05. awal sebuah rasa

2257 Kata
Masalah malapetaka dengan wanita yang diketahui Gibran adalah orang yang dijodohkan oleh sang bunda kepadanya. Berkat Rena dia berhasil keluar dari jebakan si wanita itu, menurut Gibran itu sangat tidak baik, apa urat malunya sudah putus hingga mau di jodohkan dengan cara seperti ini. Posisi Gibran begitu dilema, dia tidak tahu harus menyalakan siapa, di satu sisi wanita itu memang keterlaluan dan di sisi lain keluarga Gibran lah yang membuat rencana. Namun, ah apa daya seorang Gibran yang selalu menerima nasib dengan orang tuanya, pasti setelah ini akan ada pelajaran yang dipetik oleh Gibran. Gibran POV Tanganku ditarik keluar oleh dokter bernama Rena, lebih tepatnya sang penolong berwatak super, apa lagi mengingat dirinya yang marah sambil berkacak pinggang membuat aku sedikit terkejut. Aku sadar seberapa menakutkannya seorang wanita jika bertengkar dengan wanita lainnya, aku menatap tanganku yang dicekal kuat sambil keluar dari kamar VIP itu. Saat aku keluar bersama Rena aku mendengar jika si wanita itu menghubungi bundaku. "Halo Tante! rencana gagal!" ucapnya dengan kesal sambil mengadu pada bunda ku. "Kok bisa?" jawab bundaku penasaran dan terkejut sambil bertanya. "Iya! ada temannya datang bawa pergi Gibran, semuanya sudah berantakan!" balas si wanita itu. "Sabar Devi, Tante akan bicara dengan Gibran!" Tutttt .... Panggilan itu terputus, sepertinya bundaku sengaja pergi agar tidak meladeni ocehan wania yang diketahui bernama Devi itu. Aku menatap sinis dan beralih pandang pada Dokter Rena yang masih fokus memegang tanganku keluar hotel. Sampai di depan hotel, dia berhenti dan menatapku garang, seolah aku membuat kesalahan, tapi memang iya, tanpa sadar jika ini akan melibatkan dirinya begitu saja. "Huh ... apa ini Pak?" ucapnya kesal sambil mengibaskan tanganku cepat karena marah. Aku masih bingung ingin menjawab apa karena terkejut dengan perilaku dokter ini. "Saya kira Bapak terjebak masalah dengan kolega bisnis atau semacamnya, ternyata ini berurusan dengan wanita! sungguh aneh, jika Bapak tidak berniat untuk melakukan hal seperti ini kenapa Bapak mau bertemu dengannya di dalam ruangan private seperti itu!" ocehannya begitu tak menyangka keadaan, wajarlah karena dia tidak tahu seluk beluk tentang akar masalah ini. Seketika aku terkejut dan merasa bersalah. "Saya tidak berniat melakukan apa pun. Saya terjebak!" balasku mengelak karena memang itu tidak benar seperti yang dia pikirkan. "Sudahlah lupakan, lagi pula saya sudah terlanjur malu." balasannya sambil menyembunyikan wajahnya, kenapa (?) apa yang membuatnya malu (?) apa ada yang salah. "Kenapa?" tanyaku begitu saja dengan polos, seharusnya aku tak bertanya seperti itu, namun mau bagaimana lagi sudah terlanjur. Rena menatapku geram, menunjukkan jika dia kesal dengan pertanyaan ku. "Kenapa? apa Bapak tidak berpikir jika seandainya Bapak adalah wanita dan masuk begitu saja ke dalam privasi seseorang, saya menahan malu sejak tadi, apa lagi melihatmu yang meringkuk di kamar mandi!" jawabnya begitu geram dan penuh penegasan, tapi dikalimat terakhirnya dia mengecilkan nada bicaranya. Dapat disimpulkan jika Dokter Rena memiliki watak yang blak-blakan, dia tidak peduli jika lawan bicaranya merasa tersinggung dengan perkataannya, ini adalah bukti kedua setelah ucapannya di rumah sakit kemarin. "Pasti dia begitu merindukan belaian istri di usianya, sungguh kasihan nasibnya ini!" lirihnya begitu lirih sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Aku yang tak kalah malu menyadari tindakan ku, dan akan berakhir salah paham seperti ini, memilih diam tak berkutik dan membatin mengutuk keluarga ku. Aku tahu ini tidak baik, namun apa dayaku jika bukan karena mereka yang merencanakan ini semua pasti tidak akan berakhir seperti ini. Lagi-lagi aku merasa berhutang budi dengan dokter spesialis anak ini, sungguh kenapa aku tak berhutang uang saja dari pada harus berhutang budi, harus aku bayar dengan apa ini, batinku terus berpikir keras sebelum membuka bicara. "Ehm ... terimakasih atas bantuannya!" ucapku lirih sambil melirik ke arah wajah Rena yang berpaling. Dia mengetahui jika aku meliriknya segera melirik balik, dengan tatapan yang sulit diartikan. "Sama-sama!" jawabannya garang, sebelum di lanjutkan ucapannya. "Mau makan eskrim?" lanjutnya membuat ku terkejut, aku kira dia marah, tapi dia malah tersenyum merekah begitu riang. Dapat disimpulkan lagi jika sifatnya tidak mudah di tebak, bisa berubah dalam hitungan waktu singkat. "Ha? apa?" tanyaku kaget dan berusaha memastikan. "Makan eskrim?" tanyanya lagi mengulangi ajakannya, lagi-lagi aku merasa malu lagi dan lagi, kenapa malu seolah tak berhenti menghantui diriku ini, seharusnya aku yang mengajak dia makan eskrim untuk tanda maaf dan terimakasih, tapi dia malah mengajak ku. Sungguh benar kata Tessa, aku sangat tidak peka dan berdampak pada nasib jomblo ku yang mendiam lama di dalam tubuh, aku mengutuk diriku sendiri. "Boleh?" tanyanya lagi, aku kini paham tanpa aku sadari dia mengajak makan eskrim karena juga sebagai rasa maafnya setelah marah-marah kepadaku, aku sadar jika Dokter Rena memiliki watak yang sangat baik dan murah maaf. "Ayo, boleh." jawabku mengiyakan, tanpa ku sadari malam semakin larut. Saat itu juga ponselnya bergetar, menandakan panggilan masuk, diketahui nomor itu bertuliskan nama Laras. Rena menjawab panggilan itu, dan aku menatapnya penasaran. "Halo?" ucap Rena memulai bicara. "Kau dimana Ren! aku ke rumah bawa martabak manis tapi Tante di rumah sendirian!" oceh Laras yang entah ada hubungan apa dengan Dokter Rena. Saat itu juga Rena menatap jam tangannya, dan melolong terkejut. "Astaga! aku nggak sadar, aku pulang segera, bilang ke Ibu jangan khawatir dan minum obat cepat!" sahutnya membuatku terkejut, aku pastikan si ibunya mengidap penyakit, buktinya harus minum obat. Tuttt .... Panggilan tertutup, dan Rena menatapku penuh harap. "Maaf Pak, saya harus segera pulang, ibu saya di rumah sendiri! Oh ya, maaf tadi saya marah-marah tidak jelas seperti orang tidak ikhlas membantu, tapi serius saya tadi ikhlas kok! cuma kebawa suasana saja! Heheheh" ucapnya menjelaskan alasannya mengomel, sesuai dugaan ku jika dia murah maaf. "Oh, tidak apa. Saya justru sangat berterimakasih pada Dokter karena sudah menolong saya, dan saya akan memperjelas masalah ini saat kita bertemu lagi." jawabku sambil sedikit bertele-tele, membuat dia bingung. "Lain waktu kita makan eskrim apa bisa?" lanjut ku membuat dia paham dan mengerti. "Oh, boleh pak, nanti hubungi saya saja, maaf harus segera pulang, dan sekali lagi mohon maaf karena sikap saya tadi." ucapnya mengiyakan ajakan ku dan meminta maaf kembali, membuat ku sedikit kurang nyaman. "Tidak-tidak, jangan meminta maaf, cukup saya yang meminta maaf dan berterimakasih!" jawabku sebelum dia menyahuti lagi aku segera berbicara terlebih dulu. "Tidak jangan lagi! dan segera pulanglah dengan selamat, dan hati-hati dijalan dokter!" ucapku sebelum dia bilang maaf lagi, dan menyuruhnya segera pulang karena larut malam, sambil sedikit mendorongnya masuk mobil. Gibran POV end Tanpa Gibran sadari perkataannya membuat Rena tersentuh, ini pertama kalinya seorang pria mengucapkan salam perpisahan padanya. Tanpa sadar pertemuan ini akan menciptakan rasa antara mereka berdua, namun tak akan luput dari yang namanya masalah. Setiap hubungan akan ada lika-liku perjalanan, namun apakah mungkin mereka berdua akan benar-benar bersatu, atau hanya sekedar bertemu dan salam perpisahan. Tak ada yang tahu apa itu takdir di waktu selanjutnya. **** Setelah dia berhasil keluar dari masalah di hotel berkat bantuan Rena, Gibran sampai di kediamannya. Mobilnya di parkiran di pekarangan rumah dan masuk kedalam dengan perasaan jengkel. "Bunda!" ucap Gibran saat pintu terbuka dan memperlihatkan seluruh anggota keluarganya masih berkumpul bersama di depan televisi. Ima menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah putranya, dia bersiap-siap mendengar ocehan sang putra karena rencananya. "Bun, ini keterlaluan tau nggak! apa bunda tahu apa yang bunda lakukan ini punya resiko besar!" oceh Gibran berdiri di depan televisi seperti ibu-ibu yang memarahi anaknya. "Itu kan bagus Bran! itu usaha Bunda biar kamu nggak kelamaan kek gini! Bunda itu juga semakin tua, pastinya juga pengen cepat-cepat punya cucu!" bela Ima pada dirinya sendiri karena menurutnya rencananya tidak salah sama sekali, dan Bramesta menyimak perdebatan sang istri dan putranya. "Bunda tau siapa wanita itu sebenarnya! apa ada wanita baik-baik meminta bertemu di hotel kamar VIP, ranjang di hias bunga, alkohol di mana-mana, pakaian sangat fulgar, apa ada wanita baik-baik berani menyentuh sebelum ada izin!" terang Gibran kehabisan kesabaran, dia sudah tidak tahu harus apa lagi, dia benar-benar tak percaya jika orang tuanya memilih w***********g seperti Devi, ihh ... menyebut namanya saja sudah mengotori mulut. Ima, Bramesta, dan Tessa melolong terkejut, apa maksud Gibran, ternyata wanita bernama Devi itu seperti itu. "Apa! VIP? ranjang? alkohol? menyentuh? kotor? Apa-apaan ini! pertama aku bertemu dia tidak seperti ini! sungguh wanita itu benar-benar bermuka dua!" omel Ima mengetahui kenyataan dari sang putra sendiri yang nota be nya adalah korban dari rencananya dan sang suami. "Lalu kamu melakukan apa dengan dia Bran!" sahut Bram ayah Gibran penuh pertanyaan besar yang tak terduga. "Lakukan apa! untung aku bisa keluar! kalau tidak tak tahu apa yang akan terjadi, pasti bunda akan menyesal di kemudian hari!" gerutu Gibran benar-benar kesal ingin rasanya dia mengamuk pada semua orang. Saat Gibran berkata seperti itu, Ima teringat ucapan Devi yang bilang jika Gibran di selamatkan oleh temannya. "Siapa temanmu itu!" sergah Ima tak karuan, bagaimana tidak, ini pertama kalinya Gibran memiliki teman dekat setelah sibuk menjadi pilot. Bram dan Tessa ikut penasaran, dan bersama-sama menginterogasi Gibran. "Orang asing Bun, bukan siapa-siapa!" jawab Gibran sedikit mengelak, karena dia sudah menduga arah pembicaraan sang ibunya. "Pria? wanita?" lanjut Ima semakin penasaran. Tanpa Gibran sadari dia malah menjawab pertanyaan konyol Ima. "Wanita." jawab Gibran singkat dan melolong sadar akan ucapannya. Ima, Bram, dan Tessa terkejut bukan main, ini adalah kabar sangat bahagia sekaligus menggemparkan dunia. "Siapa Bran?" heboh Ima tak tertahankan. "Cuma orang asing Bun, nggak sengaja ketemu!" elak Gibran sambil berjalan menjauh dari kerumunan keluarganya. "Mana ada asing mau bantu malam-malam begini, mana cewe lagi!" sahut Tessa semakin menggoda Gibran, membuat orang tuanya berpikir terlalu jauh. "Gibran bawa dia kesini!" sergah Ima sambil berdiri. "Apa sih Bun! udah lah, pokoknya jangan sampai Bunda buat rencana kek gini lagi!" jawab Gibran sambil berjalan menuju kamarnya, dan memilih mengelak dari arah pembicaraan semua orang. Saat Gibran masuk ke dalam kamarnya, Ima merencanakan sesuatu. "Tessa kamu cari tahu wanita itu, pasti kakak mu punya nomor telepon nya!" rencana Ima sudah begitu mantap, membuat sang suami menggelengkan kepalanya. "Lah kok aku Bun!" elak Tessa karena tidak mau di sangkut pautkan masalah ini. "Udah sana buruan!" jawab Ima sambil mendorong sang putri menuju kamar Gibran. Berbeda dengan Gibran yang pulang dengan amarah dan perasaan jengkel, Rena pulang dengan perasaan cemas karena khawatir pada sang ibu. Rena berjalan cepat sambil menggerutu pada dirinya sendiri. "Gimana bisa lupa waktu sih kamu Ren! dasar ceroboh!" ucap Rena mengutuk dirinya sendiri. Rena berjalan cepat berharap sang ibu tidak terlalu khawatir, akhirnya dia sampai di rumah, dan masuk kedalam. Terlihat sang ibunya duduk berdua dengan sahabat terbaiknya, yaitu Laras. Mereka berdua menatap Rena bergantian saat dirinya terburu-buru membuka pintu dengan nafas tersengal-sengal. "Huh ... huh ... aku pulang!" ucap Rena di depan pintu sambil membuka sepatunya. "Darimana Ren!" sahut Laras menginterogasi Rena yang tak biasa keluar larut malam seperti ini. "Tadi ada urusan nggak sengaja bentar!" jawab Rena sambil mendekat dan duduk di samping Laras. Mata Rena beralih pada sang ibu yang menatapnya dengan mata kasih sayang seorang ibu tunggal, sungguh Rena begitu memahami derita dan perjuangan sang ibu selama ini, ' Tuhan pasti begitu menyayangi ibuku.' batin Rena spontan menatap mata sang ibu. "Ibu gapapa kan?" tanya Rena begitu khawatir. "Nggak kok Ren! orang cuma di tinggal bentar masa iya ibu kenapa-kenapa, lagi pula ibu kan juga di rumah aja dari tadi!" jawab Hilza sambil tersenyum hangat memperlihatkan kerutan di ekor matanya, menandakan jika dia sudah semakin tua. "Ya udah, ibu istirahat sana gih! Rena bantu." sahut Rena sambil berdiri dan membantu sang ibu menuju kamarnya. "Dari mana aja kamu?" sergah Laras saat Rena kembali dari kamar sang ibu dan duduk di sampingnya. "Hoe!" jawab Rena santai apa adanya sambil memakan camilan yang dibawa Laras. "Apa? ngapain ke Hotel? ketemuan?" tanya Laras terkejut mendengar jawaban sahabatnya itu. "Pala lu! orang cuma bantuin temen doang!" jawab Rena yang entah sejak kapan menyebut Gibran orang yang ditolongnya adalah teman. "Cewe? cowo?" lanjut Laras kembali bertanya. "Cowo." balas Rena masih singkat sambil makan camilan kacang. "Wah gila Ren! ditolak berkali-kali jadi kebal main malam di hotel!" ucap Laras pada Rena membuat dirinya geram. "Mulut mu jaga ya!" omel Rena tak terima dan melempar sebiji camilan pada Laras bermaksud memberinya pelajaran. "Lah ... lalu kenapa kesana?" lanjut Laras tak berhenti bertanya, membuat Rena geram. "Ceritanya panjang, Farhan kemana?" jawab Rena sambil bertanya mengalihkan pembicaraan. "Lembur dia di luar kota! katanya lusa baru pulang!" jawab Laras sedikit melemas karena ditinggal suami kerja di luar kota selama beberapa hari. Rena mendengar jawaban Laras dibuat tertawa girang. "Hahahah ... kasian ya dirimu di tinggal suami!" ledek Rena pada Laras. Ledekan Rena tak pernah serius dan tidak dianggap serius pula oleh Laras, Laras sendiri adalah sahabat Rena sejak menjadi mahasiswa dan sekarang Laras sudah menikah selama 5 tahun dan belum dianugerahi seorang anak. Usaha Laras dan sang suami tak pernah berhenti begitu saja, hampir puluhan juta dia habiskan untuk mengobati kekurangannya. "Hidih! biarin, dari pada kamu Ren dah tua masih aja jomblo!" balas Laras kembali meledek Rena, membuat Rena cemberut kesal dan Laras tertawa puas. "Ahhaha ...." tawa Laras begitu nyaring hingga Rena membungkam mulutnya dengan camilan martabak manis. "Uhmm ...." Kini mulut Laras telah penuh satu suapan besar martabak manis dari Rena. Mereka berdua adalah dua orang asing yang di pertemukan saat menjadi mahasiswa, yang kini menjadi sahabat hingga usia menjelang tua, suka duka mereka tak akan pernah terlupakan hingga maut memisahkan, hunian persahabatan adalah hal kecil yang menjadi besar jika kita menghargai dan mengerti seberapa nyata mereka saat kita membutuhkan dan saling di butuhkan. Saudara tak sedarah kadang lebih indah dari pada sedarah tanpa ikatan yang baik, nyatanya hubungan seseorang itu tergantung pada mereka yang menjalani, susah dan senang ditentukan oleh cara dan jalan mereka masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN