Serangan di Tengah Laut

1057 Kata
“Jika diteruskan maka aku akan mendapatkan luka yang lebih parah lagi. Jadi sebaiknya kita hentikan ini dan pimpinlah kami,” kata Paso. “Maaf, aku belum pernah memimpin sebuah tim dan aku lebih bekerja secara sendirian. Jadi aku tak akan menjadi pemimpin dan tongkat kepemimpinan tetap seperti semula” kata Amut. “Jadi, apa tujuanmu ke sini?” “Ikuti Aya dan mau berkenalan saja. Aku tak berniat merebut kursi kepemimpinan. Lagipula aku pertama kali ke sini.” Tepuk tangan dilakukan Paso sebagai bentuk apresiasi atas jawaban yang diucapkan. Aya mengikuti jejak sang kakak. Penonton pun melakukan hal yang sama. Pertandingan persahabatan kembali dilakukan. Namun Amut dilarang untuk mengikuti pertandingan tersebut karena dinilai terlalu berbahaya. Bukan tenaga yang ditakuti, hanya saja serangan terlalu mematikan dan berbahaya walaupun hanya menggunakan pedang kayu. Dia pun hanya bisa menonton sambil membawa buku. Di area lautan hujan semakin deras. Badai yang terjadi malah menjadi kesenangan tersendiri sebab bisa dipastikan tak ada mutan yang menyerang. Taka da lagi dari paja penjaga yang berada di luar lambung kapal. Hanya nakoda dan asisten yang berada di ruang kendali. Di saat yang lain sedang bersantai ria, Amut melakukan hal yang lain. Membaca menjadi sebuah kegiatan yang ditekuni. Buku tentang teknik bela diri berada di tangan. Tiada praktek yang dilakukan, hanya melihat gambar serta rangkaian huruf saja. “Amut, apa yang kau lakukan?” Aya membawakan segelas air hanya. “Hanya membaca saja. Itu yang kulakukan saat tak melawan mutan atau bercanda dengan keluarga.” Buku yang berada di tangan Amut sedikit diturunkan. Minuman hangat ditelan agar badan tak mengalami kedinginan. “Sebenarnya kakakku pernah diajari untuk membaca tapi tak mau. Aku pun juga tak belajar membaca karena kurasa tak berguna sama sekali. Kehidupanku sangat keras. Aku sudah empat kali berganti orang tua dan yang terakhir terbelah saat menghadapi mutan kepiting raksasa. Syukurlah kau bisa mengalahkan salah satu anak dari mereka.” Aya juga mengambil segelas air hangat dan segera diteguk. “Kau salah, aku dapat informasi soal hewan dari buku ini. Malah nenek moyangku yang tak sempurna menurunkan gen soal mengidentifikasi hewan sekaligus untuk mengalahkannya.” Amut menutup buku tersebut karena tak enak jika berhadapan dengan orang lain tapi dia sendiri malah asyik membaca buku. “Hmmm, bercandamu tidak asyik. Mungkin aku perlu gen nenek moyangmu agar aku bisa mengalahkan mutan.” Aya meninggalkan Amut begitu saja. Tiada lagi orang yang ada di sana, Amut kembali membuka buku. Tiada tanpa sampai mana huruf terakhir yang dibaca. Dia memulai lagi beberapa lembar sebelumnya dari terakhir lagi diingat. Aktifitas tersebut dilakukan hingga mata tak kuat lagi membaca. Pagi hari sudah menjelang. Badai sudah tak datang lagi dan lautan tampak stabil. Bukanlah saat yang menyenangkan para penumpang. Ketakutan akan mutan selalu menghantui sebenak jiwa. Tak jarang dari para penumpang yang menangis mengingat cerita di masa lampau Sebuah hal yang biasa bagi para penjaga ditugaskan untuk menjaga kapal. Mereka menyebar ke beberapa area yang dikhawatirkan muncul mutan ganas. Beberapa juga berusaha untuk menenangkan penumpang. Jika yang lain hanya membawa pedang besar, hal ini berbeda dengan Amut. Pedang telah siap ditangan kanan, tombak berada di tangan kiri. Belum lagi sepasang pisau berada di pinggang. Masih belum cukup juga yang dikenakan Amut. Pedang besar berada di punggung. Tak lupa juga sebuah papan kayu di kaki sebelah kiri dan batu di depan agak ke kanan. Masih ada juga tali di pinggang. Dia berada di ujung kapal. Mata terus saja mengawasi keadaan sekitar. Sebuah gejala alam tak biasa terjadi. Amut mempersiapkan senjata. Beberapa orang juga ikut atas apa yang dilakukan Amut. “Amut, kira-kira hewan apa yang akan muncul?” tanya Paso. “Aku tak tahu. Bersiap saja, kemungkinan gurita atau mamalia air.” Amut terus mengawasi keadaan di sekitar. Dari dalam air muncul gajah laut dengan ukuran lima meter yang mana sama saja dengan seperempat panjang kapal tersebut. Makhluk yang seharusnya mendarat di tepi pantai kini melompat ke atas kapal dan memberi dampak guncangan yang dahsyat. Tak hanya seekor saja tapi tiga ekor sekaligus sehingga seolah-olah geladak kapal tersebut terisi penuh dengan mutan mamalia laut tersebut. “Serang!” teriak Paso sambil berlari mendekati hewan berukuran besar tersebut. Hampir seluruh penjaga yang berada di atas bergerak melakukan serangan. Satuan dari sirip dan ekor mutan menghempaskan sebagian penjaga. Tak sedikit dari mereka yang masuk ke dalam air, bahkan ada yang sampai tenggelam. Sedikit berbeda dengan Amut. Batu yang akan di dekat kaki ditendang dengan teknik tertentu. Telapak kaki menggerakkan bola keras tersebut sehingga tak menimbulkan rasa sakit. Papan kayu ditendang sebagai pengalih perhatian. Barulah dia melompat untuk bersiap menyerang. Sebuah tiang telah dipanjat Amut. Mata terus mengawasi ketiga hewan yang sedang menyerang para penjaga. Sebuah lompatan dilakukan. Tombak langsung diarahkan pada mata kanan si gajah laut. Tusukan yang dilakukan sangat dalam sehingga hewan raksasa tersebut mengalami kesakitan luar biasa. Segera dia mendarat di saat hewan tersebut sedang bergeliat. Pedang di punggung diambil. Lompatan kembali dilakukan untuk menghindari sapuan ekor gajah laut. Tebasan dilakukan dan meleset, hanya mengenai lantai kapal. Amut kembali melompat. Sayang, dia sedikit terlambat sehingga terkena sapuan dari ekor gajah laut. Tubuh terpental beberapa meter dan hampir saja jatuh ke dalam laut. Masih untung bisa menahan laju dengan pedang. Tak penyerah begitu saja, lelaki yang mengenakan beberapa senjata itu kembali bangkit. Lompatan dilakukan hingga bisa mendekat pada seekor mutan. Sapuan ekor dihindari dengan berguling, sedangkan sirip ditahan dengan pedang. Pisau diambil dan ditusukkan pada sebuah persendian yang berada di sudut sirip sebelah depan. Tebasan dilakukan lagi. Sayang, dia sendiri malah tertimpa penjaga yang lain. Hampir sama dia menyerang manusia. “Maafkan aku.” Penjaga tersebut langsung berhadapan dengan rahang dari gajah laut. Kekuatan sengaja dipamerkan. Yang disayangkan tak pernah mengukur kekuatan dari serangan mutan laut itu. Tangan kanan yang digunakan untuk menyerang malah terkoyak dengan gigi mamalia laut yang lebih kuat dan tajam. Jerit kesakitan pun dilakukan. Pedang begitu saja tergeletak dilantai dengan sedikit sisa tangan yang terkoyak. Kemalangan dari seorang menjaga tersebut sedikit memberikan sebuah gambaran bagi Amut betapa kuatnya hewan yang dihadapi. Pedang kembali diambil. Kini dua pedang siap untuk menyerang. Lompatan kembali dilakukan. Penjaga yang terluka parah berhasil diselamatkan meskipun kehilangan satu tangan. Kini Amut yang berdiri menghadapi mutan tersebut. “Amut, dia itu bukanlah lawanmu. Gigitannya sangat kuat,” kata penjaga sambil memegang bagian tubuh yang terluka parah. “Aku tahu itu.” Amut berjalan ke depan sambil mengayunkan kedua pedang. Si mutan dihadapi dari depan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN