Tanpa basa-basi, Grace segera masuk ke dalam kediaman Vivi dan menutup pintu dengan keras.
"Grace, kenapa kamu bisa ada di sini? Dari mana kamu tau kalau..."
Tiba-tiba, Grace mendorong Vivi ke arah pintu dan menjambak rambut indahnya yang bergelombang.
"Heh, Vivien! Kamu jangan pernah berani-beraninya mendekati calon tunanganku lagi, ya! Kalau sampai kamu ketahuan menemui Leon, aku enggak akan segan-segan untuk membongkar siapa kamu sebenarnya."
"Ca-calon tunangan?" Tanya Vivi, bola mata terbuka lebar dan memerah.
"Ya, emangnya kenapa? Hah!"
Vivi menggeleng bisu dengan tangan kanan masih menutupi bibir halusnya. Ia tak percaya dengan apa yang Grace katakan barusan.
"Oh ya, satu lagi! Kamu itu baru bertemu dengan Leon beberapa hari yang lalu. Jangan mentang-mentang baru bertemu satu atau dua kali, kamu sudah bersikap seolah-olah kamu paling mengenal dirinya."
Dengan kasar, Grace kembali menarik rambut Vivi dan mendorongnya hingga terjatuh ke sofa.
"AAKKHH!!" Teriak Vivi kesakitan.
Sudah tak ada lagi yang ingin di katakan, Grace bergegas pergi meninggalkan kediaman tersebut dan membanting pintu dengan sangat keras, bahkan lebih keras dari sebelumnya.
Tubuh Vivi gemetar. Wanita cengeng itu lagi-lagi menangis untuk yang ke sekian kali. Jari-jemari ia gigit pelan, dengan pikiran dan perasaan yang tak karuan.
"Leon? Calon tunangan?" Tutur Vivi, masih ragu pada perkataan Grace.
***
Saat pukul 7 malam, Vivi baru saja selesai berendam di bath up kamar mandi. Itulah salah satu cara Vivi untuk mengatasi stres yang membuat pikiran berat. Setelah memakai pakaian, ponsel Vivi berdering.
"Halo, Mar!"
Marcel mengajak Vivi untuk pergi ke pesta malam ini. Teman lamanya yang bernama Rain baru saja pulang dari London dan akan merayakan pesta sebagai kabar kepulangannya tersebut.
"Aku tidak bisa, Mar."
"Come on, Vi. Sekali-kali kamu harus menikmati hidupmu dan bergaul dengan dunia luar."
Vivi tak membalas ucapan Marcel. Ia merasa justru karena pergaulan luar-lah yang membuatnya menjadi seorang pecundang hingga menimbulkan masalah besar dan di usir oleh keluarganya sendiri.
"Aku sudah di depan rumahmu sekarang."
Vivi melangkah pelan menuju jendela, melihat ada Marcel berdiri tegap.
Terpaksa, Vivi pun menuruti apa yang Marcel pinta dan langsung kembali mengganti bajunya dengan yang lebih indah.
***
"Silahkan masuk!" Rain menyambut Marcel dan Vivi dengan amat sangat ramah.
Vivi terpaku diam melihat keramaian di dalam rumah Rain yang sudah di datangi oleh beberapa teman Marcel yang lainnya. Kurang lebih ada sekitar 6 orang pria dan 4 orang wanita yang ada di sana.
Marcel bertanya pada Vivi, minuman apa yang ia inginkan sambil menunjuk ke beberapa buah botol kaca. Vivi menggeleng, mengatakan bahwa ia sedang tidak ingin minum.
"Baiklah," tutur Marcel.
Marcel pun bergegas menuju teman-teman sebayanya tersebut, lalu mulai bersenang-senang. Tertawa, bernyanyi, dan lainnya.
Rain melihat ada yang aneh dari perilaku Vivi. Mengapa ia hanya diam saja dan terus duduk di kursi sendirian. Rain menghampiri dan ikut duduk di samping Vivi, mencoba basa-basi terlebih dahulu untuk mencairkan suasana.
"Quel est ton nom?" Rain bertanya siapa nama Vivi dalam bahasa Prancis.
"Vivien! Orang-orang biasa memanggilku dengan sebutan Vivi."
"Apa kamu saudaranya Marcel? Atau mungkin kerabatnya?"
"Bu-bukan, Marcel hanyalah temanku. Dia yang sudah menolongku."
"Menolong?"
Vivi mengangguk senyum, kemudian Rain tak lagi bicara dan malah terlihat bingung.
Detik demi detik berlalu begitu cepat. Tawa, canda, iringan lagu, minuman dan beberapa hidangan makanan telah mereka nikmati.
"Terima kasih, Rain." Ucap mereka yang hendak masuk ke dalam mobil masing-masing.
"Ayo, Vi!"
Baru saja Vivi melangkah dan hendak memenuhi panggilan Marcel, tiba-tiba Rain menghadang.
"Biarkan Vivi menginap di sini untuk menemaniku! Dia sudah terlihat sangat mengantuk. Apalagi, bagaimanapun juga kamu adalah seorang pria. Tentu aku tidak akan mengizinkan Vivi pulang bersama pria sendirian di tengah malam seperti ini"
Vivi yang belum terlalu mengenal Rain pun bimbang. Antara menerima, atau harus menolak.
"Rain, tolong jangan aneh-aneh, deh! Masa iya aku meninggalkan Vivi sendirian di sini. Dia kan belum terlalu kenal sama kamu. Pasti kalau ada apa-apa dia tidak akan berani meminta bantuan dari kamu. Biarkan dia pulang bersamaku sekarang!"
Rain tak peduli dengan apa yang Marcel katakan dan tetap bersikeras membujuk Vivi agar mau menerima ajakannya. Terpaksa, Vivi mengabulkan permintaan Rain tersebut karena perasaan tidak enak. Di sisi lain, Marcel sudah tak ingin berdebat dan langsung pulang sendirian.
Pada sebuah kamar tamu, Vivi sedang duduk di sudut ranjang seraya memperhatikan seluruh isi kamar. Saat itu juga Rain datang dan membawakan bantal beserta selimut untuk Vivi.
"Terima kasih." Ucap Vivien, menatap Rain tulus. Rain hanya membalas ucapan itu dengan senyuman kecil.
***
Grace memasuki ruang kerja barunya Leon.
"Selamat pagi," sapa Grace ramah.
"Pagi," balas Leon dengan amat singkat.
"Syukurlah kamu datang tepat waktu. Paman paling tidak suka pada karyawan yang terlambat."
Grace mendekati meja Leon, kemudian memberikan beberapa dokumen yang harus Leon kerjakan.
"Kalau kamu merasa ada yang sulit, silahkan hubungi aku! Aku akan datang membantumu."
"Terima kasih."
Dengan fasilitas MacBook Pro yang diberikan oleh perusahaan untuk memudahkan pekerjaan para karyawan, Grace mencari beberapa data yang akan menjadi pacuan Leon dalam mengerjakan lembaran dokumen yang ia kasih.
Saat Grace tengah fokus memainkan mouse, Leon memperhatikan wajah Grace.
"Sejak kapan kamu mengenal Vivi?"
Pertanyaan Leon tersebut sontak membuat Grace menghentikan jarinya.
"Kenapa diam?" Lanjut Leon, masih dengan nada santai.
Grace mulai gugup. Ia mengatakan bahwa hal itu tidak penting untuk di bahas saat ini.
"Lupakanlah wanita pembawa sial itu! Namanya tidak pantas untuk kau sebut secara berulang-ulang. Lebih baik kamu selesaikan terlebih dahulu pekerjaanmu ini." Tutur Grace, nada bicaranya berubah menjadi tegas dalam sekejap. Tapi, matanya tak berani menatap mata Leon.
***
Rain dan Vivi terlihat sedang berlari-lari kecil di tepi jalan sembari menghirup segarnya udara pagi.
"Tempat ini selalu ramai di datangi oleh para penduduk sekitar. Terutama karena suasana yang bagus dan indah untuk di pandang. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang datang ke sini untuk mencari ketenangan sejenak dengan maksud menghilangkan rasa bosan."
"Apa kamu juga sering melakukan hal yang sama?"
"Tentu saja! Aku selalu datang ke sini sendirian dan mencari suasana yang dapat membuat pikiranku pulih kembali."
"Terima kasih," kata Vivi menerima wafel dengan toping saus cokelat yang baru saja Rain belikan untuknya.
"Bagaimana?" Tanya Rain tentang rasa.
"pas mal," Balas Vivi dengan bahasa Prancis, yang artinya "tidak buruk".
Di saat yang bersamaan, Vivien melihat Robert dari kejauhan. Spontan, Vivi pun tersedak dan langsung menutupi wajah dengan kedua tangan. Berharap pria gagah berusia 48 tahun itu tak menyadari keberadaannya.
"Please, tolong jangan kesini, please..."
"Permisi!"
Seketika, suara khas itu membuat detak jantung Vivi melambat. Tubuhnya lemas saat tau bahwa kini Robert berada di sebelah mereka.