06. alasan untuk bertemu

2268 Kata
Semua penghuni kota telah terlelap di tengah malam seperti ini, kegiatan tak sepadat hati-hati pagi, malam adalah waktu dimana mayoritas orang mengistirahatkan tubuh setelah berkerja sepanjang hari. Namun berbeda Rena, berguling ke sana kemari, seluruh sudut ranjang telah dia tempati hanya untuk mencari cara agar dia bisa tertidur seperti malam sebelumnya. Perkataan Gibran terakhir di hotel terus terngiang di dalam pikiran Rena, entah kenapa dia merasa satu kejadian itu sangat sulit di abaikan oleh pikirannya kali ini. Rena POV Bugh .... Suara sesuatu terjatuh dari ranjang, siapa lagi jika bukan aku, tengah malam begini hanya kelelawar yang masih beraktivitas, namun bagaimana dengan diriku yang ingin tidur tapi pikiranku sudah tak karuan kemana-mana. "Aduh ...." rintih ku sambil mengelus p****t sakit karena terjatuh dari ranjang demi mencari posisi nyaman untuk tidur. "Ahhh ... sakit banget ini bro!" ucapku menggerutu sambil menatap karpet berbulu di bawah ranjang ku. Apa aku menyalahkan karpet dan lantai itu (?) mungkin, mau bagaimana lagi aku sudah tidak tahu dengan cara apa agar aku bisa tidur tenang seperti malam sebelum Gibran mengatakan salam perpisahan seperti tadi. "Sudah cepatlah pulang, hati-hati di jalan ..." "Hati-hati di jalan ...." "Cepatlah pulang ...." "Hati-hati di jalan ...." Suara Gibran terus menerus memenuhi pikiranku tak terhenti, semuanya seolah berputar acak dalam kepala dan otakku, hingga rasanya hampir meledak. "Ahh ...." teriakku geram sambil mengacak-acak rambut tak karuan. "Kenapa harus dia yang bilang kek gitu coba! andai tukang kebun atau satpam rumah sakit aja yang bilang kek gitu! kenapa harus duda itu ya Tuhan!" gerutu ku sambil mengetuk-ketukkan kepala ke tembok pelan. "Jangan-jangan kamu baper Ren!" pikiran ku menduga kemana-mana, dan segera aku tepis jauh-jauh. "Tidak-tidak, jangan sampai! seburuk-buruk nasibku jangan sampai jatuh cinta pada duda!" lanjut ku sambil menggelengkan kepala cepat dan kembali berbaring dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut tebal berharap aku tertidur cepat. Mataku masih melolong lebar, sangat lebar menatap atap-atap kamar penuh pikiran tentang Gibran. Ingin rasanya aku pergi menemuinya dan bertanya apa maksudnya berkata seperti itu, biar apa coba (?) biar anak orang mati tengah malam (?). "Dasar duda nggak tau diuntungkan!" teriakku geram sambil memejamkan mata kuat-kuat. "Tenang Ren, ayo coba tidur lagi! Besok masih ada jadwal pagi!" ucapku menenangkan diri sendiri agar lebih tenang. Namun semuanya percuma, aku tak bisa berhenti mengingat ucapan duda sialan itu, seketika semuanya terasa sia-sia, kenapa dia harus mengucapkan salam perpisahan seperti tadi, harusnya dia hanya melihatku pergi aja. Dalam hati aku masih menggerutu kesal, dan sesekali tersenyum membayangkan ucapan manis pertama dari laki-laki, tapi kenapa itu harus aku terima dari Gibran. Jam menunjukkan pukul 08.50 pagi, artinya sepuluh menit lagi aku akan kembali bekerja jadwal pagi. Namun apa mungkin dengan kondisiku yang seperti ini akan berangkat bekerja, mata panda terlihat jelas, wajah kusut, kusam, berantakan, dan lusuh. Aku menatap pantulan diriku dari cermin dengan perasaan jengkel pada Gibran, ingin rasanya aku memukuli dia dan mencabik-cabik habis kulitnya agar dia tahu bagaimana penderita ku semalam. Saat aku menatap cermin tiba-tiba pintu kamar ku terbuka, menampilkan ibuku datang membawa sarapan pagi, biasanya aku yang membuat sarapan, tapi karena sepanjang malam aku tidak tidur dan berakhir seperti ini. "Oh! astaga ya Tuhan!" teriak Ibuku kaget sambil menatap diriku penuh tanda tanya. "Kenapa Ren!" tanya ibuku sambil mendekat dan meletakkan sarapan di atas ranjang yang sudah aku rapikan sejak pagi. "Kamu sakit?" lanjut ibuku sambil menangkup wajahku dan melihat mata panda yang muncul semalam. "Nggak kok Bu, cuma sedikit lelah saja!" jawabku berbohong, padahal dalam pikiranku tak berhenti mengingat ucapan duda itu. "Sini biar Ibu bantu bersihkan!" ucap Ibuku sambil menarik ku menuju dapur. Terlihat beliau memotong tipis mentimun segar, dan menempelkannya pada kedua bagian bawah mataku. Aku menurut patuh saja, mood ku tiba-tiba menghilang pagi ini, dan entah kenapa rasanya aku tidak ingin melakukan apapun sepanjang hari, namun bagaimana dengan pasienku kali ini, mau tidak mau aku harus tetap berkerja. "Lain kali kalau sudah lelah jangan dipaksakan Ren! waktu masih panjang, jangan terlalu dipaksa, kadang kalau dipaksa semua malah berantakan!" nasehat ibuku sambil mengusap-usap mentimun itu lembut ke bagian kantung mataku. "Iya Bu," jawabku singkat sambil mengangguk paham dan tersenyum mengiyakan. "Nah, udah mendingan kan sekarang." ucap Ibuku sambil tersenyum melihat mata panda itu mereda. Aku menatap mataku yang tidak seperti pagi tadi di depan cermin dan tersenyum lega, akhirnya aku bisa bekerja dengan keadaan yang sedikit lebih baik. "Kalau gitu Rena berangkat kerja dulu Bu." pamit ku pada ibu sambil mengambil tas selempang berwarna hitam. "Nggak sarapan Ren?" ucap Ibu bertanya sambil menatap segelas s**u hangat. Aku melihatnya tak tega, ibuku sudah susah-susah membuat segelas s**u untuk ku tapi aku malah tidak mau menerimanya. Aku kembali berjalan menghampiri ibuku dan mengambil segelas s**u sambil ku minum habis dalam beberapa tegukan. Ibuku menatap bahagia segelas s**u yang telah habis kandas dalam satu tegukan, kebahagiaan beliau sangat sederhana, melihat s**u buatannya di minum habis sang putri adalah kebahagiaan tersendiri tanpa diduga orang lain, yang hanya menganggapnya sepele tapi berbeda dengan sang ibu kita, sayangilah mereka selagi kau masih memilikinya dan sebelum kenangan beliau yang akan menemani hari-hari mu. Aku berjalan menuruni tangga gang depan rumah sambil merasakan embun pagi hari di kota besar seperti ini, sangat jarang di temukan pepohonan rindang yang masih bisa digunakan bernaung. Mobilku terparkir rapi di sana, embun malam sedikit menutupi kaca depan, dan aku masuk sambil mengelap embun nya. Roda mobil berputar bersama mesin-mesin menuju rumah sakit, perasaan ku masih sama, perkataan Gibran masih terngiang di dalam pikiran dan ditambah aku tak tidur selama satu malam. Tepat di depan tempat parkir aku berhenti pelan dan memarkirkan mobilku rapi berjajar di sebelah mobil lainnya khusus pegawai rumah sakit. Aku berjalan masuk sambil mengenakan style sederhana seperti hari-hari biasanya, aku jarang mengenakan dress pendek, lebih sering dengan celana jeans panjang dan sweater atau kemeja panjang. Aku berjalan malas, dan masuk kedalam ruangan, di sana sudah tersedia berkas-berkas pasien dari Dewi. Dewi selalu datang sebelum diriku dan menyiapkan seluruh keperluan pasien sebelum aku merapikannya. Mataku melihat jas putih yang tergantung rapi di atas gantungan pakaian di samping meja kerjaku, tanganku terulur mengambilnya dan mengenakannya, hari ini jadwal pasien tak begitu ramai, jadi aku bisa beristirahat sebentar karena waktu istirahat malam ku tersita sia-sia. Pintu ruangan ku terbuka, tepat pada pukul 12.45 siang, aku mengira itu Dewi yang ingin memberikan aku berkas baru, tapi siapa sangka bukannya Dewi atau pasien yang datang tapi malah orang yang membuat aku tak bis tidur sepanjang malam karena ucapannya yang terus-menerus teringat jelas dalam telingaku. Ya dia Gibran, duda sialan yang mengucapkan salam perpisahan sebelum aku pulang dari hotel setelah menolongnya, dan untuk apa dia datang keruangan ku, dan sendiri pula, tanpa Deon bersamanya. **** Rena POV Krekk ... Suara pintu ruangan ku terbuka, aku yang semula menidurkan kepala di atas lengan langsung menatap arah sumber suara. Aku berpikir itu adalah Dewi, tapi dugaan ku salah, ternyata dia adalah duda itu, ya siapa lagi jika bukan Gibran. Gibran menyembunyikan tubuhnya dari balik pintu sehingga hanya kepalanya saja yang terlihat, sambil tersenyum lucu dan menatapku, aku menatapnya aneh karena mengira dia datang bersama Deon ternyata dia sendiri kemari. "Hehehe ...." tawa Gibran cengengesan tidak jelas dari balik pintu. "Apa ada jadwal cek up Deon hari ini?" respon ku sambil bertanya dan membuka jadwal pasien. "Oh, saya tidak datang karena itu, saya membawa maksud lain." jawab Gibran sambil berjalan masuk mendekati ku dan duduk di d kursi depan ku, sehingga kami berhadapan. Pikiranku sudah tak karuan, berlari terlalu jauh hingga melewati garis pembatas rambu-rambu, kenapa (?) aku juga tak tahu otakku merespon begitu saja. 'Apa maksud yang membawa dia kemari? apa dia akan melamar ku? Ah ... tidak-tidak pikiran konyol macam apa ini!' batinku membuat aku sendiri merasa geli, kenapa aku malah berpikir yang tidak-tidak, apalagi sampai berpikir duda itu mau melamar ku, sungguh tidak nyambung sama sekali. Aku menggelengkan kepala cepat, sambil mengetuknya berusaha menepis pikiran kotor itu. "Kenapa?" tanya Gibran saat melihat ku menggelengkan kepala, dan menatap penampilan ku, mungkin terlihat sedikit berbeda, bagaimana tidak (?) ini semua karena ulahnya semalam. "Ah, tidak-tidak! apa yang membawa Bapak kemari?" tanyaku sambil pura-pura sibuk, padahal jadwal hari ini kosong, masih dengan bahasa yang formal, karena aku merasakan tidak begitu dekat hingga harus berbicara seperti teman dekat. "Untuk berterimakasih!" jawab Gibran membuat aku tersenyum canggung. "Untuk apa?" jawabku sambil bertanya merespon ucapannya. "Kemarin malam, makan eskrim yang tertunda!" jawabnya membuat aku melolong seketika, apa kita sedekat itu hingga harus makan eskrim bersama (?). "Owh, tidak masalah," jawabku sambil berpura-pura sibuk, sungguh aku dibuat salah tingkah mendadak. "Tapi saya bermasalah!" ucap Gibran tegas, dan aku menatapnya dengan pertanyaan. "Hem?" ucapku sambil menatapnya. "Maksud saya, saya bermasalah karena tidak memberi ucapan terimakasih pada Dokter!" jawab Gibran meninggikan posisiku sebagai dokter, membuat aku sedikit canggung dan sungkan. "Owh, tidak apa Pak, lagi pula saya sedikit sibuk." responku aneh karena berbohong, berusaha menghindari pembicaraan. "Sepertinya tidak! saya bertanya dengan asisten Anda, dia berkata jadwal hari ini kosong!" jawab Gibran membungkam diriku seketika, apa-apaan Dewi (?) kenapa dia harus menjawab pertanyaan duda ini, sungguh membuat semuanya kacau. "Ehhehe ...." aku hanya tertawa canggung sambil menggaruk-garuk leher belakang yang tidak gatal. "Ahahah ... tidak apa, kalau begitu kita bisa makan eskrim?" balas Gibran kembali tertawa hingga melihatkan lesung pipinya yang menambah kesan manis dan soft. "Ehm, baiklah sepertinya tidak masalah." jawabku mengiyakan, dan mengerti maksud alasannya kemari. Namun apa iya dia harus kemari hanya karena alasan itu, aku rasa tidak, dan ini terasa sedikit aneh, bagaimana tidak kami hanya orang asing yang hanya berhubungan sebatas dokter dan wali pasien. "Kalau begitu silahkan!" ucap Gibran sambil berdiri dan mengajak aku pergi makan eskrim. Aku merasa sedikit canggung ketika berjalan di sampingnya, jika aku berjalan di belakangnya kan tidak mungkin, namun antara kami masih ada jarak untuk berjalan. Dia tengah berusaha membuka bicara, hingga kalian akan berpikir jika dia adalah orang yang ramah dan humoris, kapanpun dia merasa nyaman maka dia akan menghilangkan rasa canggungnya, contohnya saat ini dia sendang berusaha akrab denganku. "Bagaimana kalau kita ke taman bermain, dan membeli eskrim di sana?" ajak ku pada Gibran memberi saran, kenapa di taman bermain, karena di sana akan ada banyak aneka rasa eskrim yang berbeda dari tempat lain. "Oke, baiklah tidak masalah." responnya dan kami berjalan berdampingan menuju taman bermain yang tidak jauh dari rumah sakit, dan perbincangan terus ada agar tidak terasa begitu canggung. Tibalah kami di taman hiburan, banyak pedagang eskrim yang mencari nafkah di sana, aku melihat sepotong eskrim rasa alpukat yang tengah dimakan seorang anak. Aku tanpa sengaja menarik Gibran menuju pedagang itu, sekolah aku dan dia sangatlah dekat dan lama berteman. Dapat dipastikan jika Gibran terkejut dengan responku, tapi saat aku menatapnya dia tersenyum canggung dan kembali bersikap normal. "Saya mau rasa alpukat." ucapku memesan eskrim pada penjual itu, dan Gibran ikut memilih lewat menu yang tersedia. "Saya mau rasa mangga." ucapnya memilih eskrim rasa mangga, berbeda-beda denganku yang tidak suka mangga, aku menganggap buah itu akan begitu masam. Eskrim yang kita pesan berhasil di terima dan kita pegang masing-masing, sambil duduk di kursi tepi taman. "Kenapa tidak memilih rasa alpukat?" tanyaku pada Gibran sambil menatap eskrim rasa mangga miliknya dengan perasaan geli karena tak suka, memang selera setiap orang berbeda. "Saya tidak suka alpukat, saya lebih suka mangga!" jawab Gibran membuat aku mengangguk paham. "Oh, sangat berbanding terbalik dengan saya, hahaha ...." jawabku sedikit bergurau berusaha mencairkan suasana. "Tidak suka mangga? kenapa?" tanya Gibran sambil menatapku yang asik menyantap eskrim lahap, bagaimana tidak, eskrim adalah salah satu cara saat mood ku down, dan setelah makan eskrim aku akan ceria kembali. "Masam!" jawabku sambil bergidik geli membayangkan rasa pertama saat aku makan mangga waktu kecil. "Nggak kok, ada banyak jenis mangga yang tidak masam." jawab Gibran memberi pendapat. "Masam, sangat masam. Lalu kenapa kamu tidak suka alpukat?" jawabku sambil memberi pertanyaan juga padanya. "Ehm, tak ada rasa, dan baunya begitu kuat." jawab Gibran memberi tahu alasan kenapa dia tidak suka alpukat. "Ya, kita punya selera yang berbeda!" balasku sambil terkekeh geli melihat seleraku dan Gibran yang kontras soal rasa. "Hahahh ..." Gibran ikut tertawa dan lanjut makan eskrimnya. Tak ada perbincangan selama beberapa menit, kami asik makan eskrim masing-masing, dan akhirnya Gibran membuka bicara. "Bisakah kita tidak terlalu formal, anggap saja setelah kamu menolong ku adalah langkah awal pertemanan kita." ucapnya mendadak dan aku menoleh seketika. "Baiklah, tidak ada salahnya kita berteman, heheheh ...." jawabku tak terduga jika aku menerima sarannya agar tidak terlalu formal dan sejak kapan aku setuju jika kami berdua adalah teman, ahh sudahlah tidak ada salahnya untuk berteman, semakin banyak teman semakin banyak pengalaman. "Baiklah Ren!" ucap Gibran memulai bicara santai berbeda dari sebelumnya. Aku mendengarnya dibuat tertawa lucu dan ikut menjawab, " Oke Bran!" balasku terasa begitu canggung tapi rasa itu hilang saat Gibran tertawa menyahuti, tak begitu buruk untuk memulai pertemanan. "Hahahah ...." kami berdua tertawa bersama seolah rasa asing telah hilang dan lenyap berganti pertemanan baru. "Kita main wahana? siapa yang tidak berani dia kalah!" ucapku menantang Gibran, padahal sejujurnya akulah yang tertarik untuk naik wahana itu, tapi malah mencari alasan pada Gibran, sungguh rencana yang tidak b***k,(hehehe). "Ayo, siapa takut, yang kalah dapat hukuman!" balas Gibran menyetujui tantangan ku dan kami memulai permainan itu. Sungguh dalam waktu singkat kami bisa berteman dekat, tidak begitu buruk. Kadang orang asing lah yang dapat memahami kita dan membuat semakin dekat. Dan kadang orang terdekat yang karena terpaksa memahami kita dan mampu menjadi asing dalam waktu singkat setelah melalui masa panjang, tak jarang ini terjadi, inilah hidup, siapa teman dan sahabat kita adalah mereka yang mampu mengerti dan mengubah dunia bersama kita tanpa ada rasa bosan dan pergi tanpa kembali. Rena POV end
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN