6. Lowongan Pekerjaan

1054 Kata
Rain merespon dan bertanya keperluan Robert. "Apa kalian tau dimana kantor pengiriman barang terdekat dari daerah sini?" Vivi diam saja, tangannya masih terus berusaha menutupi wajah. Lagi pula, ia juga tidak tau karena ia bukan orang asli Paris. "Paman tinggal jalan lurus saja ke arah toko besar yang bertuliskan Ed Boutique itu, lalu belok ke kiri. Nah, nanti di situ paman akan menemukan gedung yang menjadi pusat pengiriman satu-satunya di daerah sini." Rain menjelaskan dengan sangat baik dan ramah, walaupun ia tidak kenal dengan Robert sama sekali. Tanpa berlama-lama lagi, Robert mengucapkan rasa terima kasihnya dan pergi meninggalkan mereka berdua. Vivi menghela nafas lega. "Ada apa, Vi? Kenapa kamu terlihat ketakutan begitu?" Vivi menggeleng seraya menjawab, "Tidak ada apa-apa". Untuk mengalihkan pembicaraan, Vivien bertanya apa alasan Rain meminta dirinya untuk menginap. Rain menjawab bahwa ia tau perasaan Vivi sedang tidak baik-baik saja. Selama pesta berlangsung, Vivi hanya diam. Sesekali mengelap pelan kelopak mata dan berusaha menutupi kesedihan. "Ceritakan padaku, apa yang membuatmu seperti itu?" Rain yang memang memiliki jiwa peduli, meminta Vivi untuk mengatakan semua padanya. Vivi masih belum terlalu percaya pada Rain. Ia juga berpikir bahwa hanya dengan menceritakan apa yang sedang ia rasakan saat ini, Rain tetap tidak akan bisa mengerti keadaannya. "Apa kamu pernah merasakan sakit hati?" Tanya Vivi, tak ingin menjelaskan perasaannya lebih detail. "Tentu! Aku sudah merasakan semua jenis rasa sakit itu." "Bagaimana jika kamu melihat pria yang kamu cintai bersama dengan wanita lain?" Rain tertawa kecil, membuat Vivi keheranan dan menoleh ke arahnya. "Pasti aku tidak akan kuat melihatnya. Tapi, aku selalu menerapkan dalam diri bahwa tidak semua kisah itu harus di mulai dan berakhir dengan indah. Banyak yang memulai kisah mereka dengan masa-masa indah, tapi berakhir tragis. Atau mungkin sebaliknya." Mendengar hal itu, Vivi merasa bahwa apa yang Rain katakan tidaklah salah. Takdir tak selalu berjalan mulus. Lika-liku kehidupan pasti akan berperan penting sebagai bumbu yang harus mereka coba. "Bahkan mungkin yang aku rasakan waktu itu lebih menyakitkan daripada yang kamu rasakan sekarang. Ya, walaupun itu hanya perkiraanku saja." Ucap Rain, menghabiskan suapan terakhir dari wafel yang tersisa. "Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu? Sedangkan kamu sendiri tidak tau rasa sakit apa yang aku maksud." "Sudah aku bilang, ini hanya perkiraanku saja. Dimana pria yang aku cintai, yang aku impikan sejak lama, telah menjadi mantan kekasihku sekarang. Tentu itu merupakan kenangan yang tidak bisa aku lupakan dengan mudah." "Jadi, kamu baru saja putus?" "Tidak, sudah lama." "Tapi, kenapa?" "Aku paling tidak suka jika orang yang aku cintai menyembunyikan diriku dari orang-orang." Vivi kaget, mengira bahwa kata sembunyi yang Rain maksud adalah di culik, sama seperti dirinya di masa lalu. Namun, Rain kembali melanjutkan perkataan yang membuat Vivi terbungkam diam. "Ya, mantan kekasihku itu tidak ingin siapapun tau bahwa aku adalah pasangannya. Dia bisa bebas pergi kesana-kemari bersama wanita lain. Tapi, aku hanya bisa sabar dan pasrah. Hingga tiba suatu hari dimana ia membuat kesalahan besar dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan saja." *** Robert baru saja mengirim sebuah box besar yang di lapisi bubble wrap ke kota Nancy. "Hadiah tahun ini sudah aku kirim. Tolong segera taruh di kamarnya setelah paket itu sampai. Maaf karena aku belum bisa pulang ke sana. Masih ada banyak kerjaan yang harus aku selesaikan. Tapi, aku usahakan agar bisa kembali lebih cepat." "Baiklah!" Robert segera memutuskan percakapannya dengan sang istri di telepon. Lalu, hadiah apakah yang di maksud oleh Robert? Hadiah yang ia maksud adalah hadiah ulang tahun untuk putri pertamanya yang telah meninggal dunia. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Risca telah tiada. Setiap hari kelahiran Risca, Robert selalu membelikan hadiah, bahkan hingga saat ini. Maka dari itu, tidak heran jika kamar Risca di penuhi oleh barang-barang baru walaupun dirinya telah meninggal dunia. BRAAKK!! Marcel, tidak sengaja menabrak pundak Robert. "Ma-maaf, Pak! Saya tidak sengaja." "Hmm,," balas Robert dengan singkat. Di dalam kantor pengiriman yang sama, Marcel komplain bahwa barang pesanannya tak kunjung datang. "Apa barangnya sudah di kirim oleh si pengirim?" tanya salah seorang pegawai. "Tentu saja, sudah." "Baiklah, biar kami cek terlebih dahulu." *Detik demi detik pun berlalu. "Maaf, Tuan. Sepertinya paketnya mengalami kendala dalam perjalanan. Akan segera kami tangani secepatnya." Marcel yang kesal, menggebrak meja dengan kencang. Membuat ia menjadi pusat perhatian. *** Ketika jam istirahat, Leon tak punya niat untuk keluar ruangan sedikitpun. Dirinya kembali mengingat saat ia bertemu dengan Vivi. Kecurigaan belum bisa hilang dari benaknya. Mengapa Vivi yang ia lihat, tak seperti apa yang Grace ceritakan. Itulah pertanyaan yang terus memutar di pikiran Leon. "Grace seperti menyembunyikan sesuatu dariku. Dia bilang bahwa Vivi adalah tetangganya dahulu. Tapi, kenapa dia bisa sangat mengenali Vivi? Seakan-akan dirinya lebih dari sekedar tetangga." Di saat yang sama, seorang karyawan lain mengetuk pintu ruangan Leon. "Nona Grace memanggil anda." Katanya, sangat sopan. "Ada apa, Grace?" tanya Leon yang sudah tiba di ruangan Grace. Grace mendekat, "Bisakah hari ini kita pulang bersama?" Leon diam, pasrah. "Dengar-dengar kamu sedang butuh asisten pribadi, ya?" Tanya Leon sambil fokus menyetir mobil milik Grace. "Benar! Aku sudah meminta beberapa pelayan di rumahku untuk memasang kertas pengumuman lowongan pekerjaan di beberapa tempat, termasuk di situs online juga." *** Tak sengaja, Vivi melihat ada sebuah lembaran kertas yang paling mencolok di sebuah papan pengumuman pinggir jalan. Siapapun bisa mengisi berbagai informasi atau iklan di papan tersebut untuk berbagai macam keperluan. "Lowongan menjadi asisten pribadi?" Rain ikut melihat, mengatakan bahwa kelihatannya pekerjaan itu sangat cocok untuk Vivi. "Sepertinya persyaratan yang di butuhkan pun juga tidak sulit." Lanjut Rain, menatap Vivi yang pandangannya masih terpaku pada papan. "Kamu benar! Lagi pula, aku juga sedang membutuhkan pekerjaan." Pagi hari membawa sinarnya menembus kaca jendela rumah Rain. Vivien terlihat sudah sangat rapi dengan kemeja formal dan rok di atas lutut yang ia pinjam dari teman barunya tersebut. "Semangat! Semoga di terima." Vivi tersenyum menunduk. Beruntung bisa bertemu kawan sebaik Rain. Dengan bermodalkan alamat yang tertera pada kertas lowongan tersebut, Vivi tiba di depan rumah mewah. Melihat pemandangan tersebut, Vivi biasa saja. Seperti sudah biasa dengan kemewahan yang ada di depan mata. Tanpa berlama-lama lagi, Vivien menyapa satpam yang sedang berjaga. Tapi, satpam itu malah meminta Vivi untuk menunggu sejenak. "Baiklah," ujar Vivi dengan santai. "Permisi, Nona Grace. Di depan ada seseorang yang sedang mencari anda. Katanya ingin mencoba melamar pekerjaan yang sedang anda butuhkan." "Baiklah, suruh dia masuk!" Perintah Grace yang sedang sibuk mewarnai kuku dengan kutek berwarna merah terang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN