Arsen menatap kosong ke arah depan. Sudah seminggu lamanya ia berada di sini, terkurung di dalam kamarnya sendiri. Lampu tidur, jam beker, kemeja, seprai, bulu-bulu kapuk putih dari bantal dan guling berserakan di mana-mana, menutupi lantai yang maha luas itu. Meja dan sofa juga tampak jungkir balik, juga kepingan bekas dari DVD player, indie home, set playstasion dan semua barang elektronik itu hancur akibat bantingan Arsen. "Aaaarrgghh!!" Arsen berteriak frustasi dan sesaat kemudian satu-satunya yang tersisa di kamar Arsen yaitu sebuah TV LCD plasma yang menempel di tembok ikut hancur. Arsen melemparnya dengan lampu tidur yang memang sudah rusak sejak awal. Laki-laki itu terus berteriak marah dan sesekali menendang pintu kamar, memaksa untuk mendobrak namun semua sia-sia. Pintu itu sam

