9. Persyaratan

1050 Kata
Ternyata, selama ini Leon juga ikut mencari pekerjaan sampingan untuk membantu Vivien agar bisa mendapatkan uang yang Jhonnie minta. Walaupun enggak seberapa, tapi setidaknya dapat terkumpul seiring berjalannya waktu. Kalau kata pepatah, "Dikit-dikit lama-lama jadi bukit". Detik demi detik terus berjalan. Waktu mengikuti alur dengan sendirinya. Tak terasa, kini sudah 3 bulan berlalu. Tepat di bulan ini, Vivien harus melunasi hutang yang ia janjikan pada Jhonnie. "Sudah dapat berapa?" Tanya Leon sinis, memandang Vivi yang tengah menghitung uang tabungannya. "Baru 49 juta. Masih jauh dari yang di harapkan." Tanpa Vivi bayangkan, tiba-tiba Leon mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dari bagasi mobil. Dia melempar pelan tas itu dan langsung Vivi tangkap. "67 juta," ucap Leon singkat. Vivi bingung, apa maksud dari ucapan Leon. Saat itu juga, Leon berkata bahwa ia ingin membantu Vivi. "Jangan salah sangka dulu! Aku membantumu hanya karena aku masih punya hati nurani. Tidak mungkin aku tega membiarkan wanita cengeng sepertimu mencari uang sebanyak itu sendirian" Walaupun Vivi sedikit tersinggung, tapi ia tetap terharu saat tau Leon masih peduli padanya. Meski dalam keadaan status mereka yang terbatas. Leon menyisihkan uang bukan hanya dari penghasilan sampingan saja, melainkan juga dari gaji bulanan yang Robert kasih. Leon berpikir sejenak, bagaimana mereka bisa mendapatkan sisa uang yang belum terkumpul. Apalagi, sisanya juga masih sangat banyak dan tidak sebanding dengan waktu yang hanya tinggal 2 hari saja. "Leon, terima kasih banyak, ya!" "Hmmm," cuek Leon. "Sejak dulu, kamu adalah orang pertama yang selalu menolongku setiap kali aku butuh bantuan. Terima kasih atas setiap perjuangan yang kamu lakukan. Walaupun kamu tidak ingat, tapi aku akan selalu mengingatnya sendirian." Gumam batin Vivien. *** Di sebuah cafe langganan, Robert dan Leon sedang bicara empat mata tanpa ada siapapun di dekat mereka. "Paman, apa aku boleh minta bantuan?" "Katakanlah!" Leon menjelaskan bahwa 3 bulan yang lalu, Jhonnie benar-benar datang menyerangnya. Tapi, ada wanita yang meminta Jhonnie untuk melepaskan Leon dari permasalahan mereka. Leon sama sekali tak menyebutkan nama Vivi di hadapan Robert, karena takut Robert memberitahu keponakannya. Apalagi, Leon juga mencari uang tambahan untuk Vivi pun juga diam-diam tanpa sepengetahuan Grace. "Lalu?" Tanya Robert seraya menyeruput kopi hangat di cangkir mini. "Dia meminta wanita tersebut untuk memberikannya uang 2 miliar. Tapi, hingga saat ini uangnya baru terkumpul sedikit." Robert mulai mengerti maksud dari penjelasan Leon. "Jadi, kamu mau pinjam berapa?" Dengan rasa malu yang ia simpan dalam hati, Leon terpaksa mengucapkan jumlah dari sisa uang yang belum terkumpul. "Hmm,,, bagi saya sih sangat mudah untuk memberikanmu uang sebanyak itu. Tapi, saya yakin kamu tidak akan mau menerima gratisan dari saya. Benar, kan?" Leon mengangguk. "I-iya, Paman. Katakan saja apa yang harus saya lakukan sebagai gantinya!" Robert menaruh cangkir yang ia pegang ke atas meja, kemudian ia tertawa kecil. Hal ini membuat Leon semakin gugup, takut Robert meminta hal-hal yang tidak ia inginkan. "Karena saya tau kamu adalah pria baik-baik, saya ingin kamu menjalin hubungan dengan keponakan saya, Grace. Ya, minimal tunangan saja dulu!" Dalam sekejap, pikiran Leon dilanda kebimbangan. Meskipun begitu, ia tetap menunjukkan sikap santainya di hadapan Robert. Menjalin hubungan dengan orang yang tidak ia cintai sangatlah sulit. Jika salah satu pihak bahagia, belum tentu pihak lain juga merasakan kebahagiaan yang sama. Di dunia ini, semua adalah pilihan. Kita yang memainkan kehidupan kita sendiri. Oleh karena itu, kita jugalah yang paling mengetahui apa yang bisa membuat diri ini merasa senang. Bagi Leon, hubungan bukanlah hal yang dapat disepelekan. Bagaimana jika hubungan itu berlangsung lama atau bahkan selamanya? Tentu dia juga akan merasakan penderitaan dalam waktu yang lama pula. "Ta-tapi..." "Ya itu sih terserah kamu. Saya tidak ingin memaksa kehendak sama sekali." Leon kembali terdiam. Di satu sisi, dia tak pernah mencintai Grace sampai kapanpun. Bahkan Grace juga bukanlah tipenya. Walaupun Grace yang sudah menolong Leon, tapi bukan berarti Grace bisa memiliki Leon sepenuhnya. Di sisi lain, Leon tak ingin Vivi menderita dan menanggung semua permintaan Jhonnie sendirian. Bagaimana pun juga, Vivi melakukan hal itu hanya untuk menyelamatkan Leon agar Jhonnie tak pernah mengganggunya lagi. "Baiklah, aku siap menuruti permintaan paman. Asalkan, uang itu ada hari ini juga karena aku sangat membutuhkannya." "Bagus kalau kamu mau. Kemungkinan, acara pertunangan tersebut akan berlangsung secepat mungkin. Hmm,,, bisa jadi minggu ini juga". Lagi-lagi Leon hanya bisa pasrah. *** Bersama dengan Vivi, Leon pergi ke markas Jhonnie. Semua mata anak buah Jhonnie tertuju pada mereka berdua. Dengan santai dan tatapan sinisnya, Leon begitu percaya diri masuk ke dalam lubang neraka dunia tersebut. "Panggil Jhonnie sekarang juga!" Perintah Leon pada salah satu di antara mereka. "Ta-tapi, untuk apa kita ke sini, Leon? Uang kita kan belum terkumpul sepenuhnya. Lagi pula, waktu yang tersisa juga masih ada 2 hari lagi." Leon diam saja dan tak memperdulikan perkataan Vivi. "Wah, wah, wah... Leon Arendra!" Jhonnie datang seraya bertepuk tangan melihat kehadiran pria berusia 24 tahun di hadapannya. Tanpa rasa takut sedikitpun, Leon melemparkan sebuah koper besar pada Jhonnie. Dengan cepat, Jhonnie membuka dan melihat apa yang ada di dalam koper tersebut. Begitu terkejut Vivien melihat ada banyak sekali uang di dalamnya. "Le-Leon, kamu dapat uang sebanyak ini dari mana?" Bisik Vivi tak percaya. "Syutt!! Sudah jangan banyak bicara!" Balas Leon bernada tegas. "Bagus, Leon. Itu berarti permasalahan kita clear." Tutur Jhonnie setelah melihat surga dunia di depan mata. Saat itu juga, Jhonnie memerintahkan pada seluruh anak buahnya agar tidak menggangu mereka berdua lagi. "Setidaknya satu masalah telah selesai. Walaupun aku tau akan tiba masalah yang lainnya." Seru Leon pada diri sendiri dengan nada bicara yang amat kecil. Pada hari Rabu, tepatnya pukul 12 siang, Grace meminta Vivi untuk membeli beberapa cemilan di supermarket. Ia memberikan Vivi uang, dan Vivi pun segera berangkat. Saat sedang memilih-milih beberapa snack yang Grace catat di selembar kertas, tiba-tiba Leon menyapa Vivi dari belakang. Seperti biasanya, sapaan Leon selalu singkat dan jutek. Vivi kaget melihat ada Leon di dekatnya. Setelah selesai berbelanja, Leon mengajak wanita itu untuk pulang bersama. Merasa tidak ingin banyak menghabiskan waktu bersama Leon lagi, Vivi menolak. "Baiklah, kalau begitu, pulang saja sendiri!" Cetus Leon dengan sangat jutek. Tak di sangka, ternyata kondisi di luar sedang hujan. Dengan cepat, Vivi mencegah mobil Leon. "Le-Leon, aku..." "Sudah cepat masuk! Aku tau maksudmu." *Di perjalanan pulang. "Leon!" Leon menoleh santai, memenuhi panggilan Vivi. "Kalau aku boleh tau, apa benar Grace itu calon tunanganmu?" Seketika, Leon yang kaget pun mendadak menghentikan lajuan mobil. "Dari mana kamu tau?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN