“Nama saya Amut, bisa dikatakan saya seorang pemburu mutan. Julukan itupun jika Anda sekalian setuju,” kata Amut untuk memperkenalkan diri.
“Pemburu mutan? Julukan yang bagus juga. Besok kami ada pelayaran. Karena rute perjalanan sangat membahayakan, kami mohon bantuannya,’ kata si mata satu.
“Boleh juga, tapi aku perlu buku dari sisa peninggalan zaman modern. Jika ada buku tentang hewan.”
“Bukan masalah buat kami dan kami memiliki beberapa untukmu.”
Beberapa tumpul buku diberikan kepada Amut yang mana semua buku tersebut berisi tentang hewan baik berupa novel, cerita rakyat maupun buku ilmu pengetahuan. Amut sendiri yang menyeleksi buku tersebut. Sepanjang sisa hari tersebut digunakan untuk membaca. Setiap perilaku hewan selalu diperhatikan, termasuk juga dengan keunggulan dan morfologi fisik serta senjata alami mereka.
Pagi hari kembali menjelang. Kali ini cuaca agak buruk. Hujan sedikit deras terjadi pada hari itu. Namun niat melaut para warga tak sedikit pun surut. Sebuah kapal besar telah mereka siapkan di tepi laut.
Dermaga begitu ramai berisi para manusia yang bersiap untuk menyeberang ke pulau yang lain. Di sana juga Amut sedang mengantri untuk memasuki sebuah kapal. Surat rekomendasi yang dibawa membuatnya mudah memasuki kapal tanpa perlu apapun. Bahkan dia diizinkan naik ke atas bersama dengan awak kapal yang lain.
Suasana di atas laut kembali dirasakan setelah sekian lama memasuki kota peninggalan zaman modern. Tak berada di dalam lambung kapal, Amut berada di bagian atap kapan yang mana dia bisa saja merasakan hujan di laut. Namun buku yang berada di tangan merupakan harta karun tersendiri yang tak boleh hilang akibat basah terkena air. Sebab itulah dia memilih membaca dibalik sebuah kamar.
“Tok tok tok,” suara ketukan di pintu kamar. Isyarat tersebut mendapatkan sebuah respons yang baik dari Amut. Pintu dibuka dan muncul seorang perempuan muda berambut kuning pendek.
“Kak, untuk para penjaga dan pemburu disuruh keluar sebentar. Akan diadakan pertandingan persahabatan. Yang menang boleh memimpin tim penjaga,” kata perempuan tersebut.
Tiada pertanyaan yang tertuang dari mulut Amut. Pergerakan dari perempuan yang tak dikenal diikuti saja. Pintu dibuka, beberapa orang berotot besar sudah bersiap dengan senjata dari kayu.
“Benarkah kau yang bernama Amut?” tanya lelaki dengan otot tangan terbesar.
“Ya, aku sendiri yang bernama Amut. Ada apa?” tanya balik Amut.
“Tidak, kukira kau memiliki tubuh yang lebih kecil daripada kura-kura raksasa. Hanya saja tubuhmu tak seperti seorang petarung.” Sebuah pedang kayu disodorkan lelaki dengan tubuh terbesar.
“Haruskan aku melakukan ini? Aku takut jika salah satu dari kita terluka berat akan bisa mengurangi performa kita jika ada mutan yang menyerang” kata Amut.
“Tenang saja, ini hanya kayu. Tak akan ada yang terluka parah, paling hanya ringan saja,” sahut lelaki bertubuh besar yang lain.
Sebuah pedang yang ada di lantai kapal diambil Amut. Bersama dengan para lelaki berotot besar yang lain, dia bersiap dengan pedang kayu. Kedua orang itu sudah bersiap untuk bertarung.
Awal mula pertarungan, Amut hanya bertahan saja. Pedang digunakan sebagai sebuah pertahanan walau juga pedang sempat terarah pada leher si Amut.
“Pertahananmu cukup bagus juga. Tapi ini tak cukup untuk mengatasi mutan. Jika bisa bertarunglah lebih bagus lagi,” kata lelaki yang berotot besar.
Aturan sudah sedikit dipahami Amut. Jarak diambil beberapa langkah. Pedang pun mulai diayunkan. Serangan nan cepat dilakukan berkali-kali. Sebuah lompatan dilakukan dan Amut menyerang dari belakang. Kayu tersebut mengenai punggung seorang pria yang menjadi lawan tanding.
“Hai, kau jangan curang. Bertandinglah dengan adil,” protes seorang perempuan berambut kuning.
“Dik, tidak apa-apa. Aku tertarik dengan lelaki ini. Amut, tunjukkan seberapa kuat dirimu,” kata pria besar berambut coklat keriting.
Kedua orang tersebut mundur beberapa langkah. Tebasan kembali dilakukan. Pertemuan dua buah pedang terjadi lagi. Amut sedikit kewalahan karena kalah tenaga. Masih menjadi keuntungan dia lebih cepat dalam menyerang. Sebuah pertahanan dilakukan. Kaki menginjak kaki si pria besar dan tangan telah menempel pada wajah orang yang menjadi lawan tanding. Tentu saja dengan kecepatan yang rendah dan penuh kelembutan. “Begini benar atau tidak,” katanya.
“Hai, serangan itu tak kan melukai mutan, hahaha,” tawa seorang penonton. Beberapa penonton ikut tertawa.
“Katanya kita tanding persahabatan, bukan melawan mutan,” kata Amut.
“Kalau begitu coba lakukan seperti berburu mutan,” pinta lelaki berotot terbesar.
“Tentu.”
Beberapa langkah mereka lakukan secara bersama. Serangan tak terelakkan lagi. Pertemuan antar kayu kembali terdengar. Namun Amut memilih untuk mundur beberapa langkah. Lompatan dilakukan dan serangan kembali terjadi. Kali ini hanya sebuah tendangan. Amut langsung menyerang tanpa ada jeda. Tebasan dilakukan walau tertahan. Kaki kiri melakukan sebuah tendangan, kaki kanan mengikuti sehingga si rival mundur. Kaki masuk ke tengah dua kaki pria yang menjadi lawan. Jegalan dilakukan dan pria tersebut terjatuh. Pedang pun disodorkan ke wajah si pria berambut coklat.
“Mana boleh lakukan seperti itu, curang namanya,” protes seorang penonton.
“Ini caraku untuk melumpuhkan lawan, biasanya aku menggunakan lebih dari satu senjata,” alasan Amut.
Pria yang menjadi lawan Amut tersebut bangkit. Pedang kayu kembali dipegang dengan erat. “Coba buktikan kepadaku kalau kau bisa menggunakan dua pedang,” tantangnya. Sebuah tangan mengisyaratkan agar memberikan pedang kayu yang lain. Kini dia memegang dua buah pedang kayu bersama dengan Amut.
Jarak kembali diambil. Dua buah pedang dipegang dengan cara yang berbeda. Kedua orang tersebut berlari saling mendekat. Si pria melayang dua pedang secara bersama. Cukup mudah bagi Amut untuk menahan dengan satu pedang. Sedangkan pedang yang lain digunakan untuk menyerang ke tangan pria besar dengan kecepatan rendah yang mana tak menghasilkan efek sama sekali. Tendangan kembali dilakukan dengan hasil dia mundur beberapa langkah. Lompatan kembali dilakukan dan kini dia memanjat layar kapal. Lompatan kembali dilakukan dengan sebuah tebasan ganda dan pundak pria tersebut langsung berwarna merah. Tendangan dilakukan dan mengenai punggung si pria tersebut berkali-kali hingga tersungkur.
Entah apa yang dilakukan Amut, mereka hanya bisa tercengang saja. Antara percaya atau tidak atas apa yang disaksikan mata, mereka sendiri kesulitan untuk mempercayai sesuatu yang terjadi di tempat tersebut. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulut para penonton.
“Amut, aku akui kau sangat cepat dan kuat. Tapi ini belum seberapa, mutan yang berada di sana sangat berbahaya. Namaku Paso dan adikku Aya.” Si lelaki berambut coklat bangkit sambil memegang bahu yang sudah terluka parah. Pedang yang terjatuh kembali diambil.
“Salam kenal, kita terus lanjutkan atau sudah saja?” tanya Amut.