2. Siapa Aku?

1076 Kata
“Ya, benar. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah ini akan berlangsung untuk selamanya, atau ada keajaiban yang dapat membuat ingatannya kembali.” Grace yang tidak mengenal Leon sama sekali dan hanya di beri amanah untuk mengantarkan-nya ke rumah sakit, malah ikut merasa kasihan pada pria tampan yang tengah berbaring tak sadarkan diri. Mungkin takdir ingin memberikan yang terbaik untuk Leon. Tuhan tau, bahwa Leon telah kehilangan keluarga yang ia sayangi beberapa tahun lalu karena sebuah tragedi memilukan dan membuatnya menjadi seorang pria penyendiri. Pada saat itu, hidup tak ada artinya lagi bagi Leon. Tapi semenjak ia bertemu dengan Vivi, dunianya pun berubah. Ia kembali menjadi orang yang peka akan kasih sayang dan mencintai Vivi dengan sangat tulus. Vivi jugalah yang menjadi keluarga kedua bagi Leon dan menjadi pendengar terbaik untuknya. Apalagi wajah dan perilaku Vivi sangat mirip dengan sang ibu, wanita yang sangat Leon sayangi. Itulah alasan Leon tak ingin kehilangan Vivi. Tapi kali ini takdir kembali merenggut semuanya. Sekarang Vivi telah pergi melarikan diri bersama pria lain. Ia tak punya siapa pun lagi yang akan menemani hidupnya. Mungkin karena inilah takdir ingin Leon melupakan semua kejadian pahit tersebut dan memulai kehidupan baru. *** "Vi, kalau kamu mau, kamu bisa tinggal di sini untuk beberapa saat. Dan jika kamu butuh sesuatu, silahkan panggil aku! Aku akan selalu ada untukmu, tidak seperti pria licik itu." Kata Marcel yang mencoba menenangkan Vivi. Masih di kota yang sama, Marcel memberikan Vivi tempat tinggal yang berada tepat di sebelah rumahnya sendiri. Vivi yang belum bisa menghilangkan rasa takut dan perasaan bersalahnya pun hanya mengangguk bisu menahan air mata. Sejak kecil, ia memang di kenal dengan sifatnya yang cengeng. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ini sudah 1 bulan lebih semenjak Leon di rawat di rumah sakit. Sama seperti Marcel, Grace juga memberikan tempat tinggal yang fasilitasnya melebihi kata nyaman untuk pria dingin yang selalu membuat ia terpesona setiap kali menatapnya. “Masuklah! Aku sudah menyewakan apartemen ini untukmu. Kamu bisa tinggal di sini sampai kapan pun kamu mau.” Kata Grace, mempersilahkan Leon untuk masuk. Leon menatap Grace dengan heran. Siapa sebenarnya wanita ini, dan mengapa Leon tidak bisa mengingat apa-apa. Bahkan namanya sendiri, dia pun juga lupa. “Baik, terima kasih.” Tutur Leon dengan sangat singkat, kemudian masuk ke dalam apartemen tersebut bersama wanita kaya raya di sebelahnya. “Grace!” “Iya, ada apa?” Grace menoleh sambil membukakan dua bungkus makanan yang baru saja ia beli untuk makan siang bersama Leon. “Kalau boleh tau, siapa namaku sebenarnya? Mengapa kamu selalu memanggilku dengan sebutan Leon?" Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontarkan dari bibir tipis pria tampan tersebut. Grace menghela nafas lembut, kemudian berbalik badan dan membawakan kedua mangkuk di tangannya ke hadapan Leon. “Kurang lebih sekitar satu bulan yang lalu, kamu baru saja mengalami kecelakaan hebat.” “Kecelakaan?” “Iya, benar. Kebetulan pada saat itu, aku sedang berada di lokasi kejadian. Beberapa orang di sana memberiku amanah untuk membawamu ke rumah sakit. Tapi, kata dokter kamu menderita amnesia atau lupa ingatan. Oleh karena itulah kamu tak bisa mengingat apapun.” Seketika, tangan Leon berhenti. Mulut menjadi kaku dan moodnya pun juga berubah dalam sekejap. “Semua keadaan waktu itu benar-benar kacau. Ponsel yang kamu bawa pun juga rusak parah. Aku dan polisi yang datang tidak menemukan petunjuk lain lagi, kecuali gelang pria yang ada di tanganmu itu." Seketika, Leon langsung mengalihkan pandangan ke pergelangan tangan kirinya dan melepas gelang pria berwarna hitam yang ia kenakan. "Leon Arendra," ucap Leon saat membaca tulisan yang tertera. "Itulah alasanku memanggilmu dengan sebutan Leon." Lanjut Grace, membereskan sisa makanan mereka. "Kalau boleh tau, dimana kecelakaan itu terjadi?" Tanya Leon dengan rasa penasaran yang masih belum bisa hilang. "Tidak jauh dari Tuileries Garden. Tapi, aku sarankan agar kamu tidak datang ke sana." "Kenapa?" "Karena mungkin itu hanya akan memberikan ingatan buruk padamu. Lupakan saja tempat kecelakaan tersebut, dan anggap saja kamu tidak pernah mengalami kejadian apapun. Mulailah semuanya dari awal." *** Terlihat Vivi yang tengah menikmati pemandangan kota dengan sejuknya angin malam yang melengkapi. Tetesan air mata kembali mengalir membasahi pipi. Vivien mengingat semua masa-masa indah bersama pria yang selalu menjadi pahlawan terbaik untuknya. Terutama kenangan di awal pertemuan mereka. Pada 2 tahun yang lalu, Vivi di usir oleh keluarganya karena sebuah kesalahan besar yang sengaja ia perbuat. Merasa kota kelahirannya sudah tidak bisa menerima dirinya, Vivi pun berpikir untuk pindah ke kota Paris dan memulai kehidupan baru. Tak di sangka, ia malah bertemu dengan Leon dan mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama. "Apa tujuanmu datang ke kota ini?" Pertanyaan Leon itu masih teringat jelas di benak Vivi. Tak ingin pria yang ia cintai menjauhkan dirinya, Vivi rela berbohong dan berkata bahwa ia ingin menenangkan diri di kota impian karena keluarganya sedang ada masalah. Ia tidak memberitahu Leon sama sekali bahwa dirinya-lah yang telah di usir. "Tapi tolong jangan beritahu siapapun bahwa aku ada di sini, termasuk keluargaku. Aku tidak ingin mereka tau keberadaanku sekarang." Pesan Vivi yang padahal hanya takut kalau Leon akan mengetahui yang sebenarnya. Waktu terus berjalan, hingga tiba di mana Marcel yang berstatus sebagai teman dekat Leon pun datang. Setiap kali melihat Vivi, Marcel tak bisa menjaga pandangan. Dirinya selalu di buat luluh oleh wanita yang pada saat itu tengah dekat dengan Leon. Semakin hari, hubungan mereka pun semakin memanas. Leon yang sudah sangat menyayangi Vivi, tidak ingin kehilangannya dan rela menculik Vivi agar tak di rebut Marcel. Sejak saat itu, sikap Leon berubah drastis. Jika sebelumnya Leon masih bisa tersenyum dan tertawa setiap kali bersama Vivi, maka kali ini berbeda. Sekarang Leon kembali menjadi pria dingin dan penyendiri seperti dulu lagi. Bahkan Leon juga sering memarahi Vivi setiap kali Vivi melawan perintah darinya. Walaupun dalam hati ia merasa tidak tega dan tak ingin memperlakukan Vivi dengan kasar. "Aku melakukan ini karena aku menyayangimu. Aku sudah kehilangan keluargaku, dan aku tidak mau kejadian itu terulang untuk kedua kalinya. Jadi, tolong kabulkan permohonanku. Jangan pernah tinggalkan aku sendirian seperti dulu lagi." Perkataan Leon tersebut terus berputar di pikiran Vivi dengan perasaan bersalahnya. Vivi semakin tak kuasa menahan sesaknya d**a dan mulai menangis tersedu-sedu dengan angin malam yang menjadi saksi. *** "Cepat ganti bajumu sekarang dan tunjukkan penampilan terbaikmu!" Grace memberikan kemeja putih beserta jas dan celana panjang berwarna hitam pada Leon yang baru saja bangun karena alarm miliknya sudah menunjukkan pukul 10 pagi. "Tapi, mau kemana kita?" Tanya Leon dengan datar. "Sudahlah, tidak usah banyak bertanya! Lakukan saja sekarang!" kata Grace tak ingin memberitahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN