bc

Cerita dari Desa

book_age4+
4
IKUTI
1K
BACA
family
sweet
small town
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Aku hidup di desa ini. Dengan kaki yang terbiasa menapaki pematang sawah yang licin dan berlumpur. Mendengar kicauan burung yang setiap hari bertengger di sana sini. Bahkan pada pohon jati yang meranggas di musim kemarau.

Para buruh tani,pedagang jamu,dan warung-warung kelontong mewarnai desa yang damai. Desa dimana suara gergaji kayu terdengar di malam yang gulita. Atau suara gelembung yang dihasilkan beribu-ribu ikan yang diternakkan di kolam beton. Menjadi sebuah gemuruh atau gempa yang membuat terkejut.

Aku hidup di desa ini. Dengan terbiasa memakan jajanan pasar yang dibawa tukang sayur keliling. Kicak,cenil,utri,roti monitor menjadi temanku merangkai waktu tuk tumbuh besar.

Para penerbang layangan yang menikmati surganya. Sampai rela berlarian di pematang sawah yang mampu membuatnya tergelincir. Tapi sepertinya mereka slalu berhasil,dengan suara gapangan yang tertinggal di malam yang sunyi.

Aku hidup di desa ini.

chap-preview
Pratinjau gratis
Kulit Hitam Bapak
"Dulu,saat muda bapakmu itu sangat tampan." ucap ibu beranjak mengambil album lama. Seperti telah menebak ketidak percayaan dari mataku. Kata kata yang sama,yang sering diucapkan oleh kerabat saat menceritakan masa muda mereka. Jika cerita itu berhubungan dengan bapakku yang katanya "tampan" itu. "Lihatlah!" seru ibu bersemangat sambil menunjuk sebuah foto setelah membolak balik beberapa halaman. Aku hanya menatapnya bingung,sambil tersenyum setengah terpaksa. Menampakkan gigi,berusaha tidak mengeryit. 'Kurasa,ibu berbohong padaku' 'Bapak cuma tampan di mata ibuk.' 'Ya,mungkin karena cinta.' *** Bapak dengan tubuh tegapnya nampak berjalan pelan melewati pematang sawah. Cangkul di pundaknya nampak berlumpur,aku menatapnya dengan seksama.Memperhatikan setiap langkah dan gerik bapak lewat jendela kamarku,yang menghadap sawah dengan leluasanya.Luas. Pemandangan yang amat biasa saat bapak dengan tubuh kotornya pulang dari sawah. Hampir setiap hari bapak begitu. Celana pendek yang sudah dipotong lebih pendek tidak luput dari lumpur di sawah,sampai aku pernah mengira bapak bergulung-gulung layaknya sapi diatas lumpur. Sangking kotornya penampakan yang dia perlihatkan. Kulitnya yang berwarna hitam legam nampak kasar,bersisik. Meskipun dilihat dari jauh. Terlihat gradasi warna putih bekas tergaruk. "Sangat kotor bahkan setelah mandi sekalipun. Bapak tetap terlihat kotor." ujarku dulu ketika bapak mengajukan diri akan mengantarkanku ke toko. Padahal saat itu bapak sudah memakai baju koko dan kopiyah. Menolak ajakannya untuk mengantarku berbelanja kebutuhan sekolah tahunan. Aku memalingkan mukamu dari jendela,saat bapak semakin dekat dengan rumah. Menekuri buku pelajaran yang hanya kubolak balik karena malas. 'Bisa canggung kalau beliau tahu.' Seringkali keluarga besarku membandinganku dengan bapak. Kata mereka mirip,tapi aku tidak percaya. Bapak terlalu buruk rupa sedangkan aku cantik. Aku seperti ibuku,ujarku dengan menggerutu. Sedangkan mereka hanya saling melempar pandang dengan bapak lalu tersenyum. Lalu berujar ringan "dari perawakan hingga wajah rani persis macam bapaknya." Aku hanya menggerutu semakin sering. Tapi,itu dulu. "Ahh" helaan napasku terdengar nyaring. Lebih seperti meniup lilin ulang tahun dengan kasar. Ada kekesalan di dalamnya. Kusandarkan tubuhku pada kursi. Menerawang langit-langit genting yang sebagian telah berlubang. "Bapak dulu ingin menjadi seorang tentara." cerita bapak pada suatu malam. Ketika televisi menyiarkan lomba ninja warrior. "What?" batinku bergerumuh lagi. Bapak sedang melucu atau curhat? Aku menatapnya bingung. Bapak bukan orang ambisius,bagaimana dia bisa punya cita-cita? Setauku. "Tapi nenekmu malah memasukkan bapak ke pesantren,padahal bapak sudah keterima." tambahnya kemudian. Dengan nada yang mendayu tapi dengan tawa. Terkekeh. Kata kata yang sukses membuatku tersenyum sinis. Pertama aku tidak percaya bapak tentang cita citanya untuk menjadi tentara. Kedua bapak bukan seorang santri,itu sepengetahuanku. Karena diantara saudara bapak,dia sendiri yang tidak terjun ke bidang keagamaan. Malah memilih mengurus sawah peninggalan kakek. Saudaranya yang lain bahkan sudah sering menyinggungnya. Bapak hanya tersenyum menatapku. Sambil terus menceritakan masa mudanya dulu. Namun berkali kali aku bantah dan tidak mempercayainya. Meskipun hanya dalam hati. Bapak sudah tahu aku adalah anak bungsunya yang paling membangkang. *** Kembali kulayangkan kembali