Bimo merasa frustrasi pada hidupnya. Bayang-bayang masa lalu terus menerus menghantui pikirannya. Fani. Fania Azalia Putri. Dengan segenap jiwa dan raga Bimo membenci anak itu. Bahkan sejak masih dalam kandungan pria itu sudah sangat membencinya. Kenapa lagi jika bukan karena Fani bukanlah anaknya. Jika berpikir ulang, memang ini semua bukan salah Fani. Ia hanya seorang anak yang dilahirkan tanpa tau apa-apa. Hanya saja Bimo terlalu gelap mata. Melihat Fani seperti ia melihat masa lalunya yang kelam dan sangat menyakitkan. Mengusap wajah kasar, Bimo beringsut bangun dari ranjang. Ia segera mengenakan kaus dan celananya. Bimo melirik ke kasur dan mendengus kecil melihat perempuan bayaran yang ia pakai semalam. Bimo mengalihkan pandangan dan melihat pantulan dirinya sendiri di cermin mej

