Part 5 Ayah Adipati

1867 Kata
Adzan subuh sudah berkumandang setengah jam yang lalu, Dua orang laki-laki memasuki rumah yang menjadi tempat tinggal mereka selama bertahun-tahun. Rumah yang penuh kenangan bagi laki-laki paruh baya yang sudah tak muda lagi. Kenangan yang masih begitu membekas tak pernah laki-laki yang sudah menjadi ayah itu melupakannya. Ia berharap tak terulang kembali pada sang anak. "Zaf baik-baik dengan istrimu, sayangi dia, jangan bentak atau berbuat kasar dengannya, lindungi istrimu, walau belum ada cinta dihatimu, namun yakinlah cinta dan rasa sayang itu akan ada." nasihat sang ayah yang Zaf akan ingat selalu, ia ingin seperti ayahnya yang selalu menyayangi dan mencintai bunda dan mamanya hingga akhir hayat, bahkan ayahnya rela tak menikah lagi hanya untuk tetap setia dengan kedua ibunya. Namun yang pasti Zaf tak ingin memiliki dua istri seperti ayahnya, entah seperti apa kehidupan ayahnya waktu muda dengan dua istri, Zaf tak pernah mengetahuinya, karena sang ayah tak pernah menceritakan sedikit pun, mungkin ayahnya takut akan membuka kenangan indah lamanya. Zaf hanya bisa berharap ayahnya bisa bahagia, jika ada wanita baik yang ingin menjadi istri ayahnya, Zaf tak mempermasalahkan ayahnya menikah lagi. Zaf naik tangga meninggalkan ayahnya diruang tamu, Adipati menatap anak semata wayangnya "Jangan seperti ayah nak, ayah yakin kamu laki-laki baik dan pintar tidak bodoh seperti ayah." gumamnya ia tak kuasa menahan air mata. Hidup Adipati begitu sepi, jika tak ada anak kebanggaannya mungkin Adipati memilih mengakhiri hidupnya. Setelah melihat gadis yang sangat mirip dengan mendiang istri pertamanya, semangat hidupnya kembali muncul, Adipati ingin membahagiakan Rane sebagai putrinya, selain Rane adalah menantunya ia ingin Rane benar-benar menjadi putrinya, ia akan menyayangi Rane setulus hati, menjaga Rane seperti ia menjaga Zaf. "Rania izinkan aku menebus semua salahku dengan istri anak kita, aku ingin menjadikannya anak kita, anak yang sangat mirip denganmu, karena kamu pasti tau Zaf mirip aku. Maka dari itu biar adil ada Rane ditengah-tengah kita." Adipati berbicara didepan foto alm istrinya yang terpampang besar dikamarnya. "Bolehkan aku memanjakan dirinya, disisa umurku yang entah kapan aku akan dipanggil untuk bisa Bertemu kamu dan Anggun, Anggun apa kabar dia? Sepertinya sudah lama aku tak menyapa istri keduaku" Adipati berbicara layaknya ia berbicara dengan orang lain, Adipati selalu seperti itu jika ia sudah memasuki kamarnya. **** "Rane" panggil Zaf didepan pintu kamar sambil mengetuk pintu. Setelah Rane keluar kamar tadi malam, gadis itu tak kembali kekamarnya, Zaf membiarkan Rane tidur dikamar tamu. Mungkin itu lebih baik daripada mereka tidur sekamar. Saat tengah malam tanpa sepengetahuan Rane, Zaf masuk ke kamar tamu, untung saja tidak dikunci, ia melihat Rane yang sudah tertidur pulas dengan selimut yang membalut tubuhnya. Zaf tersenyum menatap Rane, gadis itu sangat cantik saat tidur, Zaf berfikir apa bundanya seperti itu saat tidur? Zaf ikut berbaring disamping Rane, matanya masih tak berpindah melihat Rane, saat tertidur Rane terlihat sangat damai dan tenang, namun saat bangun gadis itu sangat bar-bar. Zaf menikmati momen ini, ia ikut memejamkan mata disamping Rane. Mata Zaf terbuka saat sepertiga malam, tanpa alarm ia selalu akan terbangun untuk membagi waktu tidurnya untuk bersujud. Ia bangun dan akan pindah ke kamarnya sendiri sebelum itu Zaf memberanikan diri memberikan sedikit kecupan di dahi Rane, ia tersenyum geli, kenapa hatinya akan berdebar saat bersama gadis yang selalu membuatnya kesal, gadis yang baru dinikahinya belum 24 jam. Semenjak kalimat sakral itu keluar dari bibirnya, Zaf langsung merasakan ingin melindungi Rane dan memilikinya? Entahlah apa ini yang dinamakan cinta setelah menikah? Zaf masih ragu namun hatinya selalu berdebar rasanya lebih berdebar saat dibanding melihat Alma gadis yang disukainya dari jauh, mengingat Alma pupus sudah harapan nya untuk memersunting Alma. Namun Zaf tak menyesali, kini sudah ada gadis yang sudah ia halali walau jauh dari kriteria istri idamannya. Zaf memandang lagi gadis halalnya ia tersenyum kecil saat dirinya berdebat dengan Rane rasanya ia ingin mencubit pipi gadis itu. Mungkin terdengar aneh karena ia tak kenal Rane sebelumnya namun ini nyata Zaf benar-benar merasakan itu semua. Namun ia masih harus menutupi perasaan yang baru muncul, ia tak mau sampai Rane langsung mengetahui perasaannya. Karena Zaf yakin Rane akan menertawainya. Ia akan membuat Rane mengatakan cinta terlebih dahulu, terdengar konyol, namun Zaf harus lebih mengenal sifat istrinya, ia yakin seiring berjalannya waktu Rane akan mencintainya. Karena tak ada sahutan dari dalam kamar, Zaf membuka pintu lalu ia masuk kekamar yang ditempati Rane "Ckck dasar bar-bar" gumam Zaf saat melihat cara tidur Rane yang sudah tidak beraturan, selimut berantakan, bantal guling jatuh, dan posisi tidur Rane yang begitu jabrah. "Rane bangun!" teriak Zaf, Zaf mendekat sepertinya Rane gadis yang sulit dibangunkan. "Ranella bangun, lo gak kuliah?" Zaf menyentuh lengan Rane dan menggoyangkannya. Sudah 10 menit Rane tak bangun-bangun juga, Zaf mengambil ponselnya membuka yutub dan mengetikkan sebuah keyword tak lupa ia menekan tombol volume hingga full. Zaf menaruh ponselnya didekat telinga Rane 1 2 3 "Sialan" makinya membanting ponsel yang ada disebelah telinganya, untungnya Rane membanting ponselnya dikasur. Mata Rane melotot mentap seorang laki-laki yang menertawainya "Gila ya lo? Kuping gue bisa budek" "Siapa suruh kebo, bangun sudah siang!" Rane melirik jam di dinding "Siang apanya, ini tuh masih pagi Zaf, keluar lo, gue mau tidur lagi" usir Rane kesal ia berbaring lagi lalu menarik selimut. Zaf membangunkan Rane lagi dan menyuruh Rane sholat. Namun jawaban Rane membuat Zaf kaget "Gue gak pernah sholat, jadi jangan pernah suruh gue hal itu!" Zaf menghela nafas, ia akan berusaha membuat gadis itu mau belajar sholat dan mengaji. Mana mungkin kan istrinya itu tak akan sholat selamanya, Rane sudah menjadi tanggungannya, segala dosa istrinya akan ditanggungnya bila ia tak mengingatkan dan membimbing sang istri. "Ella bangun, gak baik tidur dipagi hari, lo gak kuliah?" Saat Zaf mau meninggalkan Rane gadis itu bangun lalu duduk bersila, wajahnya masih khas orang bangun tidur dengan rambut yang begitu berantakan. "Lo panggil gue apa tadi?" "Ella" "Nama gue Ranella dan panggil gue Rane!" protes Rane tak suka dipanggil dengan sebutan Ella "Suka suka gue dong, Ella lebih enak manggilnya" "Terserah lo, gue gak bakal nengok kalau lo panggil Ella, Mobil gue dimana Zaf? Gue harus pulang ke apart" "Mobil lo udah dibawa ke bengkel" Rane menghela nafas "Terus gue pulang naik apa? tas dan barang-barang gue dimobil semua" Zaf keluar kamar meninggalkan Rane yang menggerutu. Gadis itu bangun ingin mengejar lelaki yang sudah jadi suaminya itu.. baru ia mau membuka pintu sudah terlebih dahulu terbuka membuat dahinya terbentur pintu "Aduhh, Aww" ringis Rane mengelus dahinya "Eh maaf" "Maaf maaf kalau mau masuk ketuk dulu kek, gak tau apa ada orang didalam" omel Rane sambil mengelus dahinya, Zaf hanya tertawa kecil sambil mengucap maaf "Nih barang-barang lo, cepat mandi kalau mau gue antar" ujar Zaf melemparkan tas, dan beberapa paperbag yang Zaf yakini belanjaan gadis itu yang berada di mobil. Orang suruhan ayahnya yang mengantar barang barang Rane dimobil. "Ahh belanjaan gue, beruntung kemarin gue abis belanja baju, dan daleman" ujar Rane membuka paperbagnya, mengeluarkan sebuah dress berwarna merah lengkap dengan pakaian dalamnya. Zaf keluar dari kamar kemudian menuju ruang makan, ia duduk di meja makan bersama ayahnya. "Istri kamu mana?" tanya sang ayah dengan sumringah, semenjak ayahnya melihat wajah Rane, Zaf merasa ayahnya terlihat lebih bersemangat. "Masih mandi sepertinya yah" Adipati hanya mengangguk, seorang asisten rumah tangga yang memang disewa Adipati pulang pergi menaruh berbagai makanan untuk sarapan dipagi hari ini. Rane turun dengan tampilan yang membuat pandangan dua pria di meja makan sedikit kaget, Adipati dan Zaf langsung memalingkan wajahnya dari Rane yang kini duduk disamping Zaf. "Hai selamat pagi semuanya" sapa Rane dengan senyumnya "Pagi Rane" sapa Adipati sambil tersenyum Rane mengambil selembar roti lalu menaruhnya ke piring, Rane mulai mengigit roti polos tanpa selai apapun. Merasa dilihati Rane pun bertanya "Kenapa ya kok pada lihat Rane? Rane tau kok kalau Rane cantik" ucap Rane PD Zaf menggelengkan kepalanya begitu juga Adipati Sarapan pagi sudah selesai, bibi yang membereskan piring kaget melihat seorang wanita duduk di meja makan bersama majikannya, terlebih kaget karena wajah wanita itu mirip mendiang istri majikannya. Seperti tahu kagetnya bu Sri, Zaf tersenyum "Bu ini Ranella dia istri Zaf, kami baru menikah tadi malam" ujar Zaf sopan mengenalkan Rane pada ibu Sri "Apa? Maaf maksud saya ini benar istri mas Zafran? Kok mirip alm bu Rania" ucap Sri membuat Zaf tersenyum "Iya bu, tapi dia beda kok, bukan kembaran atau anak bunda, dia anak bule yang memang wajahnya mirip bunda, Ella ayo salim sama ibu Sri, ibu Sri ini sudah aku anggap ibu sendiri" ucap Zaf, Rane melirik Zaf sinis lalu memandang ibu tua dengan jilbab lusuhnya dengan tatapan merendahkan "Salim? Yang benar saja Zaf? Diakan pembantu" tolak Rane membuat Zaf tak enak dengan ibu Sri, ibu pengasuh dari ia kecil, Zaf menganggap ibu Sri ibunya juga karena ibu Sri juga sudah berjasa menjaga dan menyayanginya waktu kecil Ibu Sri paham ia tersenyum lalu permisi ke belakang, Adipati hanya diam memperhatikan menantu barunya, sedikit demi sedikit akan terlihat sifat gadis itu. "Ayah Zaf berangkat dulu ya" Zaf pamit sembari mencium punggung tangan ayahnya Rane yang berada disamping Zaf mau tak mau mengikuti Zaf untuk mencium tangan ayahnya "Kamu naik apa Zaf?" "Naik motor" "Apa naik motor? Gak gue gak mau, lo gak liat gue pake dress begini dan gue gak mau kulit gue kena panas dan debu ya" tolak Rane "Terserah kalau gak mau berangkat aja sendiri" ujar Zaf ia mulai berjalan namun dihentikan sang ayah "Zaf jangan gitu kamu bawa mobil apa salahnya, kasian istri kamu, Rane mau naik mobil kan? Ayo ke garasi" ujar Adipati Rane mengekori ayah mertuanya, mau gak mau Zaf mengikutinya Mata Rane melotot melihat ada beberapa mobil mewah di garasi, ada beberapa motor gede dan juga motor matic butut berwarna merah yang pernah menabrak mobilnya terparkir rapi di garasi. "Ayah Zaf pakai motor saja ya, kita hanya mau kuliah yah" ujar Zaf ia malas jika sudah berkaitan dengan mobil mewah, melihat mata Rane yang berbinar, Zaf tau pasti Rane ingin naik salah satu mobil mewah di garasinya. "Kamu mau naik mobil yang mana Rane?" tanya Adipati "Bener yah Rane boleh pilih?" "Iya, dari pada mobil ayah gak dipakai sama pemiliknya, kamu bisa pakai Rane, anak ayah soalnya gak pernah mau pakai mobil pemberian ayah" ujar Adipati, Zaf menghela nafasnya ayahnya selalu begitu, semenjak mamanya meninggal, ayahnya jadi sedikit berbeda, lebih suka menghamburkan uang untuk membeli barang yang tidak dibutuhkan, seperti mobil mewah untuk mengoleksinya. "Ayah Rane mau pakai mobil itu boleh?" unjuk Rane pada mobil yang berwarna silver "Boleh, tapi kamu perginya sama Zaf ya. Soalnya yang itu mobil keluaran terbaru yang ayah belikan khusus untuk Zaf dihari ulangtahunnya bulan lalu" ujar Adipati sambil tersenyum ia senang akhirnya mobil yang baru dibeli sebulan lalu saat Zaf ulang tahun dipakai, karena mobil baru itu baru sekali dipakai Zaf saat mencobanya. Rane menatap Zaf tak percaya, gila laki-laki yang terlihat berpenampilan sangat sederhana mempunyai mobil semewah ini, ingatkan Rane untuk tak merendahkan orang yang berpenampilan biasa. Zaf sangat sangat terpaksa mengikuti apa mau istri barunya, melihat senyum ayahnya yang begitu sumringah membuat Zaf bahagia dan tak tega untuk menolak permintaan ayahnya untuk memakai hadiah dari ayahnya, tampaknya Rane membawa dampak baik untuk ayahnya. Zaf juga merasa sepertinya kasih sayang ayahnya akan terbagi dengan gadis yang mirip alm bundanya. Padahal belum 24 jam ayahnya bertemu Rane namun dapat membawa dampak yang luar biasa. Semoga kedepannya baik- baik saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN