Anggota Star Moon kecuali Ryung Seok melihat cara berdo'a Yumna, lalu melihat ke arah Ryung Seok yang langsung diangguki olehnya. Mereka melihat keduanya takjub, lalu berdo'a sesuai keyakinan masing-masing.
Setelah sarapan, Ryung Seok dan teman-temannya pergi ke Gereja. Sedangkan Yumna, membereskan meja dan mencuci piring.
"Gini nih, sudah tinggi tapi masih kurang. Eh-" dia terkejut ketika mangkuk yang dipegangnya hampir jatuh.
Yumna melihat tangan yang familiar membantunya memegang mangkuk, lalu menyimpannya dalam lemari piring. Jantungnya berdebar-debar, ketika merasakan d**a sang kakak menyentuh punggungnya.
"Lain kali, taruh di meja dulu. Nanti kakak yang masukkan," Ryung Seok berkata tepat di telinga adiknya.
"Kakak kenapa balik lagi?" tanya Yumna sedikit menjauh dari kakaknya.
"Kuncinya ketinggalan," jawab Ryung Seok sambil berjalan mendekati meja makan dan mengambil kunci yang tergeletak.
Yumna mengelus d**a untuk menormalkan debaran jantungnya.
"Oh iya, Kak. Nanti aku ke pasar ya, banyak bahan yang habis,” Yumna berjalan mengikuti kakaknya sampai depan pintu.
“Kebetulan ada diskon kepiting di sana," lanjutnya lagi.
"Pulang dari Gereja, nanti kakak anter," Ryung Seok mendekati adiknya dan mengusap lembut kepalanya.
"Aku bisa sendiri. Kalau kakak ikut, nanti heboh satu pasar," Yumna mulai berkata dengan nada kesal karna merasa sang kakak tidak percaya padanya.
"Kamu ngajak kakak debat?" Ryung Seok menyentil kening adiknya.
“Aduh ...! Sakit tahu kak. Kebiasaan ini, aku sudah besar,” Yumna kesal menatap kakaknya sambil mengusap keningnya.
Yumna menghela napas lalu mendorong kakaknya keluar, kemudian menutup pintunya. Dia tahu tidak akan ada habisnya berdebat dengan sang kakak.
"Dasar keras kepala," Yumna berkata lirih sambil menatap pintu.
Sebelum mengerjakan tugas kuliah, Yumna menonton drama kakaknya. Dia duduk di kursi sambil menatap laptop di meja belajarnya.
"Ciuman sama aktor tampan kayak kakak, gimana rasanya, ya?” tanya Yumna ketika melihat kakaknya beradegan ciuman. Dia mengomentari semua adegan sang kakak sambil memakan camilannya.
"Aku jadi penasaran gimana rasanya ciuman. Kira-kira, siapa ya nanti yang jadi first kissku. Tapi ngomong-ngomong, first kiss kakak siapa ya?" dia berkata sambil memegang bibirnya sendiri.
"Sudah, sudah, jadi ngelantur. Belajar Una, belajar," lanjutnya sambil menutup jendela video lalu mengerjakan tugasnya.
Yumna duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Dia ingin menelpon kakaknya, tapi ragu karna takut menganggu. Selang beberapa menit, ponselnya berbunyi. Yumna melihat nama kakaknya di layar ponsel, gegas dia mengangkatnya.
“Halo, Kak,” katanya.
“Kamu tunggu satu jam lagi, ya? Kakak masih ada S-live,” pinta Ryung Seok dari seberang sana.
“Aku pergi sendiri saja, Kak. Pulangnya aku naik taxi,” kata Yumna.
“Tunggu kakak. Jangan debat lagi,” Ryung Seok berkata dengan tegas, tanpa bisa dibantah.
“Kakak nggak pernah percaya sama aku, ngeselin tahu nggak,” Yumna mematikan teleponnya dengan kesal.
Yumna meninggalkan ponselnya di ruang tamu, lalu pergi ke kamar mandi tanpa peduli ponselnya berbunyi. Setelah berpakaian rapi, dia mengambil ponselnya dan melihat banyak panggilan tidak terjawab dari sang kakak. Yumna mengetik lalu mengirim pesan itu pada kakaknya.
Di dalam mobil, Ryung Seok hanya menghela napas ketika adiknya mematikan telepon karna kesal.
“Ngambek lagi,” katanya sambil menatap layar ponselnya.
“Bukan nggak percaya, kakak cuma ingin berikan yang terbaik buat kamu,” Ryung Seok berkata sambil menyandarkan punggungnya.
Ketika akan menyalakan mobilnya, Ryung Seok melihat amplop coklat di kursi penumpang. Dia meraih amplop itu, lalu membukanya. Ryung Seok membaca kertas-kertas itu dengan raut wajah serius, lalu mengernyit.
“Wisnu Dirgantara,” batinnya.
Sementara di dalam bis, Yumna memakai earphones dan melihat kakaknya di S-live.
"Nggak heran banyak fans perempuannya, kakak paket komplit. Sudah tinggi, tampan, badannya kekar, pinter pula," batinnya.
"Kira-kira turunan dari mama atau papanya, ya?" Yumna menerawang jauh.
***
Sesampainya di pasar, Yumna mulai belanja kebutuhan dapur. Dia tersenyum ketika melihat kepiting besar sedang diskon.
"Bibi, yang ini satu ekornya berapa?" tanya Yumna sambil menunjuk kepiting di depannya.
"250.000, Nona," jawab bibi penjual.
"Tolong bungkus empat ekor ya, Bi," Yumna menyerahkan uang pada bibi penjual.
"Disuruh nunggu, nggak pernah mau denger," seseorang di samping Yumna berkata seperti berbisik.
Yumna mengenali suara itu, lalu menoleh ke arahnya. Dia terkejut melihat kakaknya memakai pakaian yang terlalu mencolok. Mulai dari jaket, topi, dan masker semuanya berwarna serba hitam.
"Kakak ngapain di sini? Tunggu di parkiran saja, kakak terlalu mencolok," Yumna berkata lirih sambil menatap kakaknya, lalu memandang sekitarnya.
"Kamu masih lama?" tanya Ryung Seok, firasatnya tidak enak melihat sekitar.
Sebelum Yumna menjawab, terdengar teriakan dan banyak yang berlari mendekati mereka.
"Kya ...! Kak Ryung Seok,"
"Itu beneran, Lee Ryung Seok. Aku mau foto dan tanda tangannya,"
Dalam sekejap, Ryung Seok dikelilingi para fansnya yang kebanyakan perempuan. Yumna mengambil kepitingnya dan mengucapkan terima kasih pada bibi penjual. Dia terpaksa mundur karna dorongan dari para fans.
Yumna hanya menggelengkan kepala melihat kakaknya, sedangkan sang kakak melihat dengan tatapan meminta tolong. Dia melihat gadis berhijab seusia anak SMA, berdiri tidak jauh dari kerumunan. Gadis itu memperhatikan kakaknya dengan kamera di tangannya.
"Dia juga fansnya kakak?" batinnya.
Yumna melihat kakaknya, lalu berteriak dengan kencang.
"Kya …! Ada Hyuk San dan anggota Star Moon lainnya," Yumna menunjuk sembarang tempat untuk menarik perhatian.
Para fans yang mendengar teriakan Yumna, berbalik dan mencari di mana idola lainnya itu. Yumna melihat kesempatan, gegas dia meraih tangan sang kakak dan mengajaknya berlari bersama meninggalkan pasar.
Ketika di parkiran, Ryung Seok dan Yumna bersandar pada bagasi mobil untuk menstabilkan napasnya yang terengah-engah karna berlari.
"Untung bisa kabur," Yumna berkata sambil melihat kakaknya.
"Seru kan?" tanya Ryung Seok tersenyum menatap adiknya.
"Kakak yang suka di kejar, aku nggak. Itulah kenapa aku bilang pergi sendiri saja," kata Yumna.
Ryung Seok hanya diam melihat adiknya, lalu beralih pada kedua tangan sang adik yang penuh dengan kantong belanjaan. Dia mengambil alih semua kantong belanjaan dari tangan adiknya, lalu memasukkan ke dalam bagasi. Keduanya pun masuk ke dalam mobil.
“Jangan ngambek lagi. Kakak bukan nggak percaya sama kamu. Kakak seperti ini ke kamu, ada alasannya sendiri ….” Ryung Seok mengusap lembut kepala adiknya, lalu berhenti sesaat ketika mengingat kertas-kertas yang dia baca tadi.
“Kakak nggak tega, kamu bawa banyak belanjaan kayak tadi. Kakak cuma ingin yang terbaik buat kamu,” lanjutnya tersenyum.
“Aku tahu, Kak. Tapi ada kalanya kakak harus percaya sama aku, biar aku juga nggak bergantung sama kakak terus,” kata Yumna.
“Kakak nggak keberatan kamu bergantung sama kakak, jadi jangan ada pikiran seperti itu. Kakak nggak suka, kamu dekat sama Noel apalagi sampai bergantung sama dia nantinya," Ryung Seok berkata dengan nada tegas.
“Aku nggak ingin bergantung ke siapapun nantinya, Kak. Kakak nggak suka Noel, alasannya apa?" tanya Yumna penasaran.
“Kalau sudah saatnya nanti, kamu akan tahu,” jawab Ryung Seok.