memakai pakaian yang bukan miliknya. Untung saja pakaian Alma masih muat ditubuh rampingnya. Rane tak peduli dengan pakaiannya yang agak terbuka walau sekarang ia sedang bukan dikamarnya, toh kamar yang ditempatinya ini milik orang yang sudah sah menjadi suaminya. Mengingat hal itu Rane jadi tertawa sendiri, gila ini gila suatu hal yang tak pernah terfikirkan oleh Rane sama sekali bisa terjadi, padahal dirinya ingin menikah saat sudah sukses menjadi designer. Atau menikah diusia 30 tahunan bukan saat ini. Rane menatap langit kamar, gara-gara mobilnya mogok ia terjebak dalam pernikahan ini, setelah ini ia harus buat perjanjian dengan Zaf, laki-laki itu bahkan Rane baru tahu namanya saat tadi. Zafran laki-laki yang ia kira miskin ternyata tak seperti yang dipikirkannya. Ia salah menilai lelaki itu, kamar tidurnya saja mewah dan luas seperti ini, ia tak bisa meremehkannya lagi. Ceklek suara engsel pintu yang ditekan, Rane memejamkan mata, ia pura-pura tidur saat orang yang membuka pintu masuk ke kamar, ia yakin itu adalah Zaf. "Astaghfirullah nih cewek benar-benar ya" sahut Zaf saat memasuki kamar sambil menggelengkan kepalanya saat melihat gadis yang terlentang diranjangnya "Heh bangun, jangan tidur dulu!" teriak Zaf, gadis itu tak bergeming Zaf ingin mencoba menarik kaki Rane awalnya ia ragu untuk menyentuh kaki seorang wanita untuk pertama kalinya, namun akhirnya perlahan ia mencoba menyentuh dengan jari telunjuknya hingga kaki gadis itu turun ke lantai, ia menatap gadis yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu, masih memejamkan mata dengan tenangnya seolah merasa tak terganggu "Rane bangun atau lo gue tarik sampai jatuh" ancam Zaf mencoba menarik kaki mulus nan putih milik istrinya itul "Apaan sih, lo ganggu tau gak!" maki Rane ia kembali ke ranjang dengan memeluk guling. Glek Zaf menelan ludah saat Rane membelakanginya gadis itu sangat seksi dengan pakaian terbukanya, tengtop Rane tersingkap membuat kulit punggungnya terlihat sedikit, gila ini pertama kali Zaf lihat b****g seorang gadis didepannya. Mau bagaimanapun Zaf adalah lelaki normal. Apalagi ia tak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Kaki jenjang dan paha Rane yang begitu putih dan mulus tanpa ada goresan sedikit pun membuat jakun Zaf naik turun tanpa disadari. Zaf memalingkan wajah sambil mengucap ighstighfar, untung saja Rane sudah sah untuknya. "Rane lo tuh cewek harusnya jaga harga diri lo untuk tak pakai baju kurang bahan, apalagi didepan cowok" ujar Zaf, Rane yang memang tidak tertidur membalikkan badan, dilihatnya Zaf yang terduduk disofa kamar. Rane duduk diranjang, ia menyila kakinya, matanya menatap Zaf "Kenapa memang? Gue suka pakai begini kalau tidur, bahkan seperti ini" mata Zaf melotot melihat kelakuan istri barunya, bayangkan Rane membuka branya langsung tanpa membuka tengtopnya, walau tak terlihat namun hal itu sangatlah tak sopan dan tak etis sebagai seorang wanita yang membuka bra didepan lelaki. Wajah Zaf memerah ia memalingkan wajah tak mau melihat Rane. Rane tersenyum puas. Rane menyimpan branya diatas nakas dekat lampu tidur. "Gue paling enggak bisa tidur pakai beha, sesak, jadi mulai sekarang lo harus terbiasa" ucapnya Zaf sedikit gregetan ada ya wanita yang begitu blak-blakan seperti Rane. "Tapi enggak buka didepan gue juga bisa kali! Lu tuh benar-benar ya gak punya sopan santun sebagai cewek" oceh Zaf menurutnya perbuatan Rane benar-benar memalukan. Rane tertawa membuat Zaf menatap tajam Rane "Hahaha kenapa emang? Bukannya gak masalah buka-bukaan didepan suami?" ucap Rane ia senang melihat wajah Zaf yang memerah menahan malu "Lo suami gue kan? Udah lah Zaf gak usah muna, laki-laki dikasih lihat yang bening juga ga nolak" ujar Rane, Zaf tidak menjawab ia memilih masuk ke kamar mandi. "Zaf" panggil Rane saat Zaf mau masuk ke kamar mandi. "Mending sini sama aku, dari pada main sendiri" goda Rane sembari menepuk kasur disampingnya dengan tatapan yang begitu menggoda? Yang ada menjijikan menurut Zaf. Brakkk Suara pintu terbanting. Rane tertawa kencang "Hahaha Astaga gila gue sampai senekat ini cuma buat ngerjain tuh orang, seru juga buat hiburan gue" gumam Rane sambil tertawa. Beberapa menit kemudian Zaf keluar dari kamar mandi, wangi sabun tercium di indra penciuman Rane "Wihh udah man... Glekk" Rane meneguk ludah saat menengok melihat Zaf yng hanya pakai handuk melilit dipinggangnya. "Apa lihat-lihat! Mandi sana!" judes Zaf ia terpaksa keluar kamar mandi dengan handuk saja karena ia lupa tak membawa pakaian. Malu sebenarnya namun mau bagaimana lagi, toh Rane adalah istrinya. "Cakep juga badan lo" Rane mendekat ia berdiri disamping Zaf yang berdiri di depan lemari. Zaf risih wanita bar-bar mirip alm bundanya menatapnya naik turun. "Rane bisa gak sih gak usah natap gue kaya gitu, buruan mandi! Atau lo gak boleh tidur di ranjang gue!" ujar Zaf membuat Rane merengut "Gue gak ada baju ganti" "Pakai aja baju gue, tuh ambil dilemari" Rane membuka lemari milik Zaf tanpa malu ia mengambil celana boxer dan sebuah kemeja putih milik Zaf, ia langsung berlari ke kamar mandi saat lelaki itu menatapnya "Jangan warna putih Rane!" teriak Zaf namun diabaikan Rane, Zaf menghela nafasnya gadis itu benar-benar membuatnya pusing. Bagaimana nanti dengan rumah tangga kedepannya, Zaf hanya bisa banyak berdoa. Setelah berpakaian Zaf duduk di kursi meja belajarnya "Bun, mah, hari ini Zaf sudah nikah, istri Zaf gadis itu gadis yang mirip bunda. Entah bagaimana hidup Zaf nantinya bun,ma, semoga Zaf bisa selalu bertahan dengannya dan bisa mengubah sikap buruknya perlahan." Zaf mencium foto dibingkai, foto 2 wanita cantik, wanita yang selalu dirindukan Zaf dan ayahnya. Tak lama suara pintu kamar mandi terbuka, Rane yang sudah terlihat segar menghampiri Zaf yang duduk di kursi meja belajarnya "Lo lagi peluk foto siapa sih?" tanya Rane ia berdiri dibelakang Zaf lalu mengambil bingkai foto yang masih dipegang oleh Zaf "Lho lho ini siapa Zaf, kok cewek yang satunya wajahnya mirip banget gue, enggak ini sama persis kaya gue astaga" Rane sedikit syok saat melihat foto itu, dengan cepat Zaf merebut bingkai foto itu lalu ia taruh dan memajangnya kembali di meja. "Dia bunda gue namanya Rania" "What? Apa? Kok bisa" kaget Rane ia menatap tak percaya "Iya makannya gue kaget pertama kali melihat lo, wajah lo seperti bunda sama persis hanya saja.. " "Gue gak pakai kerudung dan bunda lo berkerudung" Zaf mengangguk "Dan sikap kalian begitu berbeda" Rane kini yang mengangguk, ia menatap foto itu lagi masih dengan rasa tak percayanya "Terus dimana bunda lo? Lalu yang satu itu siapa?" tanya Rane penasaran "Bunda sudah meninggal beberapa bulan setelah gue dilahirkan, yang sebelah ini mama gue namanya Anggun ia sudah meninggal juga saat gue umur 7 tahun" ujar Zaf menatap foto kedua ibunya sedih "Ehmm gitu ya, maaf ya jadi membuat lo ingat lagi" "Gak masalah, gue emang mau ngenalin mereka ke lo, bagaimanapun lo sekarang menantunya" Rane terdiam menantu? Apa Zaf benar-benar serius dengan pernikahan ini "Ayo kita berbicara" Zaf berdiri lalu menatap Rane yang berdiri dari atas sampai bawah, Zaf menggelengkan kepalanya ia baru sadar saat melihat Rane memakai pakaian miliknya salahnya membiarkan gadis itu memakai pakaiannya, nyatanya Rane seperti tidak memakai celana, kemeja putih kesayangannya juga tak mampu menutupi tubuh lain gadis itu, begitu kentara apalagi Rane tidak memakai dalaman, ia menghela nafasnya menetralkan degupan didadanya. "Lo bisa ganti baju yang benar dulu gak!" ujar Zaf matanya begitu tak nyaman melihatnya "Enggak, emang kenapa gue suka kemejanya adem" ujar Rane ia duduk diranjang, ia membuka handuk yang membungkus rambutnya lalu mengibaskan rambut pirangnya ke kanan kiri "Seksi" batin Zaf, ia menggelengkan kepala ia tak boleh terbuai godaan istrinya itu, walau ini malam pertamanya namun ini pernikahan sama sekali yang tak direncanakan jadi jangan berharap akan ada malam pertama seperti pengantin pada umumnya. Zaf merasa tidur sekamar dengan gadis yang belum begitu dikenal adalah kesalahan besar, walau gadis itu istrinya, nyatanya Zaf tak tahu jika Rane akan berbuat aneh-aneh dikamarnya. Benar-benar gadis yang memalukan. "Sudah menatap guenya? Gue tau gue cantik dan seksi Zaf, tapi jangan harap ada malam pertama okey.. Jadi apa yang mau lo bicarakan?" ucap Rane menyadarkan Zaf dari lamunan Zaf ikut duduk di ranjang tapi dengan menjaga jarak dengan Rane. "Gue akan serius dengan pernikahan ini" ujar Zaf to the point Rane menatap Zaf lalu tertawa "Hahaha lo seriusan? Emang lo mau sama gue yang begini? Gue tau lo risih Zaf, udahlah gak usah memaksakan. Bukan kah kita ini nikah siri? Lo bisa ceraikan gue dan masalah selesai" ujar Rane begitu santai "Segampang itu lo ngomong? Bagi gue apa yang sudah gue ikrarkan gue akan menepati itu, gue sudah berjanji pada Allah dan orangtua lo, dan masalah nikah siri besok gue akan mengurus nikah kita ke KUA" ujar Zaf begitu tegas "Apa? Enak aja, dengar ya gue nikah sama lo itu terpaksa, dan sekarang lo mau serius? Enggak gue belum siap, gue masih mau bebas dan gue punya pacar" ujar Rane menolak tegas ucapan Zaf "Itu urusan lo Rane, orangtua lo pun sudah menyerahkan ke gue, dan lo sekarang tanggung jawab gue, mau gak mau lo tetap jadi istri gue!" "Enggak!" "Iya! Salah lo sendirikan yang gak mau jujur dan lo milih gue nikahi, jadi tugas lo sekarang dan seterusnya adalah taat sama gue sebagai suami." "Haha iya tapi gue hanya bercanda dan iseng , hayolah Zaf kita gak saling kenal dan apa itu taat? Ogah banget ya Zaf, gue gak mau." "Dasar keras kepala! Lo tuh istri gue sekarang Rane, kita bisa mengawali pernikahan ini menjadi teman dulu jika lo gak mau kita sebagai pasangan suami istri" Rane menimbang ia memikirkan sejenak, kemudian mengangguk, "Oke tapi gue ada syarat" "Apa? " "Lo gak boleh sentuh gue, dan yang terpenting jangan saling campuri urusan pribadi" "Oke tapi tidak dengan yang kedua, gue harus tau urusan lo, karena bagaimana pun lo istri gue. Jadi siapa pacar lo?" "Apa gak bisa gitu Zaf, gue gak mau!" protes Rane "Mau gak mau harus mau, Rane kita sudah sama-sama dewasa, dan kita sudah saling terikat dengan janji yang bukan main-main, gue janji gak akan terlalu mengekang lo" "Gue pegang janji lo, pacar gue Geral, gue baru pacaran sama dia belum lama karena dia susah banget dikejar, gue harap lo gak ganggu hubungan gue dengan Geral" Suara deringan ponsel berbunyi, membuat percakapan mereka berdua berhenti, Rane mengambil ponselnya dinakas, sebelum mengangkat Rane menjauhkan ponselnya, lalu merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan . Zaf yakin yang telpon adalah pacar sang istri, mau apa tengah malam begini menelpon "Putusin dia Rane!" Rane melotot tak suka, ia segera mengangkat panggilan video itu "Halo sayang" "Rane kamu sedang apa?" "Baru selesai mandi Yank" jawab Rane dengan senyum manis "Wow pantes cantik dan seksi banget" Rane tersenyum ia senang dengan pujian Geral Zaf menatap tak suka, ia jijik dengan ucapan Geral, itu pasti Geral teman sekelasnya, laki-laki playboy yang sangat digilai banyak wanita. Zaf tak menyangka Rane adalah pacar Geral "Hehe kamu juga ganteng yang, kamu lagi di mobil ya mau kemana?" "Aku pengen ke apartemen kamu Rane, bolehkan aku menginap?" "Hah apa? Maksudku kenapa mendadak sayang, aku lagi gak di apartemen" Brukk ponsel Rane tergeletak mengenaskan dilantai, Zaf membantingnya "Apaan si lo Zaf banting hp gue segala" teriak Rane marah ia mengambil ponselnya, Zaf tersadar apa yang dilakukannya seperti laki-laki cemburu saja. "Kalau cemburu bilang aja kali, gak usah ngebanting hape gue" ujar Rane kesal "Gue gak cemburu Rane, gue minta lo putusin Geral dan apa pantas seorang laki-laki menginap di apartemen wanita, sudah seberapa jauh hubungan kalian Rane?" tanya Zaf ia takut Rane benar-benar memiliki hubungan spesial dengan Geral lebih dari pacar, ia sangat tahu Geral, laki-laki sombong yang selalu bermain dengan banyak wanita. "Seberapa jauh? Lo terlalu kepo dengan urusan gue Zaf, Geral mau tidur di apart gue bukan urusan lo! lo itu hanya suami baru satu hari dan lo gak ada hak buat atur gue" Rane menelpon kembali kekasihnya saat ponselnya sudah kembali menyala, ia keluar kamar dengan membanting pintu. Zaf menghela nafas ia meraup wajahnya "Ya Allah aku harus bagaimana? Detik ini Rane masih istriku, apa aku harus melepasnya? Tidak, aku tidak akan melepas Rane, aku akan melindungi gadis itu" Walau Zaf tak tahu hubungan Rane dengan Geral sudah sejauh apa, ia ikhlas menerima Rane apa adanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN