Gibran POV
Aku berdiri menatap wahana permainan yang menegangkan bersama Rena, seusai yang Rena katakan tadi untuk mengajak ku bermain wahana, siapa yang kalah dia yang mendapat hukuman. Entah kenapa diriku lebih terbuka dengan sosok dokter ini, sebenarnya niatku hanya ingi memberikan ucapan terima kasih karena bantuannya, tapi seolah aku tertarik untuk bersenang-senang dengan Rena.
"Kau takut?" tanya Rena sambil sedikit menyombongkan dirinya dan bertanya apakah aku takut (?) tentu saja tidak, pekerjaan ku sudah biasa berdiri di atas awan yang jauh dari ketinggian, apa mungkin aku takut.
"Apa aku terlihat takut?" balasku sambil bertanya balik.
"Sepertinya ... hahaha ...." jawabnya sambil tertawa meremehkan. Tiba kami duduk di kursi penumpang, kami bersebelahan, rasa canggung dan asing seolah telah pergi jauh dari rasa bahagia kami sebagai teman.
Wahana mulai berjalan, semula lambat.
Sedikit cepat.
Cepat.
Semakin cepat.
Sangat cepat, sehingga wajah kami diterpa angin begitu kencang dan teriakan penumpang begitu nyaring, aku dan Rena berteriak bahagia karena ini benar-benar menguji mental, tidak semenakutkan kejadian di hotel kemarin malam.
Wahana berhenti, dan kini kami berdiri di depan wahana rumah hantu. Mendadak mental ku ciut, apa aku takut (?) ah, tidak jangan takut, jika takut itu akan sangat memalukan.
"Kau yakin?" tanya Rena lagi-lagi menantang diriku, secara terpaksa aku menyahuti iya.
Masuklah kami berdua di ambang pintu, suasana berubah drastis, gelap, sunyi, aneh, dan menegangkan. Aku menatap sekeliling dengan perasaan was-was, sungguh aku benar-benar tidak menyukai suasana seperti ini, berbeda dengan Rena yang berjalan santai di depanku.
Aku membuntutinya diam-diam ketakutan.
Saat aku menatap ke arah atas melihat situasi, tiba-tiba satu kepala tanpa leher jatuh menimpa bahuku, yang pasti itu adalah kepala palsu, tapi entah kenapa aku begitu ketakutan.
"Wah! aaA! ..." teriakku begitu kencang hingga membuat Rena menoleh kaget.
Bukannya menolong ku dia malah tertawa begitu girang, sungguh aku malu lagi, seolah nasib malu sangat mendukung ku di depan Rena.
"Lah! takut dia!" ledek Rena sambil tertawa cekikikan, dan menatapku yang berlari menuju belakang punggung nya bermaksud mencari perlindungan secara spontan.
"Whahaha ...." tawa Rena begitu kencang hingga satu kejutan terjadi lagi.
Sebuah tangan begitu kotor tiba-tiba memegang pergelangan kakiku, dan tak langsung membuat aku memeluk Rena begitu kuat, aku yakin jika dia terkejut karena hal mendadak ini.
"Ah! Aaaa ... tolong saya! dasar hantu bod*h" tanpa sadar aku berteriak dan mengatai hantu palsu itu begitu saja. Rena merasakan pelukan ku yang erat langsung diam berhenti tertawa.
"Ayo cepat keluar, aku tidak tahan!" ucapku sambil ketakutan seperti bertemu w***********g di hotel, aku rasa ini jauh lebih menakutkan.
"Itu palsu." ucap Rena menyakinkan ku sambil menendang kepala boneka yang seolah nyata itu. Aku tak peduli lagi, mau palsu atau tidak mereka sungguh membuat aku sial.
"Dasar hantu sialan, pergi nggak!" maki ku sekali lagi saat tangan itu terus memegangi kaki ku. Aku pastikan orang yang menyamar sebagai hantu itu tertawa lucu melihat aku yang ketakutan.
"Maaf ya Bu, dia setengah sadar!" ucap Rena lirih pada hantu itu menyebutnya dengan panggilan Bu.
Aku membatin saat mendengar ucapan Rena, "Dasar wanita aneh, bukannya jijik atau takut malah ngajak ngobrol, aneh emang!" Aku membatin tak percaya sambil memegangi lengannya kuat. Kami lanjut berjalan mencari pintu keluar, tiba di tengah-tengah bagian wahana itu, kami diminta untuk memilih dua pintu yang menunjukkan jalan keluar, Rena menatapku aneh.
"Pilih satu!" ucapannya meminta ku memilih pintu, entah dimana akal pikiran ku saat itu, harusnya aku meminta dia untuk memilih sendiri malah aku sombong sendiri, yakin jika feeling ku selalu benar.
"Kiri!" ucapku yakin dan menyombongkan diri yang sama sekali tak berarti di situasi seperti ini.
"Bukalah!" titah Rena menyuruh ku untuk membuka tanpa memberitahu jika salah membuka maka akan ada hantu yang keluar, sungguh akhlaknya di telan hantu, tega membuat aku mati jantungan.
Aku dengan percaya diri tinggi membuka pintu sempurna. Tidak ada apa-apa, dan aku berbalik menatap Rena sambil membuktikan kesombongan ku.
"Lihatlah ...." ucapku sambil mengangkat bahu bangga.
"Itu ...." jawab Rena sambil melirik kebelakang ku, aku yang polos tak berotak seharusnya lari tapi malah menoleh patut.
Kepala tak berleher, mata satu, darah dimana-mana, dan tangganya putung.
"Huwaaa!" teriakku begitu kencang hingga menggema keseluruh penjuru tempat itu, mungkin staf pekerja yang mengatur efek suara dibuat kaget seketika karena suara ku.
"Bang*at! nggak ada AKHLAK!" Aku semakin tak karuan dan spontan menonjok wajah si hantu begitu kencang hingga terjungkal.
Rena menatapku begitu heboh dengan mulut terbuka lebar, dia tak menyangka bahwa aku akan bersikap seperti ini demi memberi perlindungan. Alhasil seluruh staf pekerja wahana rumah hantu berkumpul menolong si hantu itu.
Aku menyadarinya sudah tak peduli lagi, siapa yang menyuruh dia menjadi hantu begitu menyeramkan, kalau saja dia hanya membuat suara aku tak kaget seperti ini, aku juga tidak salah aku hanya merespon sebagai perlindungan.
"Haaaaw! ...." ucap Rena melongo sambil menutup mulut tak percaya.
"Pak-pak, Anda tidak papa?" ucap Rena mendekat kearah hantu itu yang tidak sadar diri karena pukulan ku.
"Gila kali nih duda! sampai pingsan satu pukulan!" lirih Rena sambil melirik ku heran.
"Wah! keluar kalian berdua! jangan main wahana dan masuk kesini lagi!" ucap salah satu pegawai itu marah dan mengusir aku dan Rena. Aku tak terima di usir, karena aku merasa tidak bersalah, walau begitu aku juga akan tetap bertanggung jawab.
"Saya tidak membuat kesalahan! ini kecelakaan!" belaku sambil bersedekap lengan, rasa takut dan was-was telah hilang karena seluruh hantu tengah berkumpul menolong temannya, sungguh solidaritas yang begitu epik.
"Kecelakaan! Wah! duda ini sangat berbahaya." lirih Rena sambil menggelengkan kepalanya pelan, dan berkata, "Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" ucap Rena dan hantu itu di bawa kerumah sakit segera.
Saat ini aku dan Rena berada di luar taman hiburan, berjalan pulang ke rumah sakit, hantu itu tidak mengalami cidera parah hanya sedikit memar di wajahnya terutama bagian hidungnya.
"Wah, luar biasa! pertahanan mu begitu bagus, hahaha ...." puji Rena yang menurut ku itu bukan pujian tapi ledekan, buktinya setelah dia mengatakan itu malah tertawa terpingkal-pingkal sambil sesekali berhenti berjalan karena tawanya.
"Aku tidak sengaja melakukan itu!" belaku pada diri sendiri, dan sesekali teringat wajah hantu itu yang sangat menjengkelkan.
"Hahahaha ...." tawa Rena masih tak berhenti hingga membuat aku jengkel.
Tanganku spontan menutup mulutnya rapat-rapat agar berhenti tertawa, waktu terhenti. Rena menatapku terkejut karena tindakan ku yang mendadak padanya.
Diam
Diam
Diam
"Berhentilah menertawakan hal tadi!" tegas ku sambil melepas tanganku. Rena mengangguk paham tanpa bicara, wajahnya merah karena malu dan salah tingkah, begitu pula dengan ku. Kami terus berjalan tanpa ada pembicaraan hingga sampai di rumah sakit, dan aku pamit pulang lebih dulu, karena ada sedikit urusan.
Apa itu cinta? Bagaimana jika ada cinta yang datang tiba-tiba pada orang asing yang baru kita kenal? Apa kita harus mengungkapkannya? Ya, ungkapkan rasa itu sebelum terlambat, terima atau tidak itu konsekuensi cinta.
Berani jatuh cinta maka kita juga harus berani terluka, berani memiliki harus rela kehilangan, sebab di dunia ini tak ada yang kekal abadi kecuali Tuhan. Jatuh cinta lah pada dia yang benar-benar kau cintai bukan hanya obsesi, dan jangan mencari yang sempurna sebab kau akan terluka.
Bahkan ketika kau mencari cinta yang sempurna, ibu mu pun tak akan ada nilainya, sebab beliau juga manusia, namun berjasa besar dalam hidup kita, lengkapi lah rasa itu untuk menjadi sempurna, sempurna itu terdiri atas kekurangan yang terlengkapi oleh kelebihan.
Jika kau terluka karena cinta maka itu bukanlah cinta, sebab cinta itu indah, karena anugerah Tuhan tak akan pernah salah dan mengecewakan, jika kau terluka karena cinta maka itu bukan cinta tapi obsesi semata.
'Aku jatuh cinta. Tapi kenapa? dan mengapa?' pertanyaan itu telah aku renungkan selama satu malam penuh karena terus menghantui pikiranku.
Aku duduk menatap ponsel yang tertera nama Rena, ya aku menyadari jika aku telah menaruh rasa pada wanita superhero yang menolong ku di hotel kemarin. Hati bahkan jiwaku telah penuh kepastian dan keyakinan jika aku akan memperjuangkan rasa cinta ini.
Jam menunjukkan pukul 16.38, hari sudah sore dan aku hanya menganggur di rumah karena belum bertugas kembali, alias cuti. Aku begitu bosan karena tidak ada pekerjaan, Deon sedang pergi bersama Tessa sedangkan bunda dan ayah juga sibuk sendiri, dari pada aku tidak jelas di sini lebih baik berjuang mendapatkan hati sang pujaan (hahaha).
Panggilan terhubung...
"Hallo?" ucap Rena membuka bicara setelah mengangkat telepon dariku.
"Hem ...." jawabku tidak jelas, entah kenapa aku merasa t***l, aku yang menelepon tapi aku sok jual mahal dan cuek.
"Lah! Nggak jelas kamu Bran! aku tutup ...." jawab Rena setelah mendengar jawaban ku yang singkat dan berniat menutup telepon, tapi aku cegah sebelum terlambat.
"Eh eh ... tunggu-tunggu, jangan di tutup Ren!" sergahku sedikit panik jika Rena menutup teleponnya.
"Hem ...." balas Rena mengulang ucapan ku seolah ikut jual mahal.
"Ya, jangan gitu Ren! serius-serius," balasku sambil tersenyum di balik telepon.
"Oke, mau ngomong apa?" jawab Rena mengubah suasana menjadi serius.
"Ketemuan yuk?" lanjut ku sambil berusaha menguatkan mental setelah mengajak Rena untuk bertemu seolah kami memiliki hubungan khusus saja, ya aku dan dia sudah cukup dekat belakangan ini, bisa di bilang kami seperti sahabat baru, tapi itu anggapan Rena saja, berbeda dariku yang menaruh rasa diam-diam padannya.
"Ketemuan? dimana?" jawabnya bertanya dimana berarti dia menyetujuinya, aku bahagia bukan main, sungguh aku tak begitu buruk dalam merayu wanita, bakat baru yang harus di kembangkan.
"Nggak sibuk emang?" tanyaku sedikit basa-basi, padahal aku berharap banyak jika Rena menerima ajakan ku.
'Ngapain tanya gitu sih Bran! kalau dia nggak mau gimana coba! b**o banget sih.' batinku menyesali pertanyaan tidak jelas tadi.
"Jadi nggk jadi ketemuan?" balas Rena membuat aku tegang, dan akhirnya aku segera bertindak.
"Besok gimana?" tanyaku berusaha mengubah niat Rena yang ragu untuk bertemu.
"Besok? bisa emang?" tanya Rena balik, aku yang sudah geram tak tahan lagi.
"Sudahlah jangan basa-basi, ketemuan sekarang! aku ke sana sekarang!" ucapku cepat karena sudah geram, hanya karena ingin bertemu saja begitu sulit, daripada gagal dan pujaan kabur mana mau aku, (wkwkwk).
"Hahahah, oke deh! Aku tunggu!" jawab Rena sambil tertawa lucu, dan mengucapkan ucapan yang begitu membuat aku bahagia dan semangat untuk segera bertemu.
"Okee!" jawabku dan segera menutup telepon dan segera bersiap-siap, aku sungguh bahagia, namun dibalik perasaan ku ini Rena hanya menganggapnya sebagai sahabat, tak apa! siapa tau setelah beberapa kali bertemu dia jatuh cinta, laki-laki sejati tidak akan mudah menyerah.
Gibran POV end
Sama dengan Gibran, Rena juga sedang bersiap-siap, entah kenapa dia juga merasa bahagia untuk bertemu sahabatnya itu, padahal hanya sahabat.
Rambut tergerai, baju sederhana dengan celana jeans panjang, sangat natural. Rena menatap tampilannya dari balik cermin kamar mandi wanita di rumah sakit untuk dokter, dia merasa ada yang kurang, tangannya bergerak membuka tas kecilnya dan mengeluarkan lipstik berwarna peach miliknya.
Beberapa olesan tipis di bibir atas dan bawah menambah kesan cantik di wajah Rena, walau begitu dia juga masih resah karena masalah jodoh, tapi hal itu berbeda untuk beberapa hari ini karena Gibran. Ya, semenjak Rena berteman dengan Gibran dia lupa akan kesedihannya dan bahagia bermain dengan Gibran.
"Oke, Prefect!" ucap Rena menatap kembali tampilannya dan memuji dirinya sedang jika terlihat sempurna.
Setelah itu Rena berjalan keluar kamar mandi sambil merapikan rambutnya ke belakang, saat itu ponselnya kembali bergetar, melihatkan panggilan masuk lagi dari Gibran.
"Ya, halo? udah siap nih akunya!" ucap Rena membuka bicara.
"Yang pasti pangerannya juga udah siap dong!" jawab Gibran menyebut dirinya sebagai pangeran, dan membuat Rena tertawa mendengarnya, tanpa di sadari Gibran melihat Rena tertawa Tepat saat itu Gibran berada di belakang Rena yang berjalan pelan sambil melekatkan teleponnya di telinga dan berbicara padanya.
"Udah jangan ketawa terus!" ucap Gibran membuat Rena berhenti seketika, darimana Gibran tahu jika dirinya sedang tertawa, padahal tawanya tanpa suara.
"Lah! kamu dimana? ngaku nggak!" ucap Rena penasaran sambil menoleh ke kanan dan kirinya, dan melewatkan arah belakangnya.
"Hahaha iya-iya, lihatlah ke belakang mu!" jawab Gibran menyuruh Rena menatap belakang dan disana Gibran tengah berdiri dengan senyuman yang begitu manis, ditambah style nya yang begitu cocok di tubuhnya.
Rena berbalik.
Senyum lebar dan senang.
"Dasar, pantesan tahu aku ketawa!" lirih Rena sambil tertawa kecil dan berjalan menghampiri Gibran, seolah-olah seperti pasangan yang sedang melakukan kencan. Gibran menatap Rena dengan detak jantung yang berdetak kencang, seolah dia sedang bertemu dengan kekasihnya.
Melangkah pelan dengan senyum lebar.
Semakin dekat.
Dekat, tinggal beberapa langkah lagi.
Tepat Rena berdiri di depan tubuh Gibran yang tegap dan tinggi, membuat dirinya terlihat sedikit pendek dibanding Gibran.
"Heh, Pak! ngelamun apa hem?" ucap Rena menyadarkan lamunan Gibran seketika.
Bayangan indah seolah tengah bertemu dengan kekasihnya hancur dalam hitungan detik, halusinasi, ya Gibran sedang berhalusinasi tentang dirinya dan Rena. Gibran masih diam sambil menatap mata Rena, dan saat itu Rena geram, satu cubitan mendarat di pinggang Gibran. Bukannya sakit tapi malah geli, Gibran sangat tidak tahan geli, jika dia di sentuh bagian tertentu dia akan cepat merasa geli.
"Eh, eh! hahaha" ucap Gibran tertawa merespon cubitan Rena sambil menghindar dari cubitan Rena yang terus menggelitiknya.
"Geli ya? ahahha, dasar!" balas Rena menertawakan tingkah Gibran yang geli.
Gibran berjalan di depan bermaksud menghindari Rena, tapi Rena malah mengejar Gibran sambil melanjutkan aksinya untuk mencubit pinggang Gibran.
"Hahaha, geli tau!" ucap Gibran memberi penolakan.
"Haha!" tawa Rena bahagia karena cubitannya.
"Ohh ,ohh!" teriak Gibran pelan sambil menghindari tangan Rena.
"Geli banget Ren!" lanjut Gibran sambil tertawa.
"Hahahaha, dasar cowo cool casing doang!" ledek Rena menertawakan Gibran.
Gibran merasa tak tahan karena cubitan Rena respek langsung bertindak, Gibran menarik Rena cepat sehingga dia berada di dekapan Gibran.
Sangat dekat, hingga Rena bisa merasakan nafas Gibran. Jantung mereka berdua berdetak kencang seperti maraton, ya keduanya sedang sibuk saling tatap hingga mata mereka bertemu, sampai tak menyadari posisi mereka yang begitu dekat, hingga bisa merangsang respon Gibran.
Dekat.
Sangat dekat, dan masih diam.
Wajah Gibran mendekat ke arah wajah Rena, dan Rena tak menunjukkan respon penolakan.
Semakin dekat, jarak mereka hanya tinggal beberapa centimeter, Gibran masih mendekatkan wajahnya perlahan.
Hingga ....
Cup!
Bibir mereka bertemu dengan satu kecupan, dan tidak ada penolakan akan keduanya, mereka masih diam dan tanpa sadar saat Gibran merespon lebih lanjut kecupan itu dan berlanjut dengan ciuman.
Tanpa terduga, Rena meresponnya juga, hingga mereka berdua saling menghisap bibir lawannya, untungnya lorong rumah sakit begitu sepi. Tangan Rena berpindah pada pinggang Gibran dan memegangnya erat, dan tangan Gibran mencekal tengkuk Rena kuat-kuat. Mereka masih belum sadar, hingga tiba salah satu suster berjalan lewat sambil menundukkan kepalanya, dan tidak melihat kejadian antara Gibran dan Rena.
Mereka berdua membuka mata dan tersadar. Ciuman itu terlepas, rasa canggung dan malu begitu meliputi suasana mereka disana.
Pipi Rena bersemu merah dan berjalan mendahului Gibran di belakangnya.
Di belakang Rena, Gibran tersenyum dan menggelengkan kepalanya cepat. Dia tak menduga jika ciuman pertamanya jatuh pada bibir wanita yang dia sukai diam-diam, yang notabennya adalah sahabatnya sendiri.
Begitu dengan Rena, tanpa sadar bibirnya sudah tidak perawan lagi, dia mengutuk dirinya sendiri ketika mengingat kejadian tadi, sungguh dia begitu malu, apa lagi dia melakukan itu dengan sahabatnya sendiri, sungguh takdir yang begitu aneh menurut Rena.
Raditya Gibran
Rena Rosallie.