Malam semakin larut, namun pikiran Ayyana juga semakin kusut. Dia benar-benar tidur dengan Kiano malam ini, dan mengunci pintu penghubung yang menghubungkan kamar utama dengan kamar Kiano agar Liam tak melihat putranya yang kemudian mencuri kesempatan untuk berbaikan dengannya. Ayyana berpikir mungkin ia dan Liam sedang butuh waktu, namun yang ada ia malah tak sanggup tidur dan menemui pikiran buntu. Mengecupi kepala Kiano dengan gemas, ia bangkit dari ranjang sempit yang membuat tidurnya tak nyaman. Bukan. Bukan. Bukan tak nyaman karena ranjang yang sempit, namun pikirannya tertuju pada Liam yang membuatnya sakit. Dia bersama suaminya saja, suaminya mampu berpaling. 'Hello ... apa kabar ketika ia tidak bersama?' Yang jelas, Ayyana tak ingin merasakan akibatnya. Ayyana tak bisa berp

