Aril menemui Rasya kini di Kafe ketika dia break untuk pemotretan. Aril menceritakan apa yang terjadi tadi. “Wah.. Aku merasa dikhianti sekarang. Dia ngadu ke kamu.” Kata Rasya kesal. Aril tersenyum. “Kan dia putraku. Wajar jika ngasih tau kalau ibunya sedang marah padanya.” Jawab Aril. Rasya tersenyum singkat. “Kalian cepat akrab ya ternyata.” Komen Rasya sembari meminum Kopinya. Rasya menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya. “Aku nggak marah sama Gabriel. Yah.. Dia cuma banyak tanya aja. Aku nggak suka sama pertanyaannya tadi. Dia mencarimu. Kurasa Gabriel sangat menyukaimu.” Kata Rasya. Aril tertawa kecil mendengarnya “Lalu kapan ibunya menyukaiku?” Tanya Aril. “Nggak akan pernah!” Jawab Rasya dengan bangkit dari duduknya. Ia berjalan pergi meninggalk

