04. kamar 203

2350 Kata
Tiba Gibran di depan Hotel yang dimaksud bundanya, dalam benak Gibran sedikit merasa ada yang aneh dan ganjil. Inikan jaman modern, jika tidak ada uang cas maka bisa lewat uang elektronik, tapi entah kenapa bunda Gibran memilih sang putra untuk menjemputnya. Gibran menatap pintu Hotel dengan lalu lalang para pengunjung dengan pikiran bingung, kemana dia harus mencari sang bunda. Gibran memilih menghubungi bundanya dari pada bingung sendiri. Panggilan terhubung... "Halo Bun? Gibran di depan hotel!" ucap Gibran memberitahu keberadaan sambil menatap sekeliling mencari sang Bunda. "Kamu masuk aja Bran! Bunda tunggu di dalam!" jawab Bunda Gibran menyuruh Gibran masuk ke dalam. Gibran melepas sabuk pengamannya dan turun menuju ke dalam hotel, panggilan mereka masih terhubung. "Udah Bun!" sahut Gibran saat di dalam hotel. "Kamu cari ruangan nomor 203 Bunda tunggu di sana!" jawab Bunda Gibran, dan langsung menutup panggilan. Membuat Gibran merasa aneh dan sedikit jengkel pada sang bunda. Gibran berjalan menuju resepsionis menanyakan ruangan yang dimaksud bundanya. "Permisi? saya cari ruangan nomor 203 dimana?" tanya Gibran ramah dengan senyuman mengembang dan membuat lesung pipi miliknya terlihat di kedua sisi pipinya, menambah kesan manis dan tampan, sangat tidak cocok jika harus menyandang status lajang dengan wajah setampan itu. Resepsionis menoleh ramah, dan tersenyum sambil menyahuti pertanyaan Gibran. "Ada di lantai 3 sebelah kanan, apa perlu di antar?" jawab pekerja hotel itu ramah sambil menawarkan bantuan. "Tidak-tidak, saya bisa ke sana sendiri, terimakasih." sahut Gibran cepat, dan merasa tidak enak jika harus di antar hanya karena mencari keberadaan bundanya. Resepsionis itu mengangguk paham, dan kembali bekerja dengan senyumannya yang ramah, pelayanan di hotel ini benar-benar terlatih, Gibran puas melihatnya. "Kenapa nggak tunggu di depan hotel sih bunda, malah nyuruh ke ruangan segala, semakin lama semakin aneh! cepat cari solusi Bran sebelum orang tua mu menjodohkan mu dengan kucing tetangga!" gerutu Gibran sambil berjalan tolah-toleh ke sana kemari mencari ruangan 203. Gibran sampai di lantai tiga, dan berjalan cepat, tibalah dia di depan pintu ruangan 203, Gibran mengira itu ruang tunggu atau tempat formal, ternyata itu sebuah kamar VIP. Gibran menoleh ke arah papan nomor di atas pintu dengan perasaan bingung dan aneh, dia sempat mengira jika salah mencari, namun itu segera dia tepis sebelum sang bunda kembali marah padanya. Gibran mengumpulkan tekad dan percaya diri untuk membuka pintu. Pintu terbuka. Tidak ada tanda-tanda aktivitas di dalamnya, Gibran masuk beberapa langkah, tiba saat itu dia mendengar suara dari arah dapur kecil. Gibran membuka suara, memanggil sang bunda dengan percaya diri tinggi, sama sekali tidak menyadari jika akan ada masalah menghampirinya. "Bunda? Bun Gibran datang." ucap Gibran sedikit berteriak sambil minum jus di gelas atas meja dengan semangat. Tidak ada jawaban, Gibran ingin memanggil kembali, dan kenyataan besar datang. Sebuah pelukan erat dari belakang dengan tangan yang melingkar pada punggung kekar Gibran begitu posesif. Gibran terkejut dibuatnya dan menoleh seketika sambil melepaskan cengkraman itu. Pandangan mereka bertemu, Gibran merasa jengkel dan mundur cepat dari tubuh wanita berambut panjang itu. Wanita itu sudah pasti di cap tidak tahu malu dan pembuat masalah oleh Gibran. Membuat si wanita menatap penuh tanya. "Siapa Anda? dimana bunda saya?" tanya Gibran cepat. "Bunda?" sahut wanita itu bingung juga. "Iya! ini kamar Bunda saya? Anda salah masuk pastinya!" terang Gibran sedikit canggung. "Tante memang menyuruh kamu datang Bran, tapi bukan untuk dia tapi untuk aku!" jawab wanita itu sambil mendekat ke arah Gibran. Entah sejak kapan pintu itu sudah di kunci rapat, Gibran yakin jika wanita ini sangat bahaya, dia benar-benar membuat Gibran jijik dan kurang nyaman. "Mau apa kamu!" sergah Gibran sambil mundur, nyalinya benar-benar ciut jika dengan wanita seperti ini. Bahkan ujian tes di pendidikan pilot tidak se-menegangkan ini. "Kita di takdirkan bersama Gibran! bunda mu bahkan sudah setuju!" jawab wanita itu membuat Gibran sadar dengan perintah sang bunda. "Jadi aku disuruh bunda kesini hanya karena hal konyol ini! wahh ... luar biasa! aku bahkan tak berpikir sebelumnya." Wanita itu semakin ganas, membuat Gibran semakin ketakutan, dan tanpa basa basi Gibran berlari ke dalam kamar mandi dengan ucapannya yang gagap karena gugup. "Sa ... saya mau ke kamar mandi!" ucap Gibran cepat dan berlari sambil menutup pintu kamar mandi rapat-rapat. Di dalam kamar mandi, Gibran penuh kecemasan, apa lagi ketukan pintu dan panggilan dari wanita itu terus menerus bersuara. "Bran! kamu kenapa? apa tubuh mu sakit? kau tidak enak badan?" tanya wanita itu bertubi tubi sambil mengetuk pintu kamar mandi yang terkunci. Gibran tidak menjawab dan menggerutu kesal. "Memang bunda kelewat batas, apa dia tidak berpikir resiko untuk menjodohkan ku dengan wanita seperti dia!" gerutu Gibran sambil menatap pintu yang diketuk terus menerus. Dalam pikirannya tak berhenti mencari jalan keluar, dia berniat menghubungi Tessa, tapi akan percuma, sebab dia tahu jika sang bunda membuat rencana Tessa pasti terlibat apa lagi sang ayah begitu juga, mereka semua sama saja, terlalu memaksa dirinya untuk segera menikah, dan alhasil seperti ini. Gibran tak tahu harus apa, matanya menatap sekeliling kamar mandi dengan kegugupan, sebuah ide muncul dalam pikirannya sekilas. "Dokter Rena!" ucap Gibran tak sengaja berteriak, dan langsung membungkam mulutnya sendiri takut si wanita menyeramkan itu mendengarnya. "Ah ... tidak-tidak! ini tidak pantas, masa iya aku minta bantuan padanya yang hanya dokter khusus Deon." ucap Gibran sambil berpikir, dan hampir mengurungkan niatnya untuk meminta bantuan Rena. "Tapi jika bukan dia siapa lagi? aku kehabisan cara! Ayo Bran, kamu pasti bisa! malu sedikit tak apa!" lanjut Gibran sambil menatap kartu nama Rena yang diberikan saat di rumah sakit tadi siang. "Huh ... pasti bisa! sekali saja Bran! tahan sedikit malu mu!" ucap Gibran menarik nafas dalam dan jarinya bergerak mengetik nomor panggilan Rena bermaksud menghubunginya. Dengan kegugupan bukan main, Gibran berhasil menghubungi Ren. Seketika jantungnya berdetak kencang tiga kali lipat, entah kenapa kegugupan kali ini tak seperti biasanya. Panggilan terhubung... Jantung Gibran semakin tak karuan, dia harus rela malu demi keluar dari masalah besar ini. Karena mau bagaimanapun ini adalah solusi terbaik dan aman satu satunya. "Halo?" ucap Rena ramah, dan penuh kegembiraan. Entah apakah gerangan yang membuat dia seperti itu. Gibran mendengarnya masih diam, tak tahu harus bicara apa. Dia benar-benar malu, sangat malu ini pertama kalinya dia meminta bantuan wanita asing di saat seperti ini. Memang keluarga Gibran tanpa sadar membuat sang putra dalam masalah besar. "Halo?" ulang Rena kembali bertanya. Masih diam, dan akhirnya Gibran teriak spontan pada Rena saat wanita itu berusaha membuka pintu kamar mandi. "Dokter tolong saya! ini saya Gibran!" ucap Gibran cepat dan berhasil meminta bantuan pada Rena. Tidak ada jawaban, apa Rena memutuskan panggilan, Gibran beralih pandang ke layar ponselnya, panggilan ternyata masih tersambung. Rena membuka bicara, "Ada apa Pak?" tanya Rena terdengar sedikit tanpa ekspresi dari nada bicaranya. "Tolong saya! saya terjebak di Hotel dengan malapetaka besar!" lanjut Gibran semakin gugup, dia sungguh malu meminta bantuan pada wanita, pria macam apa dirinya itu. Sampai-sampai menyebut wanita di luar kamar mandi itu dengan malapetaka. Batinnya terus mengutuk dirinya sendiri karena malu yang tidak main-main, sungguh ini akan diingat Gibran seumur hidup sebagai hal yang paling memalukan seumur hidup. "Hotel? ada apa dengan Hotel?" tanya Rena merasa bingung, kenapa Gibran harus terjebak di sana. "Sudah ceritanya panjang, tolong saya nanti saya ceritakan, saya dalam darurat!" jawab Gibran membuat Rena semakin merasa aneh. "Baiklah, saya ke sana sekarang, share lokasinya pak!" jawab Rena membuat perasaan Gibran sedikit tenang, akhirnya ada yang mau menolongnya dari wanita sialan ini. Jauh di sana, Rena keluar rumah menuju hotel lokasi Gibran dalam masalah setelah berpamitan dengan sang ibu, dan mengendarai mobilnya menuju hotel secepatnya, entah mengapa dia merasa jika wali dari pasiennya kali ini benar benar membutuhkan bantuannya. Tak lupa dalam perjalanan Rena menggerutu sebal karena kejadian ini, di balik itu dia juga merasa simpati dan khawatir karena Gibran meminta bantuannya seperti ini, jika tidak mendesak Gibran pasti tidak mungkin meminta bantuannya. **** Setelah panggilan telepon dari Gibran, Rena segera meluncur ke lokasi hotel dimana Gibran berteriak meminta pertolongan, entah apa yang terjadi Rena begitu merasa jika Gibran benar-benar membutuhkan bantuannya, jalanan kota di malam hari masih tampak dipadati pengemudi. Rena POV Setelah beberapa waktu di perjalanan aku tiba di depan hotel tempat Gibran yang meminta pertolongan, aku menatap sekeliling dengan perasaan malas, kenapa (?) karena di setiap sisi aku harus melihat pasangan yang bergandengan tangan yang otomatis membuat diriku iri tanpa sebab. 'Hahaha ... mungkin ini karena diriku terlalu lama sendiri!' batinku sambil tersenyum kecil menggelengkan kepala dan segera masuk, sambil menatap ponselku yang menampilkan informasi ruangan tempat Gibran. Kepadatan pengunjung begitu terasa di dalam hotel ternama ini, aktivitas mereka terus berlanjut, hingga membuat Rena berpikir apa mereka tidak merasa lelah. Mungkin itulah yang dimaksud kesibukan masing-masing, tatapan dan pandangan orang lain sangat kontras dengan yang kita alami di sepanjang hari, selama 24 jam tak berhenti, maka usaha dan perjuangan kita tak akan pernah usai, hingga kita tiba di titik terakhir dan terjauh yang kita tembus. Aku memasuki lift menuju lantai tiga, dengan perasaan penasaran yang menggebu-gebu, perasaan kebingungan dengan apa yang membuat sosok wali pasienku harus meminta tolong dimalam hari. Tibalah diriku di depan pintu kamar nomor 203, pikiran ku di buat bingung. Aku mengira Gibran mendapat masalah dengan bisnis dan itu berada di ruang formal, dan ternyata dia terjebak di kamar VIP yang pasti ini pribadi. Niatku yang semula ingin segera menolong tiba-tiba ragu di depan pintu, saat aku menatap suasana canggung, ponselku bergetar menampilkan panggilan masuk dari Gibran. Panggilan terhubung... "Tolong segera datang, saya sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi!" ucap Gibran gugup, terdengar seperti gedoran pintu yang keras dan menuntut. "Saya ada di depan pintu Pak!" jawabku sedikit masih ragu. "Kalau begitu segeralah masuk, dan selamatkan saya! kamu masuk seolah kita sudah dekat begitu lama, jangan bicara formal!" lanjut Gibran dan panggilan terputus saat terdengar sesuatu yang keras menghantam benda lainnya. Aku mendengarnya semakin terkejut, dan segera membuka pintu sambil masuk kedalam dengan penuh percaya diri. Pintu terbuka, yang sebelumnya Gibran meminta ku untuk mengambil kunci cadangan pada resepsionis, dan aku sadar jika itu di butuhkan. Mataku melolong, suasana di dalam begitu aneh, seluruh sudut kamar VIP itu dihias indah dan meja makan malam untuk pasangan tersandar rapi di sana. Mataku menangkap sosok wanita feminim dengan rambut tergerai panjang tengah berusaha di depan pintu kamar mandi. Saat itulah aku paham kenapa Gibran tergesa-gesa meminta bantuan ku, ternyata karena malapetaka si wanita ini, dalam benakku sedikit ragu untuk ikut campur, namun bagaimana lagi ini darurat. Wanita itu menatapku kaget, dan berkata, "Siapa?" tanyanya penasaran dengan nada sedikit kesal. "Pak Gibran nya ada di dalam?" tanyaku begitu formal, dan sadar dengan apa pesan Gibran tadi untuk tidak bicara formal. "Pak?" tanya wanita itu bingung, aku mendengarnya langsung meruntuki kesalahan yang aku buat tanpa sadar. "Ah, maksud saya Gibran nya ada?" tanyaku begitu terdengar canggung, ini pertama kalinya aku memanggil yang lebih tua dengan nama saja, tanpa embel-embel pak di depannya. "Siapa?" tanya wanita itu terulang lagi, aku yang merasa geram karena terus di interogasi di depan pintu merasa kesal, dan segera masuk melaksanakan rencana ku yang sempurna untuk menolong Gibran. Aku masuk dengan percaya diri, dan minum segelas jus di atas meja yang di hias dengan lilin, terlihat wanita itu menatap ku terkejut. Aku beralih dari gelas jus ke ranjang tempat tidur yang dihias bunga mawar bak pengantin baru, dalam hati aku begitu malu membayangkan pikiran si wanita itu. "Ah ... saya lelah, istirahat disini begitu nyaman!" ucapku sambil merebahkan tubuh dengan keras ke ranjang itu. Wanita itu melihat ku langsung teriak geram dan kesal, "Hey! tidak-tidak! menjauh dari sana!" teriaknya sambil menyeret lenganku yang sama sekali tak bergerak sekalipun dari sisi ranjang. Aku mendengarnya tak peduli dan semakin berbuat rusuh agar rencana si wanita itu bisa gagal. "Ah ... biarkan aku beristirahat sebentar disini." jawabku mengubah panggilan formal menjadi sedikit santai, karena aku merasa wanita seperti dia tidak pantas untuk di bahasa kan dengan ucapan formal. Saat wanita itu berusaha menyingkirkan tubuhku dari atas ranjang, pikiranku bergerak memikirkan dimana keberadaan Gibran. Mataku menatap sebuah ruang, yang jelas itu adalah kamar mandi, aku segera bangkit dan menuju kamar mandi, wanita itu terus membuntuti ku kemanapun, berusaha menghentikan rencana ku yang dibilang tidak masuk akal. Tepat di depan kamar mandi, aku membuka pintu sempurna, yang terlihat akan begitu memalukan. Gibran duduk di bawah wastafel dengan perasaan takut, merangkul tubuhnya dengan perasaan was-was, matanya membulat sempurna saat melihat ku di depan pintu kamar mandi, dan senyumnya merekah bahagia. Saat aku melihat itu, dapat di pastikan siapapun yang melihatnya akan merasa jika pria seperti Gibran ternyata sangat penakut jika dihadapkan dengan wanita agresif seperti dia, entah siapa namanya. Yang terpenting aku harus segera keluar dan terbebas dari masalah yang aneh ini. "Keluar!" ucapku menyuruhnya keluar dari kamar mandi. Gibran mengangguk paham dan keluar secepat mungkin, dan berdiri di belakang ku seperti seorang anak kecil yang meminta perlindungan. Aku melihatnya hanya menatap jengah kelakuannya. Wanita itu tak berhenti menghujat ku. "Dasar tidak tahu malu! masuk ke ruang pribadi tanpa izin, apa kau tidak merasa malu!" ucap wanita itu sambil menatapku sinis, aku yang ditatap begitu tidak merasa takut sama sekali, malah aku ganti menatap dirinya lebih sinis. "Anda tidak tahu malu berbuat seperti ini dengan seseorang yang tidak ada hubungan, bahkan pihak lain begitu terpaksa melakukan hal kotor dengan Anda!" jawabku sinis sambil berkacak pinggang, membuat Gibran melolong terkejut. Dalam benaknya pasti berpikir jika aku begitu garang dibanding wanita pada umumnya, namun biarlah ini semua juga demi masalah ini selesai, yang tanpa terduga aku ikut masuk dan terjebak di dalamnya. "Kau ini siapa? berani masuk begitu saja ha!!" teriaknya sinis dan aku tertawa sepele mendengarnya. "Aku adalah wanita yang tidak seperti dirimu yang menjual harga diri tanpa ada rasa malu setetes pun!" jawabku geram dan menarik Gibran keluar kamar itu cepat, meninggalkan wanita itu sendiri dengan kondisi kamar yang berantakan karena ulahku. Dipastikan si wanita ular itu merasakan perasaan geram, jengkel, dan penuh amarah karena rencananya gagal sebab ulah dokter anak seperti ku, hahaha begitu lucu, jika aku berprofesi sebagai penghancur rencana sepertinya sangat bagus, tidak terlalu buruk. Gibran menatap tangannya yang aku cekal kuat dan menariknya keluar kamar, dia menurut patuh dengan perasaan kaget dan terkejut, jantungnya berdetak kencang seperti maraton. Rena POV end
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN