1. Melarikan Diri
“VIVIEN, BUKA PINTUNYA!!”
Suara teriakan yang khas itu sudah tak asing lagi di telinga Vivi. Dalam baringannya, Vivi tidak berani membuka mata dan terus berpura-pura tidur.
Merasa panggilannya di acuhkan, Leon langsung mendobrak pintu dan terlihat Vivi yang tengah tertidur lelap dengan balutan selimut di tubuhnya. Leon mendekat, kemudian duduk di pinggir ranjang.
“Vi, ayo sarapan dulu!" Perintah Leon dengan tegas.
Vivi membuka mata perlahan, bersikap seolah-olah dirinya baru saja bangun dan segera duduk.
Tanpa basa-basi, gadis berusia 21 tahun itu pun mengambil piring yang Leon pegang dengan sangat lemah lembut dan langsung menyantap lahap roti dengan selai kacang di dalamnya.
Sambil mengunyah, Vivi menahan air mata agar tidak jatuh. Kepalanya terus menunduk, namun bibir tak bisa bicara.
“Leon, sebenarnya kamu adalah pria terbaik dalam hidupku. Bahkan di saat kita baru saling mengenal dahulu, kamu rela mengorbankan apapun untuk kebahagiaanku. Bersikap seperti pahlawan tersembunyi yang selalu ada setiap kali aku membutuhkan pertolongan. Tapi sekarang semuanya telah berubah. Kamu rela mengorbankan diriku hanya untuk keegoisanmu.” Tutur batin Vivi yang tak berani menatap mata pria tampan tersebut.
Tak berbicara sedikitpun, Leon terus berdiam diri sembari memperhatikan Vivien. Dia ingin memastikan bahwa gadis yang ia cintai itu benar-benar menghabiskan sarapan buatannya.
“Aku sama sekali tidak ingin menyalahkan takdir. Karena aku yakin bahwa semua ini hanyalah pilihanmu. Ya, pilihan untuk merubah sikapmu secara drastis dan tak seperti dulu lagi.” Lanjut Vivi, mulutnya masih terus mengunyah dengan pelan.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba Vivi tersedak. Dengan sigap, Leon berkata bahwa ia akan mengambilkan minum untuknya.
Ketika Leon baru saja meninggalkan Vivi sendirian, Vivi melihat ada yang aneh dari luar jendela.
Bentuknya terlihat seperti bayangan seseorang yang sedang berusaha membuka jendela tersebut dengan sedikit suara gedor-gedor.
Merasa penasaran, Vivi pun melepas balutan selimut dari tubuh dan melangkah perlahan menuju jendela yang di penuhi dengan debu karena sama sekali tak pernah tersentuh.
Kali ini gadis penakut itu mencoba untuk memberanikan diri. Dengan tangannya yang halus, ia mengusap debu-debu kotor tersebut agar dapat melihat siapa yang ada di luar sana.
Begitu terkejut Vivien saat tau bahwa itu adalah Marcel. Ya, Marcel merupakan teman lama sekaligus saingan Leon dalam mendapatkan dirinya. Tidak hanya itu saja, justru Marcel jugalah yang menjadi alasan mengapa Leon rela menculik Vivi dan tidak pernah memberinya kebebasan sama sekali.
Menyadari bahwa Vivi sedang berada di dekat jendela tersebut, Marcel mencoba memberikan aba-aba agar Vivi mau membukanya.
Vivi ragu, tangannya mulai gemetar dan lemas. Ia tak henti menoleh ke arah pintu untuk memastikan bahwa tidak ada Leon di sana.
“Vivien, tolong buka jendelanya sebentar!” pinta Marcel dengan suara yang sengaja dikecilkan.
Merasa telah di desak oleh keadaan, Vivi menuruti perintah Marcel dengan berat hati dan membuka kunci yang sudah berkarat itu. Walaupun ia sedikit kesulitan karena kunci tersebut sudah lama sekali tak di gunakan, tapi akhirnya tetap berhasil terbuka. Dengan cepat, Marcel menyuruh Vivi untuk segera keluar.
“Marcel, apakah kamu sudah tidak waras? Aku tidak akan mungkin bisa kabur dari sini.” Ucap Vivien, meski dalam hati sangat menginginkannya.
Marcel tak peduli dan terus membujuk Vivi seraya mengatakan bahwa kesempatan dan pertolongan tidak akan datang dua kali. Mendengar ucapan tersebut, Vivi terdiam dan berpikir sejenak. Merasa apa yang Marcel katakan ada benarnya.
Di saat yang sama, terdengar suara langkah kaki mendekati kamar. Tentu hal ini membuat Vivi semakin panik dan bingung harus menuruti perintah Marcel atau mengikuti pilihannya.
Leon memasuki ruangan tersebut dengan ekspresi datar disertai mata sinisnya, membuat ia semakin terlihat dingin.
Tak di sangka, dirinya malah di buat terkejut saat mengetahui bahwa tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Ya, Vivi telah berhasil melarikan diri bersama Marcel. Leon menoleh kesana dan kemari dengan bola mata yang juga mulai memanas. Sadar bahwa ternyata jendela sudah terbuka, Leon berlari mendekati.
Benar saja, ia melihat pot bunga di depan jendela tersebut telah jatuh. Leon semakin yakin bahwa Vivien telah berhasil melarikan diri. Tak kuat menahan emosi, pria dingin itu melempar gelas beling berisi air yang ada di tangannya hingga menghantam dinding dan pecah begitu saja.
“AAKKHH!!” teriak Leon dengan kasar.
Sekuat-kuatnya pria seperti Leon, tetap tak akan bisa menahan betapa sakit hatinya saat ditinggalkan oleh orang yang ia sayangi.
“Leon, kamu gak boleh lemah kayak gini! Kamu harus tetap berpikir positif sekarang!" kata Leon meyakinkan diri.
Dengan cepat, Leon pun berlari keluar rumah dan mengambil mobil miliknya.
Ia mulai melakukan perjalanan mencari gadis yang selama ini telah merubah hidupnya menjadi lebih berarti.
Hanya dengan bermodalkan foto yang ia punya bersama Vivi di ponsel miliknya, Leon terus bertanya pada orang-orang di sekitar.
“Apakah anda melihat wanita ini?”
Itulah kalimat yang selalu keluar dari mulut Leon sembari menunjukkan foto Vivien. Tapi sayang, semua orang yang ia tanyakan tidak ada yang melihat Vivi sama sekali. Hingga beberapa jam pun berlalu.
Di dalam mobil yang tengah berhenti, Leon bersandar di kursinya dengan mata terpejam dan perasaan tak karuan. Leon ingin sekali mengeluarkan air mata kekecewaannya, tapi ia tidak bisa. Karena ia telah berjanji pada diri sendiri untuk tidak boleh menangis walau sebesar apapun masalah yang menimpanya.
Menyerah? Tentu saja tidak. Tapi ia sudah tak tau harus mencari Vivi kemana lagi. Leon yakin bahwa Vivi tidak mungkin kabur sendirian. Pasti ada yang membantu atau menghasut Vivi untuk melakukan hal tersebut. Apalagi, selama ini Vivi tak pernah berani menyentuh jendela di rumah Leon karena ancaman darinya.
Leon mengancam bahwa ia akan menghubungi kedua orang tua Vivi dan memberitahu bahwa putri mereka sedang berada di kota Paris bersamanya.
Setiap kali Leon mengancam hal tersebut, Vivi langsung ketakutan. Ia takut Leon benar-benar menghubungi keluarganya dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Selama ini Leon telah di bohongi oleh gadis yang ia anggap sempurna. Vivi mengatakan pada Leon bahwa ia kabur dari rumah karena ada masalah keluarga yang tak bisa di selesaikan. Padahal, semua itu hanyalah omong kosong.
Tiba-tiba...
BRAAKKK!!!
Sebuah truk besar menghantam keras mobil Leon hingga rusak parah. Spontan, orang-orang yang melihat kejadian tersebut pun bergegas mengambil tindakan. Suasana menjadi hancur seketika, seperti apa yang sedang Leon rasakan.
***
“Dok, bagaimana keadaan pria ini?" Tanya seorang gadis manis dengan rambut coklat dan bola mata yang indah.
“Untuk keadaan pasien saat ini masih belum bisa pulih sepenuhnya,” kata dokter yang menangani Leon.
“Maksud dokter?”
Tak tega memberitahu Grace, dokter itu menghela nafas sejenak dan sedikit menunduk.
“Bagian paling sensitif di daerah kepala pasien telah mengalami benturan yang sangat keras dan menyebabkan pendarahan. Kemungkinan besar ia bisa saja mengalami amnesia. Atau dengan kata halusnya, lupa ingatan.”
“Apa? Lupa ingatan?” Kaget Grace, membuat dirinya menjadi pusat perhatian dari orang-orang di sekitar.