pandanganku keluar jendela. Bapak tengah membersihkan kakinya dari lumpur. Di sebuah kendi yang terletak di sudut rumah. Begitu pelan,nampak seperti orang yang tidak memiliki semangat dalam hidupnya. Salah satu alasan kenapa aku tidak percaya bahwa bapak punya cita-cita. Bapakku hanyalah seorang softboy. Aku hanya tersenyum penuh arti. Lalu dengan pelan menutup buku yang sejak tadi sudah keluar jalur dari pikiranku. Sukses menduakannya. Meregangkan tubuhku yang kaku layaknya kursi yang ku duduki. Menuju dapur yang hanya terhalang 2 tembok dari kamarku. Menjerang air,menyiapkan segelas teh dengan gelas jumbo. "Diminum pak tehnya." ucapku dengan pelan disampingnya. Meringis seperti biasanya. Bapak hanya menatapku mematung. Hanya sebentar,lalu dengan pelan mengambil teh yang ada di tanganku. Menyesapnya pelan. " Panas." eluhnya namun tetap saja meminum teh tanpa jeha. "Teh celup wangi dengan gula melimpah sudah diantarkan. Tugas selesai!" ucapku dengan gaya layaknya paskibraka. Namun dengan cepat disusul dengan tawaku yang terkekeh. Bapak hanya geleng-geleng kepala. Menyadari anak gadisnya tetap seperti gadis kecil yang nakal. Bapak hanya terdiam. Lalu dengan cepat aku membalikkan badan,memunggunginya. Karena sesaat lagi tatapan syahdu bapak akan menghujamiku. Yang entah mengapa baru kusadari belum lama ini. Tatapan berwibawa yang penuh arti. Aku tidak sanggup. Kutatap bapak dari jendela tempatku belajar,lagi. Duduk bersama dengannya sekarang adalah siksaan. Bukan karena aku membencinya. Namun setelah sebuah kebenaran memukulku dengan keras. *** "Wajahmu seperti cina." ucap saudara se-ibuku saat berkunjung. "Cina apaan,aku jawa tulen lagi." jawabku dengan cepat. "Bukan cina sih,tapi arab." ucapnya meralat. "Apaan lagi ini. Bilang aja aku cantik." ucapku terkekeh. Dia hanya manyun. "Iya-iya cantik. Udah putih mancung lagi." ucapnya dengan judes sambil menyedot esnya. "Ya panteslah anaknya Paklek Imam." tambahnya kembali. Setelah menyebut nama bapak. Aku kembali bingung. "Apanya yang mirip sih?" tanyaku dengan kesal. Merasa semua orang berbohong. Mengernyitkan dahi. "Yaelah kamu itu buta apa bodoh sih?" Semua orang udah tau lagi kamu mirip bapakmu. Badanmu tegap persis bapakmu cuma versi cewek. Wajahmu juga kayak satu cetakan dengannya cuma rambut panjang." jawabnya juga acuh. "Bapakku hitam." kataku dengan polos. "Yaelah karena bapakmu petani,kadang juga buruh kuli." jawabnya dengan nge-gas. "Coba aja kamu nguli setahun dulu." jawabnya kesal. Aku hanya terdiam. Memikirkan kembali kata katanya yang seperti pengetahuan baru untukku. Manggut-manggut tanpa dosa. *** Aku hanya terkekeh mengingatnya. 'Untung ada Rudi' batinku bahagia. Si ceplas-ceplos yang nggak peduli sekitar. Namun sering benernya. Butuh berkali-kali untukku memandangi foto bapak untuk memastikannya. Membandingkan sosoknya kini dengan foto masa mudanya. Ya,kami mirip. Aku memang bodoh. 'Untung itu dulu' batinku prihatin sendiri. Aku menatap bapak dari kamar. Sekarang dengan sembunyi-sembunyi takut kepergok dan diintrogasi. Aku terkekeh tanpa suara. Menyaksikan bapak dengan PD-nya nembang. Bapak yang sama yang rela melepas impiannya demi nenek. Lalu berlagak bodoh agar bisa meneruskan wasiat kakek. Bapakku yang hitam,yang bekerja sepanjang hari tanpa terdengar eluhan. "Pasti semakin panas pak kalo pake celana pendek." ucapku sambil mengeluarkan kepala dari jendela. Gatal untuk mengganggu bapak yang sedang asyik nembang. "Gak ada penghalangnya," ucapku manyun. "Nanti kalo pake celana panjang apa ya ndak banyak durinya. Kamu jadi lembur kan." ucap bapak menggoda. Aku membalasnya dengan tawa. Celana panjang akan membuat duri menancap disana. Dan aku yang selalu mencabutinya,itupun harus saat dipakai bapak. Namun itu lebih baik daripada kaki bapak yang langsung terkena sinar matahari maupun duri. "Gak papa malah seru. Kali aja bapak jadi putih." kataku terkekeh,bapak juga terkekeh. "Udah buat kamu aja,gak butuh." jawabnya sambil berlalu. Menampakkan betis hitam bapak yang semakin hitam. Aku hanya menatapnya dengan lembut. *** "Kalau tentang hidup,jangan terlalu terpaku pada pandangan orang lain. Meskipun itu untuk masalah agama sekalipun." Nasihat bapak saat yasinan malam jum'at. Sambil membacakan kitab kuning ditangannya. Aku hanya menatapnya dengan teduh. 'Sudah njenengan contohkan pak.' batinku terus memandang beliau

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Setelah Tujuh Belas Tahun Dibuang CEO

read
1.2K
bc

TETANGGA SOK KAYA

read
52.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook