Vivi berjalan perlahan, menyusuri luasnya halaman kemudian masuk ke dalam ruang tamu.
Grace yang tengah merebahkan diri di sofa dengan dua orang pelayan yang sedang memakaikannya kutek, begitu terkejut saat melihat siapa yang menginjakkan kaki di rumahnya.
"VIVIEN??" Teriak Grace, membuat Vivi dan kedua pelayan terkejut.
Baru menyadari bahwa itu adalah Grace, langkah kaki Vivi berhenti dalam sekejap.
"G-Grace, kamu..."
Melihat penampilan Vivi yang sangat totalitas untuk melamar kerja, Grace tertawa terbahak-bahak.
"Ya ampun, Vivi. Ternyata kamu lagi mencari pekerjaan? Aku kira, selama ini hidup kamu semakin enak. Eh ternyata, MALAH SEMAKIN SENGSARA!" Cetus Grace meninggikan nada bicara di akhir kalimat.
Sebagai wanita yang di kenal cengeng, Vivi mencoba menahan air mata agar tidak jatuh. Ia berusaha agar dirinya bisa terlihat lebih tegar di depan Grace.
"Jangan nangis mulu deh kamu! Bisanya dikit-dikit nangis. Dari dulu kamu memang enggak pernah berubah. Selalu jadi cewek lemah. Pantesan aja enggak ada cowok yang mau sama kamu!"
Lagi-lagi, Vivi masih mencoba menahan emosi. Tangan mengepal, mata terpejam.
"Oke, tolong katakan saja langsung! Kamu berniat untuk menerima aku, atau tidak? Jika tidak, aku akan pergi sekarang juga." Tutur Vivi dengan nada pelan.
"Hmm,,, bagaimana ya? Sebenarnya aku sih mau-mau aja menerima kamu untuk jadi asistenku. Tapi, kamu kan penjahat. Itu sama saja aku memasukkan macan ke dalam rumahku sendiri. Apalagi, kamu juga punya pengalaman mencuri. Bahkan enggak cuma itu saja, kamu juga pernah melakukan kejahatan yang jauh lebih kejam di masa lalu."
Vivi kembali terdiam. Ingin sekali membalas perkataan Grace, tapi sadar bahwa sekarang ia tidak punya apa-apa. Kalau pun Vivi melawan, itu hanya mendatangkan resiko besar untuknya.
Lagi pula, Vivien juga sangat butuh pekerjaan. Dan dengan di terimanya dia sebagai asisten Grace, itu akan memudahkan Vivi untuk mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Mungkin dia bisa lebih mudah untuk menjawab rasa penasaran yang selama ini menyelimuti pikirannya. Mulai dari penyebab Leon berubah, dan sejak kapan Leon menjadikan Grace sebagai tunangan.
"Barang murahan saja kamu ambil. Itu berarti tidak menutup kemungkinan bahwa kamu juga akan mengambil tunanganku, kan?"
Vivi masih sabar, tapi mulai memberanikan diri untuk angkat bicara.
"Bukannya waktu itu kamu sendiri yang mengatakan kalau aku baru bertemu dengan Leon hanya satu atau dua kali saja? Dan kamu juga bilang bahwa tidak akan ada pria yang mau padaku. Lalu, mengapa sekarang kamu begitu takut jika Leon akan di rebut olehku? Memangnya sehebat apa aku sampai bisa mendapatkan hatinya."
Vivi terus memancing Grace agar tetap menerima dirinya. Gaji yang lumayan, dan kesempatan besar untuk bisa lebih sering bertemu Leon pun sudah ada di depan mata. Tinggal bagaimana Vivi berusaha supaya Grace mau menjadikan dia sebagai asisten pribadi.
Kini, Grace malah terpaku bisu. Dia berpikir bahwa apa yang Vivi katakan memanglah masuk akal. Ia merasa kalau Vivi tidak akan bisa menyaingi dirinya sampai kapanpun. Termasuk dalam memperebutkan Leon.
"Oke, aku bakal menerima kamu. Tapi bukan berarti aku mau kamu yang jadi asistenku di banding orang lain. Aku hanya kasian melihat kehidupanmu yang sekarang, miris banget. Hidup lontang-lantung di jalanan, bahkan mungkin buat makan aja susah. Ya, kan?"
Vivi buang muka, sudah muak menatap wajah Grace yang semakin lama membuatnya semakin sakit hati.
***
Untuk hari pertama, Vivi datang terlambat. Grace memarahi Vivi tanpa rasa simpati sedikitpun.
Di jalan, tak sengaja ia melihat seorang pria yang tengah di pukuli oleh orang tak di kenal. Spontan, Grace pun meminta sopir untuk menghentikan lajuan mobil.
"Leon!" Teriak Grace, berlari ke arahnya.
Vivi mengikuti Grace dan membantu memisahkan Leon dari segerombolan orang tersebut. Ternyata itu adalah para preman yang sempat berkelahi dengan Leon di pasar waktu itu. Ya, ketika Leon menyelamatkan ponsel Vivi.
Tapi, kali ini mereka membawa sang ketua, yaitu Jhonnie. Mendengar keluhan dari anak buahnya, Jhonnie tak terima jika mereka diremehkan oleh Leon.
"Anda sama sekali tidak pantas untuk melawan saya." Kata Jhonnie, masih terus memukuli wajah Leon yang bahkan luka beberapa hari lalu saja belum sembuh.
Mendengar itu, Leon malah tersenyum tajam.
"Kenapa memangnya? Hah! Apa karena anda pikir saya lemah?"
"Oh, jelas. Lihat saja sekarang! Anda sudah tidak berdaya seperti ini."
Vivi dan Grace di tahan oleh anak buah Johnnie agar tidak ikut campur dengan mereka. Seperti biasanya, Vivi hanya bisa menangis melihat orang yang ia cintai di hajar habis-habisan untuk yang ke sekian kali. Apalagi, dia sadar bahwa ini semua berawal dari Leon yang hanya ingin menolongnya.
"Hei, Jhonnie. Kalau anda bilang saya lemah, itu berarti anda lebih lemah dari saya. Anda itu cupu! Anda bisa jadi sejahat ini hanya karena kalah saing dengan kompetitor dalam berbisnis. Ceuh, memalukan!"
Leon yang memang memiliki kepribadian tak suka diremehkan oleh siapapun, terus membalas perkataan Jhonnie. Merasa emosi sudah berada di ujung tanduk, Jhonnie menatap Leon dengan mata memanas.
Dengan cepat, ketua preman itu mengeluarkan pisau lipat dari saku dan mengarahkan ke leher Leon. Namun, Leon masih terlihat santai, tak memperdulikan perbuatan Jhonnie sama sekali.
Justru malah Vivi yang semakin panik. Rasa bersalah terus menyelimuti diri. Tak tega dan takut Leon kenapa-kenapa, Vivi mengatakan bahwa dia rela memberikan apa saja yang Jhonnie inginkan. Dengan syarat, Jhonnie bersedia membebaskan Leon dan tak mengganggunya lagi.
Mendengar ucapan dari wanita cantik itu, Jhonnie terdiam sejenak, kemudian menjauhkan pisau andalan dari leher Leon.
"Baiklah, kalau begitu."
"Vi, kamu sudah enggak waras, ya? Untuk apa sih kamu sok-sokan berkorban demi Leon? Leon itu enggak butuh pengorbanan kamu." Bisik Grace sebal.
***
Di depan pintu rumah, Rain tak henti melihat jam tangan yang ia pakai di lengan kirinya. Begitu panik saat Vivi tak kunjung pulang. Padahal, ini sudah pukul 11 malam. Tak seperti biasanya Vivi seperti ini.
"Vivi selalu pulang pukul 6 sore. Tapi, kenapa jam segini dia belum ada kabar? Bahkan teleponnya pun juga enggak di angkat. Jangan-jangan..."
Baru saja Rain mencurigai seseorang, tiba-tiba Vivi datang dengan raut wajah yang terlihat sangat lesuh.
"Kamu dari mana aja, Vi? Kok baru pulang jam segini sih?"
Di dalam rumah, Vivi menceritakan semuanya.
"What!! Ketua preman itu meminta kamu memberikan uang 2 miliar hanya dalam 3 bulan saja? Tapi, itu jumlah yang tidak sedikit. Darimana kamu bisa mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan kamu sendiri baru saja mendapatkan pekerjaan?"
"Karena inilah aku memohon pada Grace agar memberikanku lemburan setiap hari. Awalnya dia menolak. Tapi setelah aku terus membujuknya, terpaksa dia menuruti permintaanku."
"Grace?"
"Ma-maksudku adalah boss baruku."