Riuh tawa anak-anak dan orang-orang terdengar di taman bermain ini, bangku kayu di bawah pohon tergeletak santai bersandar pada batang pohon besar itu, dahannya mengayun-ayun dengan warna hijau dari daun itu, yang muda dan kokoh melekat erat pada dahannya, sedangkan yang tua dan kering gugur terbang melambai-lambai terbawa angin yang berhembus senada, siapa saja yang merasakannya akan merasa begitu damai dan ria.
Satu dari dua induk burung terbang pergi dan kembali ke sarangnya dengan makanan yang ia dapat, di situlah pelajaran dapat di ambil dalam perumpamaan hidup manusia sehari-hari, pergi saat matahari bertamu dan pulang saat matahari pamit pergi, roda keseharian itu terus berputar hingga nyawa melambai untuk pamit pergi selamanya.
Duduk di bawah pohon besar sambil menikmati eskrim menjadi rasa tersendiri bagi wanita seperti Rena, sebenarnya kebahagiaannya itu begitu sederhana tapi mengapa begitu sulit di dapat untuk dirinya sendiri. Rena menatap eskrim miliknya dan Gibran bergantian sambil teringat kejadian sebelum mereka disini, dimana mereka telah berciuman singkat sungguh itu akan di ingat dalam memory mereka satu sama lain.
"Bagaimana hidupmu?" tanya Gibran tiba-tiba sambil menatap langit biru cerah entah kenapa kali ini rasa penasarannya sudah mulai tak tertahan. Rena beralih pandangan dari eskrim Gibran ke arah wajah pemiliknya, dan tersenyum sambil menatap awan yang di tatap oleh Gibran.
"Hidupku jauh seperti awan itu, dan juga sulit di gapai oleh tangan kosong. Aku memiliki banyak kisah yang tidak diketahui banyak orang, senyum dan bahagia yang kau lihat saat ini tak sepenuhnya benar." jawab Rena sambil tersenyum memandangi langit biru cerah itu, mendengar suaranya Gibran langsung menatap Rena cepat dengan penuh rasa penasaran akan hidup Rena selama ini.
Rena kembali berkata, "Aku gagal berkali-kali bahkan bisa membuat diriku lupa akan rasa sakit karena gagal,"
"Bukankah gagal itu wajar?" sahut Gibran masih menatap wajah Rena yang terus menatap awan.
"Aku gagal tiga kali berturut-turut saat menjelang akad!" jawab Rena sambil tersenyum pasrah akan takdirnya selama ini, Gibran mendengarnya begitu terkejut dan trenyuh. Di satu posisi dia merasa haru akan hidup Rena dan di sisi lain dia merasa bangga padannya sebab mampu bertahan sejauh ini dengan ujian yang tak pernah berhenti lama.
"Mungkin jika satu saat nanti akan datang seseorang yang benar-benar nyata dan meminang diriku aku tak akan pernah tahu kenyataan karena hatiku sudah terlanjur hancur tak tersisa, kecuali untuk ibu dan mendiang ayahku di sana." lanjut Rena sambil tersenyum penuh kerinduan saat menyebut nama ayah. Saat itulah Gibran tahu jika hidup Rena jauh dari ekspetasinya dan jauh lebih tegar dari dugaannya.
Gibran menatap awan seperti kapas yang menghujani langit langit lepas jauh di atas sana dengan penuh harap dan perasaan, tangannya bergerak maju terulur ke atas sana dan Rena menatap Gibran dengan bertanya-tanya apa yang sedang dia lakukan. Tangan Gibran terulur menulis sesuatu diantara udara dan langit-langit biru cerah. Rena menatapnya dan mencoba menebak apa yang Gibran lakukan.
Jari telunjuknya di gunakan sebagai pena dan menulis pelan di sana, RENA. Nama itu di tulis Gibran dalam dalam dengan penuh perasaan, saat itu dia benar-benar sadar jika dia memang menaruh rasa pada Rena dengan rasa yang tak main-main.
"Apa yang kamu lakukan? kamu menulis sesuatu di atas sana? untuk apa?" tanya Rena beruntun karena penasaran dengan tingkah Gibran.
"Aku menulis nama seseorang yang ingin ku jadikan sebagai pendamping hidupku, suatu saat aku dan dia akan di pertemukan disini dibawah pohon ini, dengan rasa cinta yang terus bertumbuh dalam benakku." jawab Gibran tak dimengerti oleh Rena, untuk apa dia menulis itu di atas sana, sungguh hal yang sia-sia menurut Rena. Siapa sangka tangan Gibran bergerak mencekal telapak tangan Rena dan menuntunnya untuk menulis sesuatu di sana.
Tangan mereka berdua tengah menari di udara menuliskan sebuah tanda yang akan mereka kenang selamanya, tangan Gibran membimbing Rena dan menggambar satu buah hati yang terlihat jelas seolah itu nyata, seolah bintang-bintang yang tak nampak di sana mengizinkan mereka berdua menulis awal takdir yang akan menuntun mereka pada kenyataan hidup berdua.
"Kenapa bentuk hati?" tanya Rena begitu polos seolah dia tak paham dari maksud Gibran.
"Kelak cinta dan takdirmu akan bertemu disini!" jawab Gibran penuh keyakinan dan tanpa sadar dia telah membuat perjanjian dengan takdir yang akan membawa derita pada mereka berdua di masa depan. Rena mendengar jawaban itu langsung tersenyum kecut memandang langit tempat hati itu digambar oleh mereka berdua.
"Aku tak yakin jika takdir itu mau melengkapi separuh usiaku dan membuat kenangan indah bersama dan dikenang bersama, aku merasa jika dunia sedang bermain dengan ku hingga waktu yang lama." ucap Rena sambil menatap dua pasang burung di ujung ranting pohon yang nampak lapuk, dan melanjutkan bicara, "Jikalau dia ada dan datang menemuiku mungkin aku hanya akan membuat dia terjatuh pada lubang yang sama tempat aku harus kembali pada luka yang sama lagi dan lagi, dan aku merasa lelah dengan kehidupan ini!" saat itu juga dua pasang burung yang Rena tatap sambil bicara jatuh dari ranting yang lapuk dan patah, tepat pada saat itu dia berpaling wajah dan tersenyum remeh mengingat takdir, tanpa dia ketahui dua pasang burung itu jatuh bersama lalu terbang kembali bersama pula sebelum terluka terpental remuk dari ketinggian ranting dan jatuh ke tanah berbatu.
Gibran menatap dalam mata Rena yang terlihat luka mendalam di sana, dia yakin jika perjuangan Rena yang sejauh ini tak akan terbuang sia-sia tanpa balasan dan hasil, dan jikalau takdir berusaha tak adil pada Rena maka Gibran sendiri yang akan menuntut dan berjuang merebut hak atas Rena secara sepadan.
"Jika takdir terus tak adil, maka aku yang akan bertarung dan berjuang merebutnya untukmu Ren, walaupun jika aku hanya datang tanpa menetap tapi aku akan berusaha membuat kebahagiaan yang akan menetap selamanya dalam-dalam di memory kisah kita!" batin Gibran menatap sendu dan tekatnya untuk mempersunting Rena semakin begitu kuat, dan tak akan memakan waktu lama sebelum terlambat.
Tanpa disadari ternyata hari semakin berlalu, di sini taman ini akan menjadi saksi akan perjanjian dan tekad Gibran yang begitu kuat, kursi itu telah kosong tak terisi sebab Rena dan Gibran memutuskan untuk pulang menuju kediamannya masing-masing. Pohon rindang itu menjadi saksi akan tekat dan kesungguhan hati sang captain pilot bernama Gibran kepada Rena sang Dokter spesialis anak. Semoga takdir melihat dan mendengar bukti kesungguhan Gibran dan mengizinkan Gibran untuk membuktikannya, dengan matahari mulai tenggelam dan hari berubah menjadi gelap disusul lampu jalan yang menyala satu persatu menerangi jalan-jalan di taman itu dengan begitu cantik, megah, dan menawan. Andai saat itu Rena tak menutup mata dari kenyataan maka saat itu juga dia akan paham akan maksud yang tersampaikan dari Gibran secara tidak langsung padanya, namun inilah takdir dan jalan untuk dua manusia itu, yang berbeda jalur dan akan bertemu di persimpangan jalan di masa depan.
****
Gibran POV
Semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga setelah aku meminta mereka semua untuk berkumpul karena ada hal penting yang ingin aku bicarakan, terutama pada ayahku.
"Ada apa?" tanya Ayah saat semua orang sudah berkumpul dan duduk rapi menatap aku dan Ayah bergantian.
"Aku ingin menikah!" ucapku singkat membuka bicara lebih serius pada semua orang sesuai niat hati dan diriku yang sudah mantap dan bulat penuh keyakinan.
Bbruuhhfftt ....
Bundaku yang semula meneguk teh pelan langsung tersedak ketika mendengar ucapanku yang baru saja berhenti dan menutup mulut.
"Pelan-pelan kali Bun!" ucap Tessa menenangkan Bunda sambil mengelus tengkuknya pelan-pelan hingga merasa baik dan melepaskan tangan Tessa pelan dan menyuruhnya duduk dan melanjutkan bicara.
"Bran kamu sehat Nak?" tanya Bundaku sambil menunjukkan respon tak percaya, Ayah dan juga Tessa ikut penasaran dan tak percaya pada ucapan ku, bukannya tak percaya mungkin mereka terkejut karena aku mengatakannya tiba-tiba.
"Dengan siapa Bran? kamu nggak menghamili anak orang kan?" tanya ayahku yang ikut ikutan tak percaya, bahkan sampai menuduh aku menghamili anak orang.
"Nggak lah! iya kali aku ngelakuin kek gitu Yah! tapi ini memang keinginan ku sendiri!" jawabku memberi penjelasan jika memang aku berniat untuk meminang seseorang.
"Siapa?" tanya Tessa cepat dengan rasa was-was nya yang mendalam, sebab dia begitu takut jika nasibku akan sama seperti dia yang berakhir perceraian.
Baru saja aku mangap ingin menjawab pertanyaan semua orang, Deon menyeka nya dan menjawab pertanyaan mewakili diriku, "Pasti Ayah mau menikah sama bibi Dokter, kan kemarin Ayah main sama bibi Dokter pas Deon di periksa bibi Dokter Ayah liat mata bibi Dokter terus!" oceh Deon tak karuan dan melebar pada kejadian yang tak seharusnya di ceritakan.
"Dasar anak ini, kenapa harus di ceritakan yang itu, hadeuhh!" gerutu ku pelan sambil mengelus-elus kedua alisku pertanda tak baik, semua orang menatapku tak percaya, apa lagi Bunda, haduh sabarkan dirimu Bran.
"Bener Bran? wah gila nih anak laki satu, dijodohin nggak mau malah main sama cewe apa lagi sama dokter itu, sejak kapan hem!" sergah Bunda tak karuan, dan alhasil aku harus menerangkan panjang lebar.
"Nggak Bun, aku baru kenal dia dan aku memutuskan untuk meminang dia tolong restui aku Yah, Bun, mau bagaimanapun kalian adalah orang tua dan sekaligus keluargaku. Dia memiliki kepribadian yang berbeda dari wanita pada umumnya! aku yakin dia pantas untuk menjadi pendamping dan ibu dari anak-anakku kelak nanti di masa depan!" jelasku sambil membayangkan senyum dan tawa Rena dalam beberapa hari ini yang selalu pergi mengunjungi taman bersama-sama saat senggang bekerja.
Baru saja Bunda ingin melanjutkan untuk mengintrogasi diriku, tapi Ayah menyekanya dan melanjutkan bicara, membuat Bunda mengurungkan niatnya untuk bicara lebih.
"Kau yakin? jika iya, temui dia dan walinnya, niatkan untuk ibadah dan segera lakukan sebab itu adalah niat baik yang harus segera ditunaikan, aku dan ibumu disini sudah memenuhi kewajiban untuk membesarkan dan mendidik mu agar tahu man yanng baik dan mana yang buruk, jadi kau sudah se dewasa ini dan memang sudah waktunya untuk melanjutkan kewajiban mu sendiri, kami selalu mendokan yang terbaik dan belajar dari pengalaman sebelumnya!" terang Ayahku menjelaskan akan kewajiban yang telah beliau tuntaskan dan kini giliran ku yang akan menjalani status seperti beliau.
Gibran POV end
****
Berbeda dari Gibran yang sedang membicarakan masa depannya dengan keluarga, Rena malah sibuk mengurusi temanya yang berprofesi sebagai dokter bedah anak, ya dia sedang di rayu mati-matian agar mau menggantikan Feby sebagai asisten operasi selama dua bulan bersama Gilang. Bukannya dia nggak mau tapi menjadi asisten di ruang operasi bukanlah hal yang mudah dan santai, sebelumnya kepala pimpinan rumah sakit sudah meminta Rena tapi ia tolak begitu saja, untungnya Gilang meminta kesempatan pada pimpinan agar memberi kesempatan agar Rena berpikir ulang untuk masalah ini.
"Kan aku udah bilang nggak mau Lang! kamu sih ngeyel, salah sendiri udah tau pak pimpinan itu susah dibujuk malah minta kesempatan lagi, buang-buang emosi aja deh!" gerutu Rena sambil berjalan ke sana kemari bermaksud menghindari Gilang yang terus-terusan berusaha meluluhkan hati Rena.
"Iya gue ngaku salah Ren, tapi gue mohon, kali ini aja deh bantuin gue, gue nggak mau si Dian jadi asisten darurat, yang ada gue jijik liatnya! pliss!!" ucap Gilang memohon-mohon pada Rena sebab dia sangat membenci Dian yang notabe-nya adalah penggemar gelap Gilang.
"Ya itu urusan kamu lah, aku nggak mau ikut campur dalam masalah ini, lagi pula jadi asisten juga cape kali Lang, sehari dua hari gapapa, lah ini dua bulan! bisa mati kesibukan gue." Balas Rena menolak sebab dia saja menjadi spesialis anak umum saja sudah sibuk, apa lagi jadi asisten di unit darurat. Bukan Gilang namanya jika menyerah begitu saja, apapun yang terjadi intinya dia nggak mau satu tim dengan Dian.
"Ren, satu bulan jajan gue yang bayar!" Gilang mulai bernegosasi agar Rena setuju, apapun akan dia lakukan demi Rena setuju, tapi bukan Rena juga namanya jika mudah menerima negosasi secepat itu.
"Nggak ah, satu bulan jajan nggak sebanding sama kerja keras aku dua bulan." ucap Rena mulai mengeluarkan jurus negosasi dalam drinya. Gilang tak kehilangan akal.
"Satu bulan gue ganti jadwal piket malam!" tawar Gilang lagi semakin menarik, tapi tetap saja Rana tak mudah untuk setuju.
"Nggak! jadwal malam aku agak ringan bulan depan," balas Rena menolak membuat Gilang semakin gila memberi penawaran.
"Ambil mobil gue satu minggu lalu, lo bawa pas udah hari pertama operasi!" tarik ulur Rena berhasil disini, GIlang menghela nafas panjang karena harus rela mengorbankan mobil barunya yang baru satu minggu di pake, tapi tak apa demi Dian ngga jadi asisten gue rela korban apapun, sekalipun nyawa gue, batin Gilang sedikit tak rela jika harus kehilangan mobil barunya.
"Oke, deal aku ambil hari pertama operasi, aku hubungi dulu pak kepala pimpinan!" balas Rena mengiyakan setelah berhasil mendapatkan mobil baru Gilang, bukannya apa-apa tapi jika Gilang memohon dengan seribu permohonan pasti Rena setuju, hanya saja Gilang terlalu cepat tawar menawar hanya demi menjauh dari Dian si penggemar gelapnya selama iya bekerja di rumah sakit ini. Terkadang manusia memang terlalu berusaha susah payah hanya demi satu keinginan saja, yanng kadang sampai terlalu memaksa.