4. Paris Jadi Saksi

1092 Kata
Di jalanan yang sangat sepi, terlihat Marcel sedang berbicara dengan seseorang. Ternyata, itu merupakan wanita yang kemarin bermasalah dengan Vivi saat berada di restoran. "Kerja bagus! Tidak sia-sia saya membayar anda." Tutur Marcel yang ternyata merupakan dalang di balik permasalahan yang menimpa Vivien. "Oke, terima kasih." Kata Wanita tersebut. Kini, Marcel merasa dirinya adalah pahlawan sejati untuk Vivi. Marcel ingin melindungi Vivi sepenuhnya dan membuat Vivi jatuh hati padanya. Seperti Vivi mencintai Leon dengan tulus. "Tapi..." lanjut si wanita, membuat Marcel penasaran. "Saat saya hendak membawa Vivi ke hadapan anda untuk berpura-pura meminta pertanggung jawaban, ada seorang pria yang bersikeras membela Vivi. Vivi pun juga terlihat mengenalinya, tapi saya tidak tau siapa nama pria itu." Marcel terdiam sejenak, mencoba menebak siapa orang yang di maksud. *** Leon tiba di apartemen. Ia melihat ada Grace yang sudah menunggunya sejak tadi di depan pintu. "Apa yang terjadi, Leon? kenapa wajahmu babak belur seperti ini?" Panik Grace saat Leon datang sembari mengelus wajah mulusnya yang sudah di penuhi memar. "Tidak ada apa-apa." Jawab Leon dengan cuek. "Bohong! Aku tau kamu bohong." "Ini bukan urusan-mu." Ucap Leon, melirik sinis. "Tentu saja ini juga urusanku. Aku yang sudah menolongmu sejak awal. Aku bersusah payah mejagamu hingga pulih seperti ini. Dan saat ada yang menyakitimu kembali, tentu aku tidak akan tinggal diam." Kesal Grace, menganggap pengorbanannya tak di anggap. Leom diam sejenak. Di sisi lain, ia juga semakin penasaran dengan Vivi. "Tadi aku bertemu dengan wanita yang kemarin berada di restoran. Para preman berniat mencuri ponselnya, dan aku pun hanya ingin menolong." Jelas Leon dengan terpaksa. "Ma-maksud kamu, Vivien?" Leon mengangguk pelan. "Astaga, Leon. Sudah aku bilang jauhi dia! Jangan dekat-dekat padanya. Dia adalah wanita pembawa sial. Lihatlah! kamu sampai terluka seperti ini hanya untuk membebaskan penjahat dari kejahatan." Leon masih melamun dan tak merespon ucapan Grace sama sekali. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikirmu. Kamu menyelamatkan dia dari pencurian, sedangkan dia sendiri adalah seorang pencuri. Apa kamu tidak ingat kejadian kemarin? Di saat ia ketahuan mengambil dompet milik ibu-ibu tak di kenal." "Kenapa kamu terlihat begitu membencinya?" Leon mulai curiga. Dalam sekejap, Grace langsung gugup. Bicaranya pun gagap seketika. Terlihat ingin menjawab, namun tidak tau apa yang harus ia katakan. "Ka-karena dulu... Aku adalah tetangganya. Dan tentu aku tau sifat asli dia." Grace tak berani menatap mata Leon. *** Di sudut kamar, Vivi melamun. Ingatannya kembali pada kejadian yang baru saja ia alami. Ia teringat di mana saat dirinya hendak mengobati wajah Leon, Leon malah menolak dengan kasar. "Tolong, biarkan aku mengobatimu!" Saat Vivi mengeluarkan permohonan itu, Leon berkata bahwa ia tak butuh bantuan dari Vivi. Hati kecilnya kini benar-benar hancur. Pria yang selalu menjaga dan menyayangi ia dengan tulus, bersikap seolah-olah tak ingin melihat dirinya lagi. "Aku tau ini adalah kesalahanku karena telah meninggalkanmu. Tapi, tolonglah berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu." Ketika Vivi mengatakan hal tersebut, Leon malah terlihat risih dan bangun dari duduknya. Kemudian ia pergi meninggalkan Vivi tanpa berkata apapun lagi. Kini, Vivien merasa semua kenangannya telah musnah. Masa-masa terindah yang pernah mereka lalui, sudah terbang di rampas angin. Hanya kota inilah yang menjadi saksi kisah mereka berdua. Ya, kota Paris. Tempat dimana pertama kali dan terakhir kali mereka bertemu. Sebelum Leon melupakan Vivi untuk sepenuhnya. Vivi tau bahwa Leon sangat marah dan kecewa. Ia mengira kalau Leon sengaja melupakan dirinya hanya demi Grace. Padahal, semua itu tidak sesuai dengan apa yang Vivi kira. Vivi sama sekali tak mengetahui bahwa Leon hilang ingatan setelah mengalami kecelakaan saat dalam perjuangan mencari dirinya, dengan besar harapan bahwa wanita yang ia cintai bisa kembali. Bagi sebagian orang, mungkin itu merupakan perjuangan dan penyesalan terbesar yang tidak diinginkan sama sekali. *** Leon terlihat sedang memukul samsak tinju dengan sangat keras. Mata memanas menatapi alat tinju tersebut. Pikirannya masih tak bisa lupa dari kejadian yang menimpanya 3 hari lalu. Para preman itu menghajar Leon hingga babak belur. Membuat dirinya merasa begitu lemah. Di sisi lain, ia juga teringat dimana Grace meminta Leon untuk menjauhi wanita bernama Vivien. Mengapa Vivi yang Leon lihat tak seperti yang diceritakan oleh Grace. Ya, itulah salah satu pertanyaan yang masih membekas di pikiran Leon. Vivien, wanita dengan wajah polos dan lemah lembut itu sangatlah ramah. Terutama saat Vivi bersikeras untuk mengobati luka Leon. Tapi, baru beberapa saat saja mereka bertemu, Leon bisa merasakan bahwa Vivi adalah gadis yang peduli pada siapapun. Leon tak tega saat dirinya pergi meninggalkan Vivi dan menolak bantuan darinya, apalagi saat melihat mata Vivi mulai berkaca-kaca. "Leon!" Tiba-tiba, suara khas itu berlalu di telinga Leon. Merasa bahwa ada yang memanggilnya dari belakang, Leon menghentikan gerakan tangannya yang lincah, kemudian melemaskan jari-jari yang tengah mengepal keras. Leon berbalik badan dan melihat ada Robert yang tak jauh dari dirinya. "Minumlah!" Kata Robert, memberikan sebotol air mineral pada Leon yang hendak duduk dengan nafas masih tak beraturan. Robert ikut duduk di sebelah Leon. "Bagaimana paman bisa tau bahwa aku sedang ada di sini?" "Grace yang memberitahuku. Ia berkata bahwa kau meninggalkannya sendirian di apartemen." Jelas Robert, nada datar. "Sudah aku tebak." Robert bertanya, apa yang sebenarnya terjadi. Leon menceritakan bahwa ada segerombolan preman menyebalkan yang menyerang dirinya. "Mereka merupakan anak buah..." Baru saja Leon ingin melanjutkan perkataan, Robert langsung menyambar. "Jhonnie." Ucapnya, tatapan fokus ke depan. Leon terlihat bingung, mengapa Robert bisa tau. Robert menjelaskan bahwa pasar tersebut memang daerah kekuasaannya Jhonnie, salah satu musuh terbesarnya. Awal dari perselisihan mereka di mulai dari kekalahan Jhonnie dalam persaingan bisnis. Mendengar itu, Leon hanya diam seraya menatap wajah Robert dengan serius. Dalam lubuk hati, Leon ingin bercerita bahwa penyebab ia di serang yaitu karena dirinya menolong wanita cantik bernama Vivi. Tapi, Leon mengurungkan niat karena merasa itu merupakan keluhan yang tidak seharusnya ia keluarkan pada paman Grace. "Kalau boleh tau, untuk apa paman menemuiku ke sini? Apa ada hal penting?" Tanya Leon datar, tak ada senyuman sedikitpun di bibirnya. Robert meminta agar Leon mau bekerja di perusahaan miliknya, Almero Corporation. Ia tau bahwa Leon merupakan pria pekerja keras dan serius akan suatu hal. Dengan besar harapan, perusahaan Almero Corporation bisa semakin maju jika di isi dengan karyawan seperti Leon. "Baiklah kalau itu mau paman. Kebetulan, aku juga belum mendapatkan pekerjaan apapun setelah kembali dari rumah sakit," tutur Leon tanpa berpikir panjang. *** Vivi tengah menahan rasa sakit yang dia derita sejak lama. Perutnya panas di sertai rasa mual. Tiba-tiba... TOK, TOK, TOK "Iya, sebentar!" Teriak Vivi dari dalam rumah yang kemudian berlari kecil menuju pintu. Begitu terkejut melihat siapa yang datang, membuat tubuh Vivi lemas seketika. "G-Grace! mengapa kamu bisa tau aku ada di sini?" Ucap Vivi gugup, menutup mulut dengan tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN