bc

CALON GURU JADI BURUH

book_age16+
4
IKUTI
1K
BACA
goodgirl
drama
small town
first love
teacher
like
intro-logo
Uraian

Tabitha adalah mahasiswi lulusan pendidikan bahasa inggris. Ayahnya sangat berharap bahwa putrinya akan bisa menjadi seorang guru setelah lulus. Sialnya, dia kesulitan mendapat pekerjaan itu karena tidak memiliki orang dalam. Dia memutuskan untuk menjadi buruh di pabrik kaos kaki secara diam-diam agar ayahnya tidak kecewa.

chap-preview
Pratinjau gratis
Harusnya Jadi Ibu Guru
Tabitha pikir setelah wisuda maka dia sudah merdeka. Namun, itu salah besar. Justru disinilah awal karirnya baru akan dimulai. Ibarat kapal, dia baru akan mulai berlayar. Dan sekarang dia sangat sibuk kesana sini mencari pekerjaan. Dia sudah berusaha melamar ke sekolah-sekolah agar dia bisa cepat jadi ibu guru. Semua itu tidak semudah yang seperti dia bayangkan. Dari 20 surat lamaran kerja yang dia sebar keduapuluh sekolah baik negeri maupun swasta, hasilnya nihil. Dia tidak dapat satupun panggilan kerja. Pagi ini Tabitha mencoba bersilaturahmi ke tempat dimana dulu ia melaksanakan PPL. Dengan harapan bisa diberi kesempatan untuk magang di sekolah tersebut. Dengan membawa sekeresek buah-buahan dan 1 box bolu jadul. Dengan mengenakan baju batik ala ibu guru sungguhan. Dia pun sampai di sekolah yang dia tuju. "Assalamualaikum, Pak ada ibu kepala sekolah ngga yah?" tanya Tabitha pada penjaga gerbang. "Walikumsalam, ada bu. Silahkan masuk! langsung saja ke ruangannya yah," perintah security sekolah itu pada Tabitha. Tabitha nurut. Dia berjalan menuju lorong melewati ruangan tata usaha dan perpustakaan, menuju kantor Ibu kepala sekolah. Dia telah sampai tepat di depan pintu ruang kepala sekolah. Dia mengetuk pintu dan mengucap salah. Langsung Ibu kepala sekolah memerintahkannya untuk masuk. Kaki kanannya mulai melangkah masuk. Di ruang minimalis berukuran dua meter, dihiasi foto garuda, Bapak presiden dan wakilnya. Serta peta raksasa yang menempel dibelakang kursinya. Tabitha memberanikan diri untuk melamar menjadi seoarang tenaga pendidik di SMPN 4, tempat dulu dia melaksanakan PPL. "Silahkan duduk!" ucap Ibu kepala sekolah. "Terimakasih bu." Setelah duduk. Tabitha mulai membicarakan niat dan tujuan kedatangannya. "Maaf mengganggu bu sebelumnya. Saya Tabitha, dari kampus Agama Negri. Dulu saya pernah melaksanakan PPL disini," jelas Tabitha. "Oh ia ... ia ia Ibu ingat. Ia gimana, ada yang bisa ibu bantu?" "Begini bu. Saya mau melamar menjadi guru honor di sekolah ini. Kira-kira masih ada lowongan untuk guru bahasa inggris tidak bu?" tutur Tabitha langsung to the point. "Oh itu. Pertama kalau untuk sekarang di sekolah ini guru bahasa inggrisnya sudah banyak. Bahkan Ibu Selfi itu dia kan lulusan jurusan bahasa inggris, tapi tidak kebagian jam karena saking banyaknya guru bahasa inggris. Dan yang kedua, memang belum ada lowongan di sekolah ini." "Oh yasudah bu tidak apa-apa. Itung-itung silaturahmi ya bu saya datang kesini. Ini bu ada sedikit buah tangan untuk ibu. Mohon diterima bu!" Tabitha menyerahkan kresek yang dia bawa tadi. "Walah repot-repot sekali. Terimakasih ya." "Sama-sama bu." "Di SMPN 1 itu katanya sih ada loker. Tapi ya begitu. Jaman sekarang harus pake uang masuknya dan lewat orang dalam. kepala sekolahnya kebetulan temen ibu. Nanti kalau mau bisa ibu antar ke beliau." "Pake uang ya bu? mohon maaf bu, kalau boleh tahu berapa yah administrasinya. Nanti biar saya diskusikan dulu dengan orang tua." "Ia sekarang kalau ngga pake administrasi susah cari kerja, coba saja ngelamar-ngelamar dulu. Administrasinya sekitar 5 juta." "Ia bu betul. Saya juga sudah melamar kedua puluh sekolah tapi belum ada panggilan ngajar." "Nah itu. Harus pake orang dalam sekarang mah mau kerja dimana pun." Setelah melakukan diskusi sekitar 20 menit. Akhirnya Tabitha pamit. Meski tidak mendapatkan hasil, setidaknya dia tahu jawabannya. Kenapa lamarannya sampai saat ini belum ada yang direspon. *** Sampai rumah Tabitha menceritakan hal ini pada ibunya. Kalau kerja menjadi guru honor harus pakai uang. Tiba-tiba mood Tabitha untuk menjadi guru honor sirna. Dia pun meminta ijin pada ibunya untuk melamar pekerjaan di bidang lain. Misalnya di bank atau di pabrik. "Mih. Aku jadi gurunya nanti saja yah kalau papih pulang berlayar. Soalnya kudu pake uang kalau mau masuk jd guru honor. Untuk sekarang aku belum siap. Aku boleh kan mih cari loker di tempat lain selain jadi guru?" pintanya penuh harap. "Ia boleh. Mamih sih terserah kamu saja. Yang penting kamu nyaman sama kerjaan kamu." "Makasih mih," ucap Tabitha sambil memeluk erat tubuh ibunya. Tabitha masih tidak habis pikir saja. Niat dia bekerja kan untuk mencari uang bukan malah mengeluarkan uang. Belum juga kerja sudah dimintai uang. Keesokan harinya. Tabitha mulai melamar kebeberapa bank dan pabrik. Tiga hari kemudian dia mendapat tiga pesan masuk sekaligus dari bank BRI, Telkomsel dan PT. Kaos Kaki. Ketiga pesan itu hampir sama isinya yaitu panggilan interview, hanya beda tempat, tanggal dan waktu pelaksanaannya saja. Dia langsung girang membacanya, karena ini adalah pesan panggilan kerja untuk yang pertama kalinya. "Ternyata begini ya rasanya dapet panggilan kerja. Bahagia banget. Baru dapat panggilan interview saja sudah bahagia, apalagi kalau sudah dinyatakan lolos interview dan mulai bekerja, pasti bahagianya lebih dari ini," gumamnya pada diri sendiri sambil lompat-lompat di dalam kamar megahnya yang berukuran empat meter dan dihiasi furnitur yang glowing karena dirinya sangat suka warna kuning. Dia tidak sabar menunggu besok. Sambil menunggu dia membuka internet untuk belajar mengenai interview dan soal-soal ujian kerja. Dia yakin pasti bisa lolos dan bulan ini bisa mendapat pekerjaan tanpa harus pakai administrasi. Tabitha jalan menuju dapur dan mengganggu ibunya yang sedang masak. "Mih ... doain yah! Aku besok mau interview kerja di bank BRI loh. Terus sorenya langsung ke PT. kaos kaki. Besoknya ada interview lagi di telkomsel. Doain ya mih, semoga salah satu dari perusahaan itu ada yang mau nerima aku kerja." "Ia sayang. Pastilah mamih doain. Kamu pasti bisa! semangat yah!" Keesokan harinya. Saking semangatnya dia bangun pagi-pagi sekali. Dia yang malas mandi, tiba-tiba jadi rajin mandi. Setelah sholat subuh Tabitha benar-benar sudah siap untuk interview. Dia sarapan dan berangkat menuju lokasi tempat dimana para calon pegawai bank BRI berkumpul. Pak supir pribadinya mengantarkannya ke tempat interview. Setelah sampai, ternyata peserta sangat banyak sekali. Tiba-tiba nyalinya mulai ciut. Apalagi saat dia duduk di samping Tari cewek langsing, tinggi dan cantik. Mereka pun mulai berkenalan. "Hai aku Tabitha. Nama kamu siapa?" tanya Tabitha. "Hai aku Tari. Kamu lulusan mana?" "Aku dari kampus Agama Negeri. Kamu?" "Aku dari UNTAG. Jurusan Adm Negara. Kamu?" "Aku dari jurusan pendidikan bahasa inggris hehe," jawabnya sedikit minder. "Loh kok jurusan pendidikan ngelamar ke bank? salah jurusan dong hehe harusnya kan jadi Ibu guru. Ya kan?" "Ia betul hehe." Semua pelamar kebanyakan dari jurusan akuntansi, ekonomi dan administrasi negara. Tabitha tanya kesana sini, ternyata tidak ada yang dari jurusan pendidikan. Tiba-tiba terbesit dalam hati rasa keraguan itu. "Aku bisa lolos ngga yah?" tanya Tabitha pada dirinya sendiri. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook