8. Happy Valentine

1067 Kata
Marcel datang ke rumah Rain, mengirimkan sebuah paket untuk Vivi. Ya, paket yang waktu itu ia cari di pusat pengiriman barang. "Dia sedang tidak ada di sini." "Kemana dia?" "Aku tidak tahu," jawab singkat Rain yang tak mau berlama-lama melihat Marcel. Begitupun juga dengan Marcel. Ia mulai sedikit kesal menghadapi Rain yang dirasa sangat menyebalkan sejak dulu. "Baiklah, tolong berikan ini saja padanya! Dan katakan agar dia segera pulang." Rain menerima paket itu dengan amat terpaksa dan penuh kecurigaan. Di dapur, Rain diam-diam membuka bungkus paket tersebut. Dirinya mulai keheranan saat tau isinya adalah kalung wanita dengan liontin berbentuk segitiga. Rain merasa ada yang aneh. Tidak mungkin Marcel jauh-jauh ke sana hanya untuk memberikan kalung saja. Apalagi, Rain lebih mengenal Marcel dibandingkan siapapun. Benar saja. Saat Rain mencari tau tentang kalung yang sedang ia pegang melalui internet, ia sadar bahwa perhiasan tersebut bukan sembarang kalung. Ternyata itu merupakan perhiasan yang di desain khusus oleh ahlinya dengan kamera live dan perekam suara yang melengkapi. "Dasar pria licik!" Kesal Rain yang kemudian membakar kalung itu tanpa ragu. Walaupun Rain tidak tau apa tujuan Marcel memberikan barang tersebut, tapi ia tetap tidak terima jika temannya sendiri yang sesama wanita diberikan perhiasan dengan kamera live seperti itu. Dimana apa yang Vivi lakukan akan dapat dilihat secara langsung oleh orang lain. *** "Happy valentine, Leon." Grace memberikan sebuah kotak transparan berisi coklat pada Leon saat ia sedang berkunjung ke apartemennya. Tanpa ragu sedikitpun, Grace juga memeluk Leon. Walaupun Leon terlihat sedikit risih dan berusaha menghindar. "Aku baru ingin memberikan ini juga untukmu. Tapi, kalau kamu tidak mau, ya sudah tidak usah." Kata Leon, raut wajahnya datar dan nada bicara pun juga terdengar sedikit terpaksa. Grace begitu senang saat tau pria yang dia incar memberikan hadiah valentine untuknya di hari spesial ini. "OMG, Leon." Ucap Grace menutup mulut dengan tangan. Leon mengalihkan pandangan, melihat Vivi yang hanya tertunduk bisu. "Eh, Vi! Kamu dengar enggak apa yang Leon katakan barusan? Leon bilang dia juga memberikanku hadiah coklat. Ya ampun, romantis banget ya calon tunanganku ini." Grace berbisik di telinga Vivi. Membuat Vivi tak tahan dan ingin menutup kupingnya saat itu juga. "Hadiah buat kamu mana? Enggak ada, ya? Hahaha, mana ada sih cowok yang mau ngasih kado valentine gini ke kamu. Kalau pun ada juga palingan hanya karena kasihan. Jangankan ngasih, mungkin enggak bakal ada juga cowok yang mau sama cewek sejenis kamu." Perkataan itu begitu menyakitkan hati Vivi. Vivi yang selama ini selalu di jadikan wanita paling spesial dalam hidup Leon, hanya pasrah saat pria yang ia cintai itu tak peduli lagi padanya. Vivi masih berpikir bahwa Leon sengaja melupakan dirinya karena rasa dendam yang tertanam saat Vivi melarikan diri dari Leon waktu itu. "Enggak usah banyak omong. Kamu mau atau enggak cokelatnya? Kalau mau, ya sudah cepat ambil!" Kata Leon jutek. Grace tak bisa menahan hati yang tengah berbunga-bunga. Dengan cepat, ia berlari ke dalam dan mencarinya. Kini, Vivi dan Leon hanya berduaan. Merasa kesempatan seperti ini tidak datang setiap saat, Vivi memberanikan diri untuk bertanya pada pria bertubuh tinggi yang ada di hadapannya. "Bagaimana bisa kamu melupakanku secepat ini?" Vivi to the poin. Gaya bicaranya pun begitu serius. Mata juga sudah mulai memerah, seperti biasanya. Leon terlihat kebingungan dengan pertanyaan Vivi. "Kamu bicara apa, sih? Melupakan bagaimana? Dasar wanita aneh!" Jawab Leon, buang muka. Dalam sekejap, Vivi di buat terkejut oleh keadaan. Sikap Leon terhadapnya telah berubah drastis. Dari dulu, Leon memang selalu terlihat tegas dan dingin di hadapan semua orang. Tapi, tidak di hadapan Vivi. Leon selalu memperlakukan Vivi dengan sangat baik. Terkadang, Leon juga bisa tertawa melepaskan rasa sakit yang ia rasakan, tapi hanya pada saat bersama Vivi saja. "Ma-maksud kamu..." Vivi tak bisa lagi menahan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi. "Vi, aku tau kalau aku memang menderita amnesia. Tapi, bukan berarti kamu bisa manfaatin aku, ya! Aku itu enggak bodoh, kok. Aku tau kamu hanya pura-pura kenal denganku dan bersikap seolah-olah kamu itu pernah mengenal diriku di masa lalu." Bagaikan panah yang menusuk tepat pada targetnya, hati Vivi sakit seketika. "Bohong! Kamu itu bohong kan, Leon? Kamu hanya..." Vivi menggenggam lengan kiri Leon dengan kedua tangan mungilnya. Leon terlihat mulai merasa tidak nyaman dan langsung melepaskan genggaman tersebut. "Dasar cewek enggak jelas! Benar kata Grace, mana ada cowok yang mau sama cewek kayak kamu." Tetesan air mata Vivi semakin deras. Rasa penyesalan datang bertubi-tubi. Berharap ini semua hanyalah mimpi. Leon bukan lagi pria yang Vivi kenal. Bahkan, Leon juga tak berkata tegas seperti ini pada Vivi, kecuali jika Vivi melakukan kesalahan besar. Sekarang, Vivi hanya bisa menggelengkan kepala sambil menangis menatapi wajah tampan Leon. "Kenapa, sih? Kamu masih enggak percaya? Asal kamu tau ya, aku begini karena kecelakaan mobil yang aku alami beberapa waktu lalu. Grace yang menolongku hingga bisa pulih seperti ini. Tapi, aku yakin kamu pasti juga sudah tau tentang hal ini, makanya kamu pura-pura mengenal diriku di masa lalu hanya untuk memanfaatkanku, ya kan?" "Ya ampun, Leon. Kamu so sweet banget sih. Kamu bahkan juga menyediakan bunga ini untukku? Astaga, terima kasih banyak, Baby!" Seketika, teriakan Grace dari dalam membuat Vivi menghapus kering air mata yang Leon bilang palsu. Meskipun dalam hati Leon sangat risih saat Grace menyebutnya dengan sebutan Baby, tapi Leon tetap diam saja seperti biasanya. *** "Rain, kamu tuh punya masalah apa sih sama aku?" "Masalah? Kamu pikir kita ada masalah? Ya, jelas banyak lah. Lagi pula, kamu tuh enggak ada niat untuk merubah diri atau bagaimana sih, Mar?" "Jangan ikut campur urusan aku sama Vivi! Kamu itu bukan siapa-siapa!" "Duh, Marcel, mantan ku yang paling jahat. Kamu lupa kalau sekarang aku sudah jadi temannya Vivi? Tentu ini juga urusanku." "Ya, tapi kan kamu enggak harus merusak kalung itu. Aku membelinya dengan uang tabunganku. Harganya pun juga tidak murah." "Memangnya kenapa kalau aku merusaknya? Hah! Biar kamu bisa bebas mengawasi Vivi kemana pun dia pergi secara live, kan? Gila kamu, Mar. Enggak menghargai privasi orang." Marcel sudah tak bisa menahan emosi lagi dan langsung memutuskan panggilan. Melempar ponsel miliknya ke atas ranjang, dan mengepal genggaman tangan dengan keras. "RAIN!!" Teriak Marcel kesal. *** Dengan kemeja putih bersih yang masih dipakai olehnya, Leon terlihat tengah sibuk mencuci mobil di sebuah steam. "Berapa mobil yang sudah kamu cuci hari ini?" "Baru dapat tiga, Pak!" Kemudian, pria yang umurnya jauh di atas Leon itu mengeluarkan dompet dan memberikan beberapa lembar uang pada Leon sebagai gaji harian. "Terima kasih banyak, Pak!" Jawab Leon tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN