“Hari sudah mulai gelap. Jika kita keluar pada mala mini mungkin bisa membahayakan nyawamu. Sebaiknya kita berlayar besok saja,” kata Amut. “Kalau begitu aku tutup pintu kapal,” kata Yina. Tangan perempuan itu dilepaskan Amut begitu saja. Dengan demikian dia bisa mengunci pintu kapal. Hari sudah mulai pagi. Hanya saja di tempat itu tak seperti biasa. Hujan belum juga reda dari tempat tersebut. Amut dan Yina hanya bisa melihat air turun dari balik jendela. Minuman hangat sebagai pendamping kenikmatan suasana dingin tersebut. Bahan belanjaan semalam dimakan sebagai sarapan di pagi tersebut. “Perlu kita mencari Savadi?” tanya Yina. “Iya, tapi kita tunggu hujan reda dahulu,” jawab Amut. “Menurutku sekarang saja. Savadi terlalu lemah untuk di luar sendiri. Semakin lam kita menunda maka se

