Hari-hari terus berlalu dan setiap hari Fani merasa hampir gila menghadapi kelakuan dua laki-laki yang kini berdiri di hadapannya. Seperti biasa mereka saling bertatapan dengan tajam, tatapan yang menyiratkan persaingan sekaligus permusuhan yang hakiki. "Fani sama gue," seru Arsen, menatap tajam pada Eza berdiri tepat di depannya. "Hari ini Fani pasangannya sama gue," kelak Eza sembari menggeleng, menentang keras keputusan Arsen. "Gue cowoknya dan gue lebih berhak daripada lo," tegas Arsen. Jelas sekali jika dia sedang menahan emosi yang kini ingin meledak di sana. "Tch, baru juga jadi cowoknya, belum suami. Lo cowoknya, gue calon suaminya," sahut Eza, membuat Fani memutar bola mata dengan malas. Hal ini sering sekali terjadi dan tentu saja menyita perhatian seluruh murid yang kini ber

