# Arruna bisa merasakan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman di dahinya. Meski ia sedang demam tinggi, tapi ia tidak benar-benar kehilangan kesadarannya. "Apa kita akan selamanya saling membenci seperti ini? Apa kita tidak memiliki kesempatan untuk belajar saling mencintai agar Gi bisa memiliki orang tua yang utuh? Kenapa, terkadang aku merasa kalau kau sangat mudah untuk dicintai tapi juga sangat sulit untuk diraih? Arruna...maafkan aku. Kau pasti sangat menderita karena harus melahirkan anakku dan menjadi istriku...." Dengan mata yang terpejam, Arruna hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh Mahendra, berpura-pura kalau ia masih tidak sadarkan diri karena mimisan yang dialaminya beberapa waktu lalu karena stress dan depresi yang selama ini menyiksanya. Ia memang sering menden

