Beberapa menit kemudian selulur peserta interview digiring masuk ke suatu ruangan yang berAC. Tabitha langsung meler karena dirinya punya alergi dingin. Kalau kena AC pasti hidungnya langsung meler.
Peserta sudah duduk di tempatnya masing-masing dan pimpinan pun memberikan selembaran kertas yang berisi tes tulis. Seperti tes kepribadian. Dia berharap dirinya bisa lolos.
Soal aritmatika membuat kepalanya pusing. Pokoknya dia sangat benci hal-hal yang berbau matematika. Baru mendengar namanya saja dia sudah pusing, apalagi kalau harus mengerjakannya seperti ini. Rasanya ingin pingsan saja.
"Ngga usah dihitunglah yah, dari pada aku pingsan disini. Mending ngasal aja, kali aja bener jawabannya," gumamnya dalam hati.
Entahlah dia lolos atau tidak tes tulis itu. Tapi yang jelas, Tabitha bisa lanjut ikut tes selanjutnya yaitu tes wawancara. Pertama-tama sebelum dia diwawancarai, penjaga pintu mengukur tinggi badannya dan menimbang berat badannya.
"Tinggi 155 cm, berat badan 45 kg," ucap ibu-ibu bagian ukur.
Tabitha merasa heran, perasaan waktu minta surat kesehatan di puskesmas dan hasilnya adalah berat badan 50 kg dan tinggi badan 160 cm, sangat ideal. Kenapa pas di ukur disini jadi berbeda? ntahlah.
Sambil menunggu antrian panggilan wawancara. Dia mengingat-ngingat kembali pertanyaan dan jawaban yang sudah dia pelajari tadi malam.
"Tabitha!" panggil salah seorang pimpinan.
"Ia bu."
"Silahkan masuk!"
Tabitha masuk kedalam ruangan mungil sekitar satu koma setengah meter. Hanya berisi satu meja HRD dan dua kursi. Untuk HRD dan yang diwawancarai. Ada satu buah AC di atas kepala HRD, itu rasanya dingin sekali karena ruangan sangat kecil. Membuat dia bersin-bersin dan sangat mengganggu.
Dia yakin, satu point minus telah diraihnya akibat flu alergi dinginnya kumat terkena AC. Satu lagi dia lupa pakai parfum. Padahal tadi malam dia sudah belajar tentang etika interview. Bau tubuh juga mempengaruhi nilai plus.
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamualaikum," ucap Tabitha sambil mengetuk pintu ruang HRD.
"Walikumsalam, silahkan masuk dan silahkan duduk!"
Dia menurut. Dia langusng duduk di kursi empuk di ruangan mungil itu.
"Baiklah langsung saja, coba perkenalkan diri anda!" pertanyaan pertama dari mulut HRD mulai terdengar. Tepat seperti yang sudah dia pelajari tadi malam.
"Nama saya Tabitha, saya lahir di ... tinggal di ... ayah saya seorang ... ibu saya ... saya anak pertama dari ... saya baru lulus dari ... saya dari jurusan pendidikan bahasa inggris."
"Pendidikan?"
"Betul pak."
"Sayang loh ijazahnya. Kenapa ngga melamar ke sekolah saja? Udahlah mending jadi guru bahasa inggris saja, kamu salah jurusan loh kalau mau masuk ke sini!" saran HRD itu pada Tabitha, membuatnya semakin down.
"Ngga apa-apa pak, tapi saya mau kerja di bank," tungkasnya.
"Kalau gitu kenapa dulu kamu ambil jurusan pendidikan?"
"Ia pak, saya salah ambil jurusan."
"Kalau gitu apa motivasi kamu ingin gabung dengan perusahaan kami?"
"Saya ingin memajukan perusahaan bapak," jawabnya dengan percaya diri. Sebenarnya dia dapat jawaban itu dari internet yang dia baca tadi malam.
"Oh tidak perlu dibantu. Perusahaan kami sudah maju kok," jelas HRD dengan tegas. Membuat jantung Tabitha berdebar kencang.
Dia hanya terdiam dan yakin pasti dirinya tidak akan lolos. Setelah melakukan wawancara selama 20 menit. Tabitha dengan peserta lainnya menunggu hasil pengumuman untuk tes selanjutnya. Kalau lolos ikut tes selanjutnya berarti tinggal selangkah lagi menjadi pegawai bank.
Menjadi pegawai bank memang harus sempurna. Cantik, putih, tinggi, harum dan fashionable. Dia rasa bukan dirinya.
Setelah menunggu, akhirnya pengumuman keluar. Dan benar dia tidak lolos tahap selanjutnya. Jadi karirnya stop sampai di tahap ini. Tabitha pulang dan kembali ke mobilnya. Pak supir pribadinya kasihan melihatnya murung, jadi dia memberika sedikit motivasi.
"Tidak apa-apa neng gagal. Yang pentingkan sudah dapat pengalaman berharga. Tuhan tahu yang terbaik untuk kamu. Percayalah, nanti akan dapat kerjaan yang nyaman dan sesuai dengan besik kamu," ucap pak supir pribadi Tabitha.
"Makasih ya Pak."
***
Sorenya Tabitha datang ke PT. Kaos Kaki. Kali ini dia melamar pakai ijazah SMA jadi dia yakin pasti diterima. Pabrik itu sepertinya juga sedang butuh banyak karyawan jadi harapan diterima pasti besar.
Benar saja. Semua seperti formalitas. Tanpa ada tes dan wawancara, semua calon pegawai diterima tanpa terkecuali Tabitha. Sepertinya hanya dia yang dari lulusan sarjana. Karena yang lain banyaknya dari SMK, SMA dan bahkan SMP. Dia tidak peduli yang penting dia bisa kerja, punya kegiatan dan tidak jadi pengangguran lagi.
Pikiran liciknya mulai liar. Dia berencana untuk minta pindah posisi dari operator pabrik menjadi staff kantor kalau sudah beberapa bulan kerja di PT ini. Tunggu saja tanggal mainnya.
"Mohon perhatian semuanya! kalian semua yang hari ini hadir di gedung ini semuanya saya ucapkan "selamat bergabung di perusahaan kami" kalian semua diterima kerja disini. Mulai besok kalian masuk sesuai shif kalian masing-masing. Silahkan lihat nama kalian masing-masing di papan informasi untuk mengetahui bagian apa dan dapat shif berapa. Mengerti?" jelas Bapak HRD yang usianya sekitar 45 tahun.
"Mengerti Pak," jawab calon karyawan yang jumlahnya ada sekitar 30 orang.
Setelah selesai briefing selama 10 menit. Tabitha langsung keluar gedung dan menuju papan informasi yang letaknya dekat dengan pos security. Dia ikut berdesak-desakan dengan gerombolan ibu-ibu lainya untuk melihat dirinya mendapat bagian apa.
"Tabitha sebagai operator shift A, besok masuk pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 14.00 WIB," bacanya dengan nada tinggi, membuat mbak-mbak disampingnya menengok kearahnya dan mengajak berbicara.
"Oh mba dapetnya shif A. Sama mba sama saya berarti, boleh minta nomor handphone?" pinta mbak-mbak itu.
"Boleh mba. Kenalin mbak saya Tabitha, saya dapet bagian operator," ucap Tabitha sambil mengulurkan tangannya.
"Ia mba sama saya juga dapetnya operator. Kenalin juga nama saya Caca," tuturnya sambil menjabat tangan Tabitha.
Rasanya Tabitha bahagia sekali, dia sudah punya satu teman untuk diajak komunikasi. Karena dia tipe orang yang sulit untuk sosialisasi. Jadi agak susah cari teman. Mereka saling simpan nomor handphone masing-masing.
"Ca aku pamit yah, sampai ketemu besok pagi."
"Ia Ta, kamu hati-hati yah pulangnya!" pesan Caca penuh perhatian membuat Tabitha simpati dan nyaman.
Tabitha keluar gerbang PT menghampiri Pak supir pribadinya yang sedang asik ngopi di warung depan PT.
"Pak ... Pak! Aku sudah kelar nih, ayo kita pulang!" panggilnya dengan nada kencang dari kejauhan satu meter.
"Ia neng siap!"
Mereka pulang ke rumah dan Tabitha banyak-banyak berterimakasih pada pak supir karena sudah menemaninya seharian penuh. Ibu tidak menggaji supirnya secara bulanan. Melainkan hanya saat dibutuhkan saja, baru dibayar langsung. Jadi saat sampai rumah dan Tabitha bilang kalau mulai besok dia kerja di PT, ibu bilang kalau dia harus mandiri dan bisa ngatur uang sendiri. Termasuk berangkat kerja sendiri tanpa bantuan pak supir pribadi.
"Mih besok aku mulai kerja, doain yah mih semoga berkah!"
"Ia pasti mamih doain. Yang penting kamu jangan ngerepotin siapapun, harus mandiri. Berangkat juga harus sendiri pakai angkutan umum yah!"
"Kok gitu mih, kan jauh kerjanya mih, masa ngga boleh dianter?" tanya Tabitha heran.
***