Loh Kok?

1135 Kata
Sejak pernyataan Mira yang tidak mau lagi melihat percakapan Haidar dengan Gita, ternyata Mira sebenarnya masih mempunyai rasa dengan Haidar. Dan ucapan yang pernah Mira katakan pada Gita itu tidak benar-benar terjadi. Sepandai-pandainya cewe berpaling, yang sebenarnya dia tidak pernah benar-benar berpaling. Sikap Mira ke Gita sekarang agaknya sudah berbeda. Mungkin ada sesuatu yang Mira sembunyikan dibalik ini semua. “Gue ngga tau ya, gue kayak wartawan tiap chattingan sama si Haidar,” Mira menggerutu dengan sahabatnya yang lain tanpa Lista dan Gita. “Masa gue terus yang tanya-tanya ke Haidar, sedangkan Haidarnya? Ampun dah gue, dia tuh jadi cowo nggak peka banget yah. Bete gue,” lanjut Mira sambil memakan mie yang telah dipesannya barusan. Sahabatnya itu hanya mendengarkan ocehan Mira dan hanya Hera yang merespon curhatan Mira. “Eh eh emang lu chattingan lagi sama si Haidar?”. Mira mengangguk malas dengan pertanyaan Hera itu yang membuatnya kembali teringat akan percakapan Gita dan Haidar. “Masa kalo chattingan sama Gita bisa asik banget gitu. Kan sebel gue,” lanjut Mira lagi dengan memukul-memukulkan sendoknya ke piring yang berisi mie tadi. “Udahlah ngga usah dipikirin lagian lu juga ada Riyan kan, masih ada yang suka sama lo lebih tulus daripada lo ngejar-ngejar Haidar terus kan,” Luthfi mengusap punggung Mira dengan tulus. Sambil berpikir ternyata benar juga omongan Luthfi. Mira berdiri, “Yaelah, lu ngga tau aja si Riyan itu orangnya gimana. Baik sih, pinter sih tapi gimana, menurut gue dia tuh over banget.” Dia pergi membayar makanan yang sudah dipesannya. “Udah lah ayo, lu udah pada selese kan makannya?” ajak Mira agar mereka segera beranjak dari tempat itu karena bel masuk pun akan segera berbunyi. Mereka pergi meninggalkan kantin itu menuju kelas. “Darimana aja lu pada? Ngga ngajak-ngajak,” Lista mendekati mereka berempat yang sedang berjalan. “Kepo. Hahaha,” jawab Hera sembari meninggalkan Lista dan Gita. Mereka berdua hanya ikut tertawa. “s****n tuh anak,” Gita sambil tertawa berjalan menuju kelas bersama Lista. Perkenalan Gita dan Haidar tidak hanya sampai sebatas tanya kabar saja. Niat Gita sebenarnya untuk menyatukan Mira dan Haidar. Percakapan mereka memang begitu asik dan mungkin sikap Mira berubah juga karena itu. Dia merasa cemburu atau kesal melihat percakapan Haidar dan Gita, sedangkan dengan dirinya Haidar menjadi cuek. Haidar memang anak yang cuek, jadi tidak heran jika Haidar sering bersikap cuek kepada Mira. Anehnya, ketika kepada semua wanita Haidar bersikap cuek, justru sebaliknya dia selalu bersikap ramah, baik dan menunjukkan kepeduliannya kepada Gita. Teman-teman SMP-nya juga mengakui kalau Haidar adalah anak yang cueknya bukan main. Teman sekelasnya pun sampai tidak tahu atau tidak menganggap keberadaan Haidar di sana. Itu karena sikap cuek dan sangat pendiamnya seorang Haidar. Sebenarnya, hubungan yang sebenarnya antara Haidar dan Mira tidak ada yang tahu pastinya bagaimana. Bahkan sahabat-sahabatnya pun hanya tahu kalau mereka pernah sekelas waktu SMP. Dirrect Message i********: POV @Hai.dar : Btw,, pake dm i********:, boros juga ya :D @Gitaaaaa : Engga aku mah, aku kan pake wifi forever. Wkwkwk @Hai.dar : Dasar manusia wifi. Wkwkwk ,, @Gitaaaaa : Yaaa, selagi ada gratisan, kenapa nggak? Haha :v @Hai.dar : Lanjut w******p aja yo,, :D @Gitaaaaa : Mana bisa? :v i kan ngga punya nomer u heehee @Hai.dar : Ya udah, mana nomer U? :3 @Gitaaaaa : WKWK, 08912376XXXX Alhasil, mereka melanjutkan percakapan mereka di w******p massenger. Seperti biasa, percakapan mereka selalu diselingi guyonan-guyonan yang tidak penting. Disamping chattingannya yang sedang berjalan dengan Haidar, sebenarnya Gitapun masih memikirkan Mira. Berulang kali dia meyakinkan Mira apakah dia sudah tidak menyukai Haidar atau sebenarnya masih ada rasa yang terpendam. Sejujurnya, Gita tidak pernah mengerti bagaimana hubungan Mira dengan Haidar. Yang dia tahu dari teman-teman hanya Mira dan Haidar pernah ada sesuatu. Whatsapp POV HAHAIDAR : OYY Gitata : Hmm, apa? (just read) Gitata : APAAN CUMA DIBACA WOY :3 HAHAIDAR :Wkwk,, maap ya :v minggu ini ada pasar malam,, mau kesana nggggak? Gitata : Halah, mau apa juga. Males aku kalo pergi ke tempat-tempat gituan :v HAHAIDAR : Halah,, Percakapan mereka terus berlanjut sampai larut malam. Pertama kalinya Haidar mengucapkan selamat malam kepada Gita. Keesokan harinya adalah hari sabtu dan minggu. Hari dimana mereka berdua memang libur karena sekolah Haidar maupun sekolah Gita menerapkan full day school yaitu sekolah dengan lima hari sekolah saja. Mereka berdua tidak pernah bertemu. --- “Ke Museum Purbakala yu,” ajak Mira kepada Lista yang tengah memainkan kunci motornya dan handphone-nya. Lista tidak menjawab, dia langsung bergegas menuju motornya yang ia parkirkan di depan rumah Mira. “Eh mau kemana?” tanya Gita yang tampak kebingungan karena tiba-tiba mereka beranjak dari duduknya tanpa ada persetujuan dari Gita. “Udah lo ikut aja,” ucap Mira yang telah membonceng motor Lista dan bersiap untuk pergi. Gita hanya mengikuti dari belakang. Dia tidak tau mereka mau kemana. Dia hanya ikut saja. Selalu seperti itu, Gita sering hanya mengikuti mereka tanpa tahu arah dan tujuan mereka akan kemana. Setelah sampai, ternyata mereka pergi ke suatu museum dimana museum itu memang dekat dengan rumah Haidar. “Lu tau ngga? Ini deket rumahnya Haidar loh,” Lista dengan mukanya yang seakan memberi teka-teki dimana rumah Haidar. Gita terkejut mendengar perkataan Lista. Dia langsung meminta mereka berdua dan diriinya agar segera pulang. Dia tidak mau jikalau nanti tidak sengaja atau tidak, dia bertemu dengan Haidar. Tapi takdir memang berkata lain. Justru dia mempunyai sebuah ide jahil. Dia memberitahu kepada dua sahabatnya itu agar mereka bisa mengerjai Haidar. “Eh,eh, gimana kalau kita kerjain si Haidar, haha” “Ayo, ayo, gimana caranya?” jawab Lista dengan ekspresi yang girang. “Alahhhh, terserah deh, gue males hmm,” mukanya tampak sungkan dan terlihat tidak asik. Tanpa menghiraukan ucapan Mira, mereka berdua menjalankan aksinya atas dasar ide dari Gita. Sedangkan Mira, hanya ikut bersembunyi di balik rumah dan dia tanpa menghiraukan kedua sahabatnya yang sedang jail. “Cepetan di-chat tu si Haidar” Lista mendorong-dorong Gita. “Bentar-bentar” Saat aksi itu berlangsung, mereka hanya berdua yang aktif, Mira hanya terdiam sambil memandangi aksinya. “Itutu Haidar keluar, mampus gua, ayo-ayo pergi kita lewat belakang,” ajak Lista dengan muka paniknya. Mereka berlari ke g**g di belakang rumah Haidar dan disitu terlihat Haidar sedang menggunakan sepatunya. Karena g**g yang di belakang rumah Haidar itu ada lorong dan disampingnya rumah Haidar. Jadi Haidar bisa terlihat sedang keluar dari rumahnya. Lista mengajak mereka berdua untuk berjalan ke samping rumah Haidar. Yang dilakukan Lista memang sangat beresiko, karena jarak antara Haidar dan Lista hanya berbatasan dengan tembok saja. Sebaliknya, Gita yang mempunyai ide menjaili Haidar justru dia berlari ke arah museum bersama dengan Mira. Mereka tertawa karena tidak tahu seperti apa nasib Lista ketika ketahuan oleh Haidar nanti. “Loh, anjir, mereka kemana?” Lista menengok ke belakang dan dia tidak melihat apa-apa disana. Dia hanya melihat tumbuh-tumbuhan yang bergoyang mengikuti angin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN