w******p POV Haidar & Gita
HAHAIDAR : Ngga jelas banget lu sama temen-temen lu itu!
GITATA
: WKWK, yaa maap. Kita gabut aja kemaren, abis dari museum deket rumah lu
HAHAIDAR : Eh, bayar ngga sih itu? bahkan gue yang deket rumah aja ngga pernah kesana WKWK
GITATA
: Yee, seru tau liat-liat batuan masa purba gitu dan ternyata di daerah gue juga ada kaya semacam tempat yang biasa
buat nemuin hal-hal yang berbau dengan masa lampau
HAHAIDAR : Oh iya? keren dong berarti. Waktu itu juga Gubernur kita pernah kesini loh, tapi gue cuma liat luarnya. Males juga
kalo ikut-ikutan masuk haha.
GITATA
: Sticker sent.
HAHAIDAR : Eh nanti kapan-kapan gue yang ngajak ketemu, jangan lu ya wkwk
GITATA
: TAKUT BANGETTT
----
Hari senin pagi semua siswa bersiap untuk upacara di lapangan bendera. Semua siswa sudah bersiap untuk baris dipimpin oleh ketua kelas. Seperti biasa, Gita dan gengnya itu pasti bersamping-sampingan karena memang aturan baris pada saat upacara adalah dua banjar.
"EH, si Elang, jadi pemimpin upacara yaa. AAAAA gantengnya" ucap Luthfi yang terus memandangi Elang tanpa berkedip sedikitpun.
"Udah biarin aja, lagi oleng" celetuk Febri sambil tertawa cekikikan.
Semua siswa bersiap untuk melaksanakan upacara dengan hikmat. Meskipun pada kenyataannya, mereka tidak akan bisa diam ketika upacara dimulai. Khususnya Gita dan Lista, tidak ada hari yang bisa membuat mereka diam.
"Eh panas banget, mau pingsan", ucap Lista.
"Alah, orang tomboy kaya lu mana bisa pingsan, kunang-kunang doang mentok"
"Hahahaha anjir, bener juga. Kapan sih selesenya"
"Kalo yang ngasih amanat Pak Supri biasanya bentar yaa"
"Eeh iya deng, Luv Pak Supri"
Akhirnya selesai juga upacara bendera yang dikeluhkan oleh hampir semua siswa. Seluruh siswa balik ke kelas masing-masing bersiap untuk melanjutkan mata pelajaran sesuai jadwal yang telah ditentukan. Hari ini adalah mata pelajaran Biologi, mapel Biologi paling disukai oleh siswa MIA 1. Namun menjadi tidak menyenangkan karena Ibu Sri guru mapel Biologi masuk membawa kabar tidak menyenangkan. Apalagi kalau bukan Ulangan Harian Bersama (UHB).
"Hari ini UHB ya anak-anak, buku dan peralatan lain silakan ditaruh di tas, saya tidak mau melihat satupun buku atau alat bantu hitung di meja kalian. Jika kalian ketauan menyontek, saya coret hasil UHB kalian. Minggu depan UHB dengan saya lagi di ruangan saya" Perintah Ibu Sri kepada murid-muridnya.
"Baik Buuu" sorak semua siswa di kelas MIA 1.
Hari ini bukan hari yang baik bagi seluruh siswa, bukan juga hari yang buruk. Pasalnya hari ini banyak sekali UHB di kelas MIA 1. Semua siswa sibuk belajar untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
"Males deh gue, UHB mulu. Gue males ngapalinnya" celetuk Lista sambil kipas-kipas buku pelajarannya.
"Gausah sekolah lu kalo males terus, maen basket aja sono maen basket" Ucap Febri sambil menutup bukunya dan pergi ke toilet.
"Lagian juga bentar lagi kita lulus, ngga papa lah belajar UHB untuk terakhir kalinya hahaha" celetuk Luthfia yang membuyarkan pikiran semua gengnya.
"Eh iya, gue lupa mau ngabarin anak-anak kalo besok ada UHB Kimia" Mira membawa kabar tak menyenangkan untuk seluruh siswa MIA 1.
"Hah serius anjir?! gue belum belajar" - Febri dengan muka polosnya datang dari toilet.
"Iya, masa gue boong. Kapan sih gue boong"
"Sering" Gengnya menyerang Mira sambil menunjukkan ekspresi malas.
"HAHAHAHA, mau belajar bareng gue ngga ntar balik sekolah? kemaren si Adi minta belajar bareng anak-anak. Ntar gue yang tutorin" Mira menawarkan bantuan agar besok teman-temannya mendapatkan nilai yang bagus khususnya sahabat-sahabatnya.
"Gas aja gue mah, rada ga paham juga sama soal-soalnya" Gita membalas dengan muka datar.
"KRING.. KRING.. KRING" bel sekolah sudah berbunyi. Tandanya sudah waktunya pulang. Mira, Gita, Lista dan teman-teman lainnya masih berada di kelas untuk memenuhi janji mereka belajar bersama. Namun, Adi yang sewaktu tadi berada di bangku belakang tiba-tiba pergi entah kemana.
"Adi kemana si? katanya mau belajar bareng" Mira menggerutu sambil menghapus papan tulis yang penuh spidol setelah mata pelajaran seni budaya.
"Ngga tau deh, perasaan tadi duduk disitu. Tapi tu tasnya masih ada, lagi ke toilet kali" Lista menjawab sambil memainkan handphone-nya.
Seketika suasana hening karena mereka ber-tiga dan teman-teman lainnya sibuk memainkan handphone masing tanpa menghiraukan satu sama lain. Tiba-tiba muncul ide random dari Mira.
"Eh Git, gue punya ide! kita chat barengan ke Haidar yuk. Siapa duluan nanti yang bakal dibales" Mira girang memberikan idenya itu.
"Hah?" Gita menanggapinya dengan serius. Sebenarnya dia juga takut menyakiti hati Mira. Tetapi dia berpikir jika dia tidak mau melakukannya, terdapat sesuatu antara dirinya dengan Haidar. Cowok yang saat ini mungkin masih disukai oleh Mira. "Random amat lu. Gas aja haha. Ngechat apa nih".
Lista hanya tersenyum melihat dua sahabatnya bertingkah aneh.
"Ya manggil nama aja si" Mira meng-scroll kontak di HP nya.
Mereka meletakkan handphone mereka masing-masing di meja untuk melakukan hal konyol tersebut secara bersamaan.
"Dar" - Mira dari handphonenya.
"Dar" - Gita dari handphonenya.
Haidar POV
"Kok bisa bareng gini? ada apa sih ini?" Haidar bergumam dalam hati. Dia kemudian mengambil tangkapan layar di handphonenya dan membalas chat Gita terlebih dahulu dengan screenshot-an berisi chat Gita dan Mira yang dia ambil barusan.
"Kok bisa bareng gini?" tanya Haidar kepada Gita melalui w******p gambar yang dia kirimkan.
"Kring!!!" notifikasi di handphone Gita menunjukkan chat dari Haidar yang mereka tunggu-tunggu. Lista, Mira, Gita, dan Hera langsung terpaku melihat ternyata Haidar lebih dulu membalas chat dari Gita.
Gita membuka chat itu dan melihat gambar screen shot dari Haidar yang berupa ss chat dari dirinya dan Mira. Namun ada hal yang mengejutkan. Nama kontak Gita di handphone Haidar bukanlah Gita, tetapi "Kodomoku" dengan emot kucing disampingnya. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Mereka hanya diam terpaku. Mereka tau hal tersebut akan sangat menyakiti Mira yang masih terlihat menyukai Haidar.
"HAHAHA, yaudah. Itu Adi udah dateng. Yuk kita mulai belajarnya" Mira seperti menunjukkan kekecewaannya terhadap apa yang telah terjadi di depannya.
Mereka mulai belajar bersama dengan Mira menjadi tutor pada agenda bersama tersebut. Mira mengajarkan semua materi yang pasti akan keluar di UHB Kimia besok bersama Pak Yogi.
"Kenapa kaya gitu sih?" Adi nyeletuk.
"IH sumpah aku sama Haidar ngga ada apa-apa. Kebetulan aja tadi" Gita meninggikan nada bicaranya kepada Adi.
"Hah apa? itu loh kenapa hasilnya gitu, kenapa NaCl nya hasilnya 50 gr?" Adi menjawab kebingungan sambil menunjuk-nunjuk papan tulis.
Semua orang terdiam. Seakan-akan mereka tau betul kecanggungan yang menghantui suasana kelas tersebut. Mira kemudian menjawab pertanyaan Adi dengan jelas dan memastikan bahwa Adi sudah memahami hal tersebut. Sedangkan Gita diam canggung untuk lebih baik tidak berkata apapun di kelas tersebut. Sesi belajar bersama telah selesai. Mereka pulang bersama menuju parkiran.
"Eh aku nebeng ya Git, sampe depan aja, nanti dijemput sama Bapak di depan" Mira membuyarkan kecanggungan mereka berdua.
"Oke Mir, aman aja. Emang Bapak kamu udah pulang?" tanya Gita.
"Ngga tau sih, aku udah sms ngga dibales ini. Kalo Bapakku belum bales ya aku jalan kaki aja ngga papa dari depan" sambung Mira.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka ke parkiran. Sedangkan teman-teman yang lainnya sudah lebih dulu pulang menggunakan sepeda motor mereka masing-masing.
"Git, menurut lu gue tetep perjuangin Haidar apa ngga?" tanya Mira yang membuat hati Gita berdegup kencang.
Gita diam sejenak sambil melihat kanan kiri untuk menyebrang sambil mengendarai sepeda motornya.
"Yaa menurut gue kalo lu masih suka sih perjuangin aja Mir" Gita menenangkan Mira yang tampaknya sedang sedikit galau.
Mira terdiam, dia melanjutkan obrolannya "Kayanya Haidar lebih suka sama lu deh Git".
"Ngga Mir, gue sama Haidar ngga ada apa-apa. Kita cuma berteman baik aja" kekeh Gita karena tidak ingin membuat sahabatnya kecewa hanya karena hal tersebut.
"Iya sih"
Mereka melanjutkan perjalanan menuju depan g**g rumah Mira.
"Eh udah sampe sini aja, makasih yaa Git, hati-hati!!" Mira melambaikan tangan kepada Gita yang baru saja membuka kaca helmnya.
"Iya Mir, duluan ya"