Arsen menatap Bastian dan Rafael yang sedang adu mulut dengan jengah. Ia memainkan sedotannya untuk mengaduk minumannya tanpa berniat meminumnya sama sekali. Gavin sendiri sibuk dengan Iphone dan buku tebalnya. Arsen tidak tahu sejak kapan Gavin suka membaca terlebih Gavin sudah jenius. Tanpa belajar saja dia selalu peringkat satu paralel di sekolah. Arsen melirik jam tangannya. Hampir pukul tiga. Arsen menatap pintu cafe dengan harap-harap cemas. Hari ini Fani tidak masuk dan Arsen memutuskan untuk pergi ke cafe Gavin. Ia berpikir mungkin Fani memang membolos dan berada di cafe sore harinya untuk bekerja maka dari itu Arsen sengaja menunggunya di sana. Sudah berkali-kali Arsen menghubungi Fani namun ponsel gadis itu tidak aktif. Puluhan chat juga telah dikirim namun tidak ada tanda-tand

