Jaga Perasaan

1090 Kata
"Kalau sudah kerja dan punya gaji, kamu harus pintar-pintar menghitung pengeluaran dan pemasukan. Berapa gaji yang kamu dapat? berapa kebutuhan yang harus kamu keluarkan selama satu bulan? trus sisanya berapa? kamu kalau ngga dapet hasil alias ngga bisa nabung, buat apa kerja. Ya kan?" jelas Ibunya. "Maksudnya mih?" tanya Tabitha karena masih bingung. "Ya gaji kamu sebulan berapa? Pak supir pribadi itu kan sekali jalan bayarannya lima puluh ribu, belum bensin. Coba dikali tiga puluh hari bisa nyampe kurang lebih satu juta untuk biaya antar jemput kamu aja. Sementara gaji kamu cuma satu juta lima ratus. Jadi ya mending pake angkutan umum saja biar lebih hemat dan kamu bisa nabung banyak. Belajarlah hidup prihatin!" "Oh gitu ia mih siap, aku paham." Tabitha langsung pamit untuk mandi dan istirahat. Rasanya sedih sekali hidup tanpa penyemangat. Dia benar-benar rindu sosok Candra, cinta pertamanya. Jadi malam ini dia sengaja mengirim pesan duluan padanya karena sudah tidak kuat menahan kejolak rindu. "Selamat malam Candra. Aku rindu." Tidak perlu menunggu lama, Candra langsung membalasnya. "Sama. Perlu aku telpon kamu?" "Tidak perlu. Cukup temani aku lewat pesan singkat saja." "Ada apa? sepertinya ada masalah?" "Tidak. Hanya saja, besok aku mulai kerja tapi tidak sesuai besik ku. Aku kerja jadi operator di pabrik. Aku jadi buruh, bukan menjadi guru. Menurutmu gimana?" "Tidak apa-apa. Kerja yang penting halal, itu tidak hina kok. Sambil nunggu panggilan ngajar, apa salahnya mencari kesibukan lain. Sebagai batu loncatan saja. Semangat sayang!" Sudah hamir tiga tahun ini Candra dan Tabitha tidak pernah mengucap kata sayang. Tapi malam ini, Candra memanggilnya sayang. Seketika sedih, lelah, putus asa dan segala rasa negatif dalam dirinya menghilang. Berubah jadi bahagia. Tiga tahun lalu saat Tabitha semester awal kuliah, Mereka menjalin hubungan. Sayangnya mereka tidak direstui, jadi Candra dan Tabitha memilih untuk pacaran secara diam-diam. Mereka juga pacaran secara jarak jauh, karena Candra harus bekerja di luar kota. Dini pamit untuk mengakhiri pesannya karena harus istirahat, mempersiapkan diri untuk hari pertamanya kerja. *** Pagi pun tiba. Tabitha terbangun ketika suara adzan dari musholah depan rumahnya berkumandang. Dia mandi, sholat dan sarapan. Kemudian dia pamit berangkat, berjalan kaki menuju jalan besar dan menunggu angkutan umum. Dia hanya perlu mengeluarkan tiga ribu perak untuk ongkos menuju tempat kerjanya. Sangat hemat. Dibanding harus membayar pak supir pribadi langganan ibunya. Didalam angkutan umum Tabitha duduk disamping laki-laki yang seusianya, lumayan tampan dan harum. Laki-laki itu menggunakan ID card yang sama dengan dirinya. Bertuliskan mekanik PT. Kaos Kaki. Jadi mereka saling sapa. "Permisi mas, geseran dong!" perintah Tabitha pada laki-laki tampan itu. "Ia mbak silahkan! loh kamu dari PT. Kaos Kaki juga yah? kenalin aku Rangga," ucapnya sambil mengulurkan tangan. "Ia. Kenalin juga aku Tabitha." "Kamu udah lama kerja disitu?" "Belum. Ini baru hari pertama aku kerja. Kalo kamu?" "Lumayan lama. Aku sudah dua tahun." Selama perjalanan menuju tempat kerja akhirnya Tabitha dan Rangga asik ngobrol. Setelah sampai gerbang masuk pabrik Tabitha sudah ditunggu Caca yang sedari subuh sudah kirim pesan janjian di depan gerbang dekat pos security. "Maaf yah nunggu lama," kata Tabitha. "Ia ngga apa kok. Ngomong-ngomong itu siapa, pacar kamu yah? kerja disini juga kah? cakep juga yah hehe," celetuknya. "Bukan pacar. Dia Rangga bagian mekanik satu shif sama kita loh. Baru kenalan tadi di angkutan umum. Kenapa? kamu suka ya haha?" ledek Tabitha. "Iya aku suka. Kamu punya nomor handphonenya ngga? bagi dong!" "Yah maaf aku ngga punya." *** Alarem tanda masuk mulai berbunyi. Tabitha dan Caca pergi ke bagianya yaitu lend 11 paling belakang. Dipandu oleh kakak senior yang akan memberikan materi sambil praktik langsung. Pertama-tama Tabitha harus bisa masukin benang ke bolongan jarum yang sangat kecil pada mesin produksi dan ini sangat menyiksa. Sejujurnya dia menderita minus dua jadi dia agak sulit memasukan benang. Untung ada Caca yang mau membantunya. "Ca tolong yah kamu saja yang bagian masukin benang. Aku bagian ngebalikin kaos kaki aja hehe," pinta Tabitha pada teman yang baru dikenalnya. "Emangnya kenapa Ta?" "Mataku minus Ca. Harusnya pihak HRD jangan menempatkan aku disini yah, kayanya bagian gudang seru, duduk-duduk manja. Ngga kaya kita dapet bagian operator kerjanya berdiri selama delapan jam. Cape juga ya cari duit," keluhnya. "Kamu baru pertama kali kerja yah? cari uang emang susah Ta. Aku udah terbiasa kerja di pabrik jadi kalo cape ya sudah terbiasa." Satu jam kemudian kakak senior mengajari mereka rumus-rumus yang wajib mereka hafal untuk mengoprasikan mesin pembuat kaos kaki. Sangat rumit. Karena dirasa mereka tidak akan hafal jadilah kakak senior menempel selembar kertas yang berisi rumus atau kode cara mengatasi trobel pada mesin. Misal kalau benang roso putus pasti mesin akan eror dan itu butuh di setting ulang menggunakan kode tertentu. Selain masalah benang ada juga masalah mesin rusak yang tidak bisa di setting menggunakan kode. Dan itulah tugasnya mekanik. Betapa terkejutnya Tabitha, ternyata mekanik lend 11 adalah Rangga. Laki-laki yang tadi pagi satu angkutan umum. Caca langsung loncat girang dan semangat sekali kerjanya. "Maaf ganggu yah, aku datang mau benerin mesin yang rusak," sapa Rangga pada Tabitha dan Caca. "Iya kak Rangga silahkan," jawab Caca dengan nada centilnya. "Seneng rasanya bisa ketemu kamu lagi disini. Kita satu team yah? aku jadi tambah semangat loh," ucap Rangga mulai merayu Tabitha. Dia hanya tersenyum dan malah Caca yang menjawabnya. "Sama kak, aku juga seneng dan jadi semangat kerjanya karena kita satu team hehe." Tanitha tahu kalau Caca sangat tertarik dengan Rangga, jadi sebisa mungkin dia harus jaga jarak dan jaga perasaan Caca. Lagi pula sudah ada Candra di hatinya. Jadi dia tidak mungkin berpaling. Satu lend itu ada sekitar 12 mesin pembuat kaos kaki. Jadi Tabitha dan Caca lumayan ngos-ngosan. Bahkan kata kakak senior kalau sudah kelar masa trening wajib satu lend satu orang. Rasanya Tabitha tidak sanggup. Ingin cepat-cepat ngeluarin ijazah sarjananya dan pindah ke kantor. Baru saja Tabitha berdiri selama empat jam. Rasanya lelah sekali. Setiap satu jam sekali dia pura-pura benerin tali sepatu karena saking ingin duduknya. Kata kakak senior ada cctv jadi kita jangan sampe ketauan duduk bisa-bisa dipotong gajinya. Tiba-tiba waktu berputar sangat lambat. Dia hampir pingsan. Dia pura-pura ijin ke toilet dan mampir ke mushola. Dia tidur-tiduran beberapa menit. Ah ... rasanya nikmat sekali. Belum juga lima menit tiduran, Ibu security membunyikan pripitannya. Membuat Tabitha kaget saja. Prit ... prit ... prit ... "Waktu ke toilet sudah habis. Ayo kembali kerja!" tegur security wanita itu pada Tabitha yang sedang asik menggeliat. "Iya Bu. Sebentar Bu, saya ijin minum. Lemes bu, ini hari pertama saya kerja." Tabitha berjalan menuju loker niat ambil air minum. Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk punggungnya dan memberikan soft drink segar dan dingin. "Nih minum!" ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN