3. Dipertemukan Kembali

1149 Kata
Beberapa menit kemudian, mereka telah tiba di depan sebuah gedung besar bertuliskan Almero Corporation. Mengikuti Grace dari belakang, beberapa petugas keamanan langsung menundukkan kepala saat melihat wanita yang ternyata juga merupakan salah satu orang penting pada perusahaan tersebut. Di sebuah ruangan, terlihat pria berpakaian formal dengan sangat rapi yang sedang duduk sembari memainkan pulpen mahal di tangannya. "Ayo, masuk!" Kata Grace, membuka pintu ruangan tersebut tanpa basa-basi sedikitpun. Leon merasa heran, tapi tetap menuruti apa yang Grace katakan. "Paman, ini adalah teman baruku, namanya Leon. Pria yang waktu itu aku ceritakan pada paman." Jelas Grace yang ternyata merupakan keponakan dari pria gagah di hadapannya. "Senang bertemu denganmu, Leon. Perkenalkan, saya Robert Almero, pemilik dari perusahaan ini." Pria yang baru saja datang dari kota Nancy itu memperkenalkan diri dengan sangat berwibawa dan nada bicaranya pun juga tegas, sama seperti Leon. Kali ini demi menghormati paman dari wanita yang telah menolongnya, Leon rela menunjukkan sedikit senyuman dengan terpaksa. Melihat bibir tipis itu, Grace tak kuasa menahan rasa kagum dalam hati seraya berkata, "Astaga, ternyata Leon bisa senyum juga. Ya ampun, ganteng banget." *** Pelayan datang dengan membawa menu makanan ke sebuah meja eksklusif. "Permisi, ada yang bisa kami bantu?" Tanya pelayan tersebut pada Vivi dan Marcel yang tengah duduk santai di sebuah restoran bintang lima. Marcel melihat menu makanan dengan serius. Ia bingung harus memilih yang mana "Saya mau ini!" Setelah beberapa menit memikirkannya, kini Marcel menunjuk salah satu makanan yang paling terkenal di restoran tersebut, yaitu kaki ayam yang di masak dengan anggur merah, atau yang biasa di sebut coq au vin. "Baiklah. Untuk Nona-nya, mau pesan apa?" "Saya juga sama," jawab Vivien pasrah. Setelah pesanan jadi, pelayan tadi kembali menghampiri mereka dengan tambahan dua gelas kopi hangat sebagai bonus karena pada saat itu merupakan hari jadi restoran tersebut yang ke 6 tahun. Tak disengaja, si pelayan malah menumpahkan kopi tersebut hingga mengenai baju Vivi. Dengan cepat, Vivi pun berjalan menuju toilet untuk membersihkannya. Di saat yang bersamaan, Leon, Grace, dan Robert masuk ke dalam restoran yang sama. Mereka duduk di sebuah meja VIP yang biasa Grace tempati. Baru saja duduk sebentar, Leon berkata bahwa ia ingin ke toilet untuk cuci muka. Kebetulan, posisi toilet pria dan wanita bersebelahan. "Dasar gadis kurang ajar! Kalau setiap anak muda di dunia ini seperti dirimu, saya yakin dunia akan hancur." Terlihat seorang wanita paruh baya yang tengah marah-marah pada Vivi. Wanita tersebut mengatakan bahwa Vivi telah mencuri dompet miliknya setelah melihat bahwa dompet tersebut berada di dalam tas Vivi. "Ta-tapi..." "Duh, sudah deh jangan banyak alasan! Saya yakin orang tuamu akan sangat malu saat tau putri mereka tumbuh besar menjadi pencuri sepertimu." Seketika, Vivi terdiam. Ia tau bahwa keluarganya memang tidak pernah bangga memiliki dirinya. Dengan cepat, wanita itu menarik tangan Vivien keluar dan membawa paksa. Tak di sangka, mereka malah berpapasan dengan Leon. *** "Sini tanganmu!" Perintah Marcel, hendak mengompresnya. "Untuk apa?" "Lihatlah! Pergelangan tanganmu sampai merah begitu. Dasar wanita tidak punya hati. Bagaimana dia bisa menyalahkan-mu hanya karena dompet miliknya ada di tas-mu. Padahal belum tentu kamu yang mengambilnya, Vi." "Huh! Aku juga tidak tau. Tapi, sebenarnya ini adalah karena kecerobohanku. Aku yang malah meninggalkan tas di luar tanpa berpikir panjang tentang resikonya. Jadi, aku ingin minta maaf karena telah merepotkanmu." "Merepotkan? Merepotkan bagaimana maksudmu?" "Karena kesalahanku-lah kamu jadi di permalukan. Apalagi pada saat ibu-ibu itu menarik paksa diriku ke hadapanmu hanya untuk minta pertanggung jawaban." Marcel menghela nafas kasar, meminta Vivi untuk melupakan kejadian tadi. Dalam hati kecilnya, Vivien ingin sekali memberitahu Marcel bahwa ia baru saja bertemu dengan Leon. Tapi, Vivi merasa ini bukanlah saat yang tepat. *** "Leon, mengapa kamu tidak mengenaliku? Dan mengapa kamu bisa bersama Grace? Bahkan di saat kamu berniat menolongku, kamu malah mengurungkan niat karena Grace mencegah dan mengajakmu pergi. Kalian terlihat begitu dekat." Batin Vivi tak kunjung tenang. Pertanyaan dan kegelisahan terus merambat menyelubungi pikiran. Saat pagi tiba, jam menunjukkan pukul 6. Vivi yang bangun lebih awal dari biasanya, berniat untuk membuat sarapan sendiri. Menuju dapur, lalu membuka kulkas yang ternyata tidak ada isinya sama sekali. Vivi ingat bahwa kemarin Marcel sempat memberinya sedikit uang. "Mungkin ini cukup untuk membeli bahan makanan," tutur Vivien mengocek saku baju. Saat keluar rumah dan sedang mengunci pintu, ia berpapasan dengan Marcel yang tengah berjalan cepat menuju mobil. Marcel terlihat sedang terburu-buru, hingga tak menyadari bahwa ada Vivi yang sedang memperhatikannya. Pada saat itu, Vivi ingin meminta Marcel untuk mengantarkannya ke pasar. Tapi, dia mengurungkan niat karena mengira bahwa Marcel sedang ada urusan penting di kantor. Setibanya di pasar, Vivi memilih beberapa sayuran segar dengan keranjang belanjaan yang ia jinjing di tangan kiri. "Bu, saya mau buah itu 1kg, ya!" Kata Vivi pada si penjual sembari menunjuk ke arah buah apel. Setelah semua sayuran dan buah yang ia butuhkan telah terpenuhi, Vivi membayar dengan uang seadanya. Dan syukurlah, total belanjaan tersebut tidak melebihi uang yang ia punya. Vivi berusaha untuk keluar dari kerumunan orang-orang yang juga sedang memburu sayuran segar. Kondisi pasar saat itu benar-benar ramai sekali. Tanpa si sadari, ada segerombolan pria mengelilingi Vivi dengan mata yang terus melirik kemana-mana, mengawasi keadaan. Dengan kecepatan yang gesit dan sudah menjadi keahlian, mereka berhasil mengambil ponsel Vivi dari dalam tas selempang mini yang ia gunakan. Saat hendak melarikan diri, tiba-tiba salah seorang pria datang dan langsung menahan mereka. "Kembalikan!" kata Leon yang tengah memakai hoodie dan celana levis hitam. Spontan, Vivi menoleh dan terkejut melihat ada Leon di belakangnya. "Heh, anda siapa?" Tanya si preman yang tangannya sedang di tahan oleh Leon. "Jangan macam-macam sama kita, ya! Laki-laki seperti anda itu enggak pantas buat menghalangi apalagi melawan kita. Jadi, mending mundur aja deh!" Sahut salah satu di antara temannya. "Saya tidak berniat menghalangi kalian untuk pergi. Jika kalian mau pergi, ya silahkan pergi saja sekarang! Tapi, kembalikan terlebih dahulu ponsel itu padanya." Ucap Leon berekspresi datar dengan nada santainya. Vivi yang tidak tau apa-apa, terkejut saat melihat ponsel miliknya berada di tangan preman tersebut. "K-kenapa bisa ada di dia?" Tanya Vivi dengan gugup. Leon yang masih terlihat cuek pun tak membalas pertanyaan itu dan berusaha merampas ponsel punya Vivi. Namun, semua yang sedikit akan kalah dengan yang banyak. Leon yang hanya membela Vivi sendirian, di hajar habis-habisan oleh para preman tersebut yang jumlahnya sekitar 6 atau 7 orang. Kini, mereka menjadi pusat perhatian. Tak ada yang berani membantu Leon, karena mereka tau bahwa para preman tersebut merupakan orang-orang paling menakutkan di pasar itu. "To-tolong hentikan! Aku mohon." Lagi-lagi Vivi hanya bisa menangis berteriak melihat pria yang masih ia cintai itu di sakiti. "Asal anda tau, ya! Kita ini anak buahnya Jhonnie, ketua preman di daerah sini. Jadi kalau anda berani macam-macam dengan kita, sama saja anda mencari masalah dengan dia." "Baru anak buah doang, kan?" Leon yang sudah di hajar habis-habisan hingga hidung dan mulutnya mengeluarkan cairan kental berwarna merah yang tak sedikit, masih berani membalas perkataan mereka. "Anak buah kok belagu," ucap Leon, membuat suasana semakin panas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN