10. Terungkapnya Kebenaran

1145 Kata
Hari ini, adalah hari yang Grace nantikan sepanjang hidupnya. Hari dimana ia akan bertunangan bersama pria yang selama ini dia idamkan. Grace berpikir bahwa Leon sendiri lah yang memang ingin menjalin hubungan serius dengan dirinya. Padahal, Leon hanya terpaksa karena permintaan Robert. Semua orang terlihat sudah sangat rapi. Beberapa perwakilan keluarga dari pihak Grace pun juga sudah tiba di gedung besar dengan dekorasi yang terbilang cukup mewah. "Selamat ya, Sayang!" Tutur sang bibi. Grace begitu senang mendapat banyak ucapan dari semua orang. Ia berjalan kesana-kemari menyapa para tamu dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan. Sementara Leon, hanya duduk terpaku diam melihat kelakuan Grace yang membuatnya semakin menyesal karena telah menerima persyaratan Robert. *** "Vi, apa kamu sudah siap?" Teriak Rain yang akan menemani Vivi ke acara pertunangan tersebut. Vivi tak menyahut sama sekali, membuat Rain penasaran. Dengan perlahan, Rain membuka pintu kamar yang Vivi tempatkan. Vivi terlihat tengah duduk di depan meja rias sambil menangis tersedu-sedu. Mencoba agar air mata berhenti mengalir, namun sulit baginya. Tanpa membutuhkan waktu lama, Rain langsung berlari ke arah Vivien dan memeluk kawan terbaiknya itu. "Kamu kenapa, Vi? Apa yang terjadi?" Rain kelihatan begitu panik. Dia memegang pundak Vivi dan menengadahkan wajahnya. Vivi yang pada saat itu sudah tak bisa menahan rasa sakit sendirian dan juga mulai mempercayai Rain, terpaksa menceritakan semuanya. "Ja-jadi, Leon yang kamu bilang akan bertunangan dengan Grace hari ini adalah mantan kekasihmu? Dan Marcel yang telah mengajakmu melarikan diri darinya?" Gugup Rain seketika saat tau yang sebenarnya. Vivi mengangguk bisu, kemudian Rain langsung memeluk erat Vivi. *** "Mau kemana kalian?" Baru saja mereka keluar rumah dan hendak pergi, tiba-tiba Marcel datang dengan rasa percaya dirinya yang begitu besar. Rain diam saja, tidak ingin memberitahu. Tapi, Vivi yang masih percaya bahwa Marcel adalah pria baik-baik pun mengatakan bahwa Leon akan bertunangan hari ini. "APA? LEON?" Dalam sekejap, mata Marcel terbuka lebar dan memanas saat nama Leon berlalu di telinga. Masih dengan rasa percaya yang begitu dalam, lagi-lagi Vivi malah menceritakan semuanya. Mulai dari pertemuannya dengan Leon di restoran, hingga Leon yang mengatakan bahwa ia telah hilang ingatan. Padahal, Rain sudah memberi kode pada Vivi agar berhenti bicara. Rain lebih mengenal Marcel daripada Vivi. Terutama selama beberapa tahun menjalin hubungan serius dengan pria yang usianya sebaya dengan Leon. Mendengar apa yang Vivi ceritakan, Marcel hampir tak bisa menahan diri. Dia terlihat ingin sekali tertawa saat tau bahwa Leon mengalami kecelakaan bahkan sampai hilang ingatan. "Itulah yang di katakan karma berlaku bagi siapapun. Leon telah menculik dan menyakitimu. Maka dari itu dia mendapatkan hukuman yang setimpal." Tutur Marcel dengan santai, tak memikirkan perasaan Vivi sama sekali. Seperti yang sudah Rain curigai, ternyata Marcel meminta agar mereka mengajak dirinya untuk ikut ke acara pertunangan tersebut. "Bagaimana pun juga, aku kan teman lamanya, Vi. Kamu tau betul bahwa hubungan pertemanan aku dan dia sangatlah dekat. Ya, walaupun itu sudah berlalu dan tidak akan bisa terulang lagi. Tapi, masa iya sih kamu membiarkan aku untuk tidak hadir di acara sepenting ini." Lagi-lagi Marcel mencoba mempengaruhi Vivi. Dan sayangnya, untuk yang kesekian kali Vivi malah menuruti permintaan Marcel. Rain hanya bisa pasrah dan memendam rasa kesal dalam lubuk hati paling dalam. "Dasar pria menyebalkan!" *** Acara pun di mulai. Awalnya, Vivi masih kuat melihat semua itu di depan matanya sendiri. Tapi, saat sesi tukar cincin untuk kedua pihak, Vivi merasa dirinya seperti tertimpa batu besar yang membuatnya sesak. Sesekali, Rain menepuk-nepuk pelan punggung Vivi dan mencoba untuk memenangkan hati sang sahabat. "Ini semua rencana takdir. Tuhan tau mana yang terbaik untukmu." Bisik Rain dengan nada yang amat sangat lembut. Dari kejauhan, Robert melihat sosok yang sangat mirip dengan putrinya. Merasa penasaran, ia pun mendekat. Begitu terkejut saat tau bahwa itu adalah Vivien. Seketika, emosi Robert meluap. Ia membanting kencang gelas beling yang ada di tangannya. Semua para tamu menoleh dan menjadikan mereka pusat perhatian. Merasa panik, Rain menggenggam tangan Vivi dengan erat. Marcel hanya diam saja menatapi wajah Robert yang mulai memerah. "Kamu!!" Cetus Robert mengarahkan jari telunjuk ke arah Vivi. Melihat keributan, Alice pun berlari kecil ke arah Robert. Ia mencoba menenangkan sang suami agar bisa menahan emosi saat itu juga. *Di dalam ruang rias. "Berani-beraninya kamu datang ke sini!" "Daddy!" Ucap Vivi menahan tangis. "Apa ini ayah kamu?" Bisik Marcel. "Bukankah itu paman yang menanyakan tentang kantor pengiriman barang beberapa waktu lalu?" Lanjut Rain. Tapi, pertanyaan mereka diacuhkan oleh Vivi karena masih terfokus pada Robert yang terlihat begitu marah menatap sang buah hati sendiri. "Dasar kamu anak yang tidak tau malu. Berani-beraninya kamu datang ke sini." "Dad, sebenarnya akhir-akhir ini aku berkerja sebagai asisten pribadinya..." "Saya tidak peduli kamu bekerja dimana, berada di posisi apa, saya tidak peduli sama sekali. Sekarang katakan saja langsung, siapa yang mengundangmu ke sini? Hah!!" "SAYA!" Teriak Leon dari arah pintu. "Leon?" "Iya, Paman. Saya yang telah mengundang Vivien untuk hadir ke sini. Vivi adalah teman saya. Dia juga asisten pribadinya Grace. Jadi, kenapa Vivi tidak boleh datang ke acara kami?" Seketika, Robert menatap Grace tajam. Dilanda ketakutan, Grace tertunduk diam. Ia tak berani menatap mata Robert saat sedang marah. "Grace, untuk apa kamu menerima orang seperti dia?" Grace tak berani menjawab. Apalagi, dia menerima Vivi hanya agar bisa membuat Vivi lebih sengsara. Dengan menjadikan Vivi sebagai asisten pribadi, maka Grace akan lebih mudah untuk mempermainkan sepupunya sendiri. "Kalian benar-benar keterlaluan!" Memberanikan diri, Leon mendekat ke arah Robert dan Alice. Ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa Robert terlihat sangat membenci Vivi. "Asal kamu tau, ya! Dia ini adalah wanita kejam. Dia manusia yang tidak seharusnya lahir ke dunia ini. Karena apa? Karena dia telah tega membunuh kakak kandungnya sendiri, Risca, saat dia dalam keadaan mabuk. Saya begitu miris melihat pergaulannya sejak dulu." "Ta-tapi, Dad, aku sudah menyesali perbuatanku itu. Bahkan aku juga tidak sadar melakukannya karena di bawah pengaruh alkohol." Dengan tangisan kecil, Vivi berusaha keras agar Robert dapat mengerti keadaannya saat ini. "Dan sekarang, aku juga telah berubah. Aku bukan Vivien yang dulu lagi, Dad!" Robert malah tersenyum menertawakan perkataan Vivi. "Berubah? Menyesal? Semudah itukah kamu berbicara seperti ini?" "Maafkan aku, Dad! Aku benar-benar..." "Baiklah, saya akan memaafkan kamu jika kamu bisa mengembalikan nyawa kakakmu hari ini juga. Bawa dia ke sini dalam keadaan masih bernyawa." "Itu tidak mungkin, Daddy!" "Nah, jawabanku tentang memaafkanmu juga sama. TIDAK MUNGKIN!!" "T-tapi..." Vivi terus meneteskan air mata tanpa henti. Tubuh melemas, rasa malu menyelimuti diri. Bagaikan hidup tak ada artinya lagi. Semua terjadi dalam satu waktu. Melihat orang yang di cintai bertunangan dengan wanita lain, juga menerima cacian dari ayah sendiri yang bahkan tak mengakui dirinya lagi. Leon yang tadinya masih sedikit mempedulikan Vivi, langsung berubah pikiran dan merasa dia telah membela orang yang salah. "Ternyata ini alasan Grace begitu membencimu." Ucap Leon bernada kecil kemudian menjauhkan diri perlahan. "Lebih baik, kamu pergi sekarang juga!" Merasa kasihan pada sahabatnya sendiri, Rain angkat bicara. Ia memberanikan diri untuk membalas perkataan yang dapat membuat Robert terbungkam diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